Can you see in the dark?

Senin, 08 Januari 2018

RPS Penelitian Pendidikan



Rencana Pembelajaran Sementara
Mata Kuliah
Penelitian Pendidikan
Dosen Pengampu : Dr. Yuliati, M.Pd


Yuni Ayuning Suri (15010044037)
PLB 2015 / Kelas A

PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017

PERTEMUAN 1-4
Inti dari RPS pertemuan 1 sampai dengan ke-4 ini materi yang di pelajari sama yaitu tentang Metode Ilmiah, Hakikat Penelitian dan Metodologi Penelitian
Ø Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah prosedur atau lagkah-langkah dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Jadi metode ilmiah  adalah  cara  sistematis  untuk  menyususn  ilmu  pengetahuan. Metode ilmiah juga disebut metode penelitian sedangkan  teknik  penelitian  adalah  cara  untuk  melaksanakan  metode penelitian.  Metode  penelitian  biasanya  mengacu  pada  bentuk-bentuk penelitian. 
Dalam penerapannya peran metode ilmiah dalam pengembangan ilmu yaitu yang mana suatu  ilmu  pengetahuan  tidak  dapat  berkembang  dengan  sendirinya  akan  tetapi dapat  berkembang  jika  adanya  suatu  metode  ilmiah.  Pada  dasarnya  metode  ilmiah merupakan upaya untuk merumuskan permasalahan,    mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan jalan menemukan fakta-fakta  secara  ilmiah  tanpa  adanya  rekayasa  di  dalamnya dan memberikan penafsirannya yang benar, serta dengan adanya   metode ilmiah yang dilakukan bertujuan untuk memperbarui ilmu pengetahuan   yang sudah ada. Metode ilmiah   sendiri   dalam memperoleh kebenaran dala ilmu pengetahuan dibangun diatas teori tertentu.
Pendapat  Cholid  Narbuko  dan  Abu  Achmadi  (2007)  berpendapat  bahwa  ilmu pengetahuan sendiri memiliki tiga sifat utama yaitu :
1. Sikap ilmiah 
2. Metode ilmiah 
3. Tersusun secara sistematis dan runtut
Sikap  ilmiah  menuntut  orang  untuk  berfikir  dengan  sikap  tertentu.  Dari  sikap tersebut  orang  dituntut  dengan  cara  tertentu  untuk menghasilkan  ilmu  pengetahuan. Selanjutnya cara tertentu itu disebut metode ilmiah. Jadi dengan sikap ilmiah dan metode ilmiah diharapkan dapat menyusun ilmu pengetahuan secara sistematik dan runtun.  Secara  garis besar keduanya mempunyai peran atau tugas  yang identik, tugas-tugastersebut antara lain :
    Menyandra ( diproposal )
    Menggambarkan secara jelas daan cermat, hal – hal yang dipersoalkan.
    Menerangkan ( ekspansi )
Menerangkan secara detil kondisi – kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa.
    Menyusun teori 
Mencari dan merumuskan hukum – hukum, tata hubungan antara peristiwa yang satu dengan yang lain.
    Ramalan ( prediksi )
Membuat prediksi ( ramalan ), estimasi ( taksiran ) dan proyeksi mengenai peristiwa yang bakal muncul bila keadaan itu didiamkan.
    Pengendalian ( kontrol )
Melakukan  tindakan    tindakan  guna  mengatasi  keadaan  atau  gejala  yang  bakal muncul.
Hasil  dari  suatu  metode  ilmiah  dalam  pengembangan  ilmu  sendiri  mempunyai manfaat diantaranya  yang pertama dapat  dijadikan  peta  yang  menggambarkan  tentang  keadaan  suatu  obyek  yang sekaligus  melukiskan tentang kemampuan sumber daya, kemungkinan–kemungkinan yang ditemukan di dalam melaksanakan sesuatu. Yang kedua dapat  dijadikan  sebagai  sarana  diagnosisdalam  mencari  sebab  musabah  kegagalan, sehingga dapat dengan mudah dicari upaya untuk menanggulanginya. Yang ketiga dapat  dijadikan  sarana  untuk  menyusun  kebijaksanaan dalam  menyusun strategi pengembangan selanjutnya.


Ø  Hakekat Penelitian
Menurut Yoseph dan Yoseph, 1979, penelitian adalah art and science guna mencari jawaban terhadap suatu permasalahan. Karena seni dan ilmiah maka penelitian juga akan memberikan ruang-ruang yang akan mengakomodasi adanya perbedaan tentang apa yang dimaksud dengan penelitian. Pengertian Penelitian menurut Kerlinger (1986) adalah proses penemuan yang mempunyai karakteristik sistematis, terkontrol, empiris, dan mendasarkan pada teori dan hipotesis atau jawaban sementara.
Kamus besar Bahasa Indonesia (2001), Penelitian adalah Pemeriksaan yang teliti. Kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum.
Menurut Fellin, Tripodi & Meyer (1996), Penelitian adalah suatu cara sistematik untuk maksud meningkatkan, memodifikasi dan mengembangkan pengetahuan yang dapat di sampaikan (dikomunikasikan) dan diuji (diverifikasi) oleh peneliti lain.
Menurut Kerlinger (1986: 17-18), Penelitian adalah investigasi yang sistematis, terkontrol, empiris dan kritis dari suatu proposisihipotesis mengenai hubungan tertentu antarfenomena.
Hakekat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong penelitian untuk melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yan berbeda, diantaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masing-masing. Motivasi dan tujun penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.

Ø  Metodologi Penelitian
 Metodologi penelitian berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi, metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara saksama untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya.
Dan dapat disimpulkan bahwa metodologi penelitian adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membicarakan/mempersoalkan mengenai cara-cara melaksanakan penelitian sampai menyusun laporannya berdasarkan fakta-fakta atau gejala-gejala secara ilmiah. Lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang mempelajari cara-cara melakukan pengamatan dengan pemikiran yang tepat secara terpadu melalui tahapan-tahapan yang disusun secara ilmiah untuk mencari, menyusun serta menganalisis dan menyimpulkan data-data, sehingga dapat dipergunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran sesuatu pengetahuan berdasarkan bimbingan Tuhan.
Untuk perkembangan Metodologi Penelitian Ilmu pengetahuan memiliki sifat utama yaitu tersusun secara sistematik dan runtut dengan menggunakan metode ilmiah. Karenanya sementara orang menganggap perlunya memiliki sikap ilmiah untuk menyusun ilmu pengetahuan tersebut atau dengan kata lain ilmu pengetahuan memiliki tiga sifat utama tersebut, yaitu :
1) Sikap ilmiah
2) Metode ilmiah
3) Tersusun secara sistematik dan runtut
Sikap ilmiah menuntun orang untuk berpikir dengan sikap tertentu. Dari sikap tersebut orang dituntun dengan cara tertentu untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Selanjutnya cara tertentu itu disebut metode ilmiah. Jadi dengan sikap ilmiah dan metode ilmiah diharapkan dapat disusun ilmu pengetahuan dengan sistematik dan runtut. Periode perkembangan metodologi penelitian yang dikemukakan oleh Rummel yang dikutip oleh Prof. Sutrisno Hadi MA digolongkan sebagai berikut :
·         Periode Trial and Error
Dalam periode ini diisyaratkan bahwa ilmu pengetahuan masih dalam keadaan embrional. Dalam periode ini orang menyusun ilmu pengetahuan dengan cara mencoba coba berulang kali sampai dijumpia suatu pemecahan masalah yang diangap memuaskan.
·           Periode Authority and Tradition
Pada periode ini kebenaran ilmu pengetahuan didasarkan atas pendapat para pemimpin atau penguasa waktu itu. Pendapat-pendapat itu dijadikan ajaran yang harus diikuti begitu saja oleh rakyat banyak dan mereka harus menerima bahwa ajaran tersebut benar. Di samping pendapat para penguasa atau pemimpin, tradisi dalam kehidupan manusia memang memegang peranan yang sangat penting di masa lampau dan menentang tradisi merupakan hal yang tabu. Karenanya tradisi dipercaya sebagai hal yang benar, sehingga tradisi menguasai cara berpikir dan cara kerja manusia berabad-abad lamanya. Sebagai contoh,sampai pertengahan abad 20, petani Jawa masih memegang tradsisi bahwa mereka akan segera turun ke aswaah apabila telah melihat bintang biduk (gubuk penceng) sebagai pertanda mulai turun hujan.
·         Periode Speculation and Argumentation
Pada periode ini ajaran atau doktrin para pemimpin atau penguasa serta tradisi yang bercakal dalam kehidupan masyrakat mulai menggunakan dialektika untuk mengadakan diskusi dalam memecahkan masalah untuk memperoleh kebenaran. Dengan kata lain, masyarakat mulai membentuk kelompok-kelompok spekulasi untuk memperoleh kebenaran dan menggunakan argumen-argumen. Masing-masing kelompok membuat spekulasi dan argumen yang berbeda dalam memperoleh kebenran. Oleh sebab itu, pada saat ini orang terlalu mendewakan akal dan kepandaian silat lidahnya, yang kadang-kadang dibuat-buta supaya tampak masuk akal.
·         Periode Hypothesis and Experimentation
Pada periode ini orang mulai mencari rangkaian tata cara untuk mnerangkan suatu kejadian. Mula-mula membuat dugaan-dugaan (hipotesis-hipotesis), kemudian mengumpulkan fakta-fakta kemudian dianalisis dan diolah, hingga akhirnya ditarik kesimpulan. Fakta-fakta tersebut diperoleh dengan eksperimen atau observasi-observasi serta dokumen-dokumen.(Narbuko, Drs. Cholid dan Drs. H. Abu Achmadi. 2012. Metodologi Penelitian. Jakarta : Bumi Aksara.)

Untuk desain penelitian atau rancangan penelitian pada dasarnya adalah strategi untuk memperoleh data yang dipergunakan untuk menguji hipotesa meliputi penentuan pemilihan subjek, dari mana informais atau data kan diperoleh, teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data, prosedur yang ditempuh untuk pengumpulan serta perlakuan yang kana diselenggarakan (khusus untuk penelitin eksperimental). Desain penelitian ditetapkan dengan mengacu pada hipotesa yang telah dibangun. Pemilihan desain yang tepat sangat diperlukan untuk menjamin pembuktian hipotesa secara tepat pula. Jenis-jenis rancangan penelitian dikelompokkan dengan mengacu pada Arikunto dalam bukunya “Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik”. Pengelompokkan desain penelitian berdasarkan sudut pandang untuk melakukan penelitian, jenis-jenis desain penelitian dikelompokkan sebagai berikut :
1.      Menurut teknik pengambilan sampe
a)      Penelitian terhadap populasi
b)      Penelitian terhadap sampel
c)      Studi kasus
2. Menurut timbulnya variabel
a.       Penelitian non eksperimental
§  Penelitian deskriptif
ü  Survei
ü  Studi kasus
ü  Penelitian kausal komparatif :
*      Penelitian Retrospektif (Ex post facto)
*      Penelitian Prospektif (Cohort)
*      Penelitian korelasional
*      Penelitian historis
*      Penelitian filsafat
b.      Penelitian eksperimental
§  Penelitian pra eksperimental
ü  Pasca tes satu kelompok
ü  Pra tes dan pasca tes satu kelompok
§  Penelitian eksperimental semu (Quasi Experimental Study)
ü  Pasca tes dengan kelompok yang tidak diacak
ü  Pra tes dan pasca tes yang tidak diacak
§  Penelitian eksperimental sungguhan
ü  Pasca tes dengan kelompok yang diacak
ü  Pra tes dan pasca tes dengan kelompok yang diacak
ü  Desain Solomon
§   Penelitian klinik (Clinical Trial)
§  Riset Operasi (Operations Research)



PERTEMUAN 5 dan 6
Dalam materi RPS pertemuan ke-5 dan ke-6 ini mempelajari tentang kajian teoritis dan empiris dalam penelitian.
Ø  Kajian Teoritis Dalam Penelitian
Kajian teori atau kajian pustaka mempunyai peranan penting dalam penelitian apalagi dalam penelitian kuantitatif. Dalam pengertiannya sendiri teori merupakan seperangkat konstruk (konsep), definisi dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Dengan adanya kajian pustaka peneliti dapat menjustifikasi adanya masalah penelitian dan mengidentifikasikan arah penelitian. Justifikasi penelitian berarti peneliti menggunakan kepustakaan untuk menunjukkan pentingnya permasalahan penelitian untuk diteliti.
Sedangkan untuk mengidentifikasi arah penelitian berarti peneliti menelaah atau mengkaji kepustakaan dan mengidentifikasi variabel-variabel kunci yang layak dan berhubungan serta memiliki kecenderungan potensil yang perlu diuji dalam penelitian.
Manfaat yang diperoleh dari menggunakan kajian literatur menurut Iskandar; 2008 adalah :
1)    Menggali teori-teori dasar dan konsep yang telah dikemukakan oleh para ahli terdahulu tentang relevan dengan variabel-variabel yang diteliti.
2)    Mengikuti perkembangan dalam penelitian dari bidang yang diteliti.
3)    Memanfaatkan data sekunder
4)    Menghindarkan duplikasi
5)    Penelusuran dan penelaahan literatur yang relevan dengan masalah penelitian untuk mengungkapkan buah pikiran secara sistematis, kritis dan analitis
Serta untuk fungsi dari kajian teoritis yaitu sebagai berikut :
1.     Literatur meningkatkan pemhaman peneliti tentang teori-teori yang relevan terhadap masalah yang diteliti.
2.     Kajian literatur tentang teori berfungsi untuk menjelaskan, membedakan, meramal dan mengendalikan suatu fenomena-fenomena atau suatu gejala-gejala yang berhubungan dengan masalah penelitian.
3.     Kajian literatur dapat menimbulkan gagasan dan mendasari penelitian yang akan akan dilakukan oleh peneliti.
4.     Kajian literatur menguraikan teori-teori temuan peneliti terdahulu dan bahan penelitian lainnya yang diperoleh dari acuan, yang dijadikan landasan untuk melakukan penelitian yang diusulkan.
5.     Kajian literatur membantu peneliti untuk menjelaskan latar belakang masalah yang diteliti.
6.     Kajian literatur meningkatkan keyakinan dan motivasi bagi peneliti. Penguasaan  teori yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, dapat mendukung keyakinan akan pengetahuan peneliti untuk termotivasi melakukan penelitian sampai menemukan hasil penelitian.
7.     Kajian ini meningkatkan kemampuan pemahaman peneliti secara mendalam dalam disiplin ilmu yang diteliti.
8.     Kajian ini dpat peneliti gunakan untuk menyusun kerangka konseptul yang digunakan dalam penelitian.
9.     Kajian ini mengaju kepada daftar pustaka.
Ø  Kajian Empiris Dalam Penelitian
Pengertian empiris sendiri yaitu suatu keadaan yang berdasarkan pada kejadian nyata yang pernah dialami. Kejadian tersebut bisa didapatkan melalui penelitian, observasi ataupun eksperimen. Di dalam empiris, pengalaman (kejadian nyata) menjadi dasar yang sangat mutlak dan peran akal sangatlah sedikit. Bila ada pernyataab, data itu empiris, berarti data tersebut didasarkan pada penelitian ataupun eksperimen yang telah dilakukan.
Fokus utamannya yaitu informasi harus didapat dari pengamatan  yang terjadi didunia nyata, dan pengamatan itu harus disajikan berupa data. Data pada penelitian empiris terdapat dua jenis yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif disajikan dengan angka, sedangkan kualitatif dijabarkan dengan kalimat.
Dalam pembahasan hasil penelitian perlu juga dilakukan dengan cara merujuk pada kajian empiris yang mana telah dilakukan oleh peneliti terdahulu. Dan apabila hasil penelitian konsisten dengan teori yang ada atau hipotesis penelitian terbukti, pembahasan dapat diarahkan untuk memberikan rujukan penelitian terdahulu yang sesuai dengan hasil penelitian. Serta dalam hal ini peneliti biasanya menekankan bahwa hasil penelitiannya telah sesuai atau mendukung hasil-hasil penelitian terdahulu. Namun jika hasil penelitian tidak konsisten dengan teori atau hipotesis tidak terbukti maka diskusi pada bagian ini dapat diarahkan untuk menemukan kajian empirik yang bisa menjadi argumentasi yang mendukung haasil penelitian tersebut.



PERTEMUAN  7 dan 8
Dalam materi RPS pertemuan ke-7 dan ke-8 ini mempelajari tentang kajian variabel dalam penelitian.
A.    Pengertian Variabel Penelitian
Variabel merupakan sesuatu yang menjadi objek pengamatan penelitian, sering juga disebut sebagai faktor yang berperan dalam penelitian atau gejala yang akan diteliti. Menurut Kerlinger (2006: 49), variabel adalah konstruk atau sifat yang akan dipelajari yang mempunyai nilai yang bervariasi. Kerlinger juga mengatakan bahwa variabel adalah simbol/lambang yang padanya kita letakan sebarang nilai atau bilangan. Menurut Sugiyono (2009: 60), variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Selanjutnya menurut Suharsimi Arikunto (1998: 99), variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi perhatian suatu titik perhatian suatu penelitian. Bertolak dari pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut dan sifat atau nilai orang, faktor, perlakuan terhadap obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
B.     Jenis-Jenis Variabel Penelitian 
Variabel dapat dikelompokkan menurut beragam cara, namun terdapat tiga jenis tiga jenis pengelompokkan variabel yang sangat penting dan mendapatkan penekanan. Karlinger, (2006: 58) antara lain:
1.      Variabel bebas dan variabel terikat
 Variabel bebas sering disebut independent, variabel stimulus, prediktor, antecedent. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Variabel terikat atau dependen atau disebut variabel output, kriteria, konsekuen, adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat tidak dimanipulasi, melainkan diamati variasinya sebagai hasil yang dipradugakan berasal dari variabel bebas. Biasanya variabel terikat adalah kondisi yang hendak kita jelaskan. Dalam eksperimen-eksperimen, variabel bebas adalah variabel yang dimanipulasikan (“dimainkan”) oleh pembuat eksperimen. Misalnya, manakala peneliti di bidang pendidikan mengkaji akibat dari berbagai metode pengajaran, peneliti dapat memanipulasi metode sebagai (variabel bebasnya) dengan mengggunakan berbagai metode.
 Dalam penelitian yang bersifat tidak eksperimental, yang dijadikan variabel bebas ialah yang “secara logis” menimbulkan akibat tertentu terhadap suatu variabel terikat. Contohnya, dalam penelitian tentang merokok dan kanker paru-paru, merokok (yang memang telah dilakukan oleh banyak subyek) merupakan variable bebas, sementara kangker paru-paru merupakan akibat dari merokok atau sebagai variabel terikat. Jadi variabel bebas adalah variabel penyebab, sedangkan variabel terikat yang menjadi akibatnya.
 Dalam bidang pendidikan variabel terikat yang paling lazim adalah, misalnya prestasi, atau “hasil belajar”. Untuk mengetahui prestasi belajar peserta didik, peneliti memiliki sejumlah besar kemungkinan variabel bebasnya, antara lain: kecerdasan, kelas sosial, metode pembelajaran, tipe kepribadian, tipe motivasi (imbalan/hadiah dan hukuman), sikap terhadap sekolah, suasana kelas dan seterusnya. Untuk lebih mudah dipahami berikut ini ditampilkan skema mengenai penjelasan di atas. 
2.      Variabel aktif dan variabel atribut 
 Variabel aktif adalah variabel bebas yang dimanipulasi. Sembarang variabel yang dimanipulasikan merupakan variabel aktif. Misalnya peneliti memberikan penguatan positif untuk jenis kelakuan tertentu dan melakukan hal yang berbeda terhadap kelompok lain atau memberikan instruksi yang berlainan pada kedua kelompok tersebut atau peneliti menggunakan metode pembelajaran yang berbeda, atau memberikan imbalan kepada subyek-subyek dalam kelompok lain, atau menciptakan kecemasan dengan instruksi-instruksi yang meresahkan, maka peneliti secara aktif memanipulasi variabel metode, penguatan, dan kecemasan.
 Variabel atribut adalah yang tidak dapat dimanipulasi atau kata lain variabel yang sudah melekat dan merupakan ciri dari subyek penelitian. Misalnya: Intelegensi, bakat jenis kelamin, status sosial-ekonomi, sikap, daerah geografis suatu wilayah, dan seterusnya. Ketika kita melakukan penelitian atau kajian subyek-subyek penelitian kita sudah membawa variabel-variabel (atribut-atribut) itu. Yang membentuk individu atau subyek penelitian tersebut adalah lingkungan, keturunan, dan situasi-situasi lainnya.
 Perbedaan variabel aktif dan variabel atribut ini bersifat umum. Akan tetapi variabel atribut dapat pula menjadi variabel aktif. Ciri ini memungkinkan untuk penelitian relasi “yang sama” dengan cara berbeda. Misalnya kita dapat mengukur kecemasan subyek. Jelas bahwa dalam hal ini kecemasan merupakan atribut. Akan tetapi kita dapat pula memenipulasi kecemasan. Kita dapat menumbuhkan kecemasan dengan tingkat yang berbeda, dengan mengatakan kepada subyek-subyek yang termasuk dalam kelompok eksperimen (kelompok yang diteliti) bahwa yang harus mereka kerjakan sulit, maka tingkat kecerdasan mereka akan diukur dan masa depan mereka tergantung pada skor tes itu. Sedangkan kepada subyek lainya dipesan bahwa kerja sebaik-baiknya tetapi santai saja; hasil tes tidak terlalu penting dan sama sekali tidak mempengaruhi hari depan mereka. 
3.      Variabel kontinu dan variabel kategori 
 Sebuah variabel kontinu memiliki sehimpunan harga yang teratur dalam suatu cakupan (range) tertentu. Arti defenisi ini ialah:
·         Harga-harga suatu variabel kontinu mencerminkan setidaknya suatu urutan peringkat. Harga yang lebih besar untuk variabel itu berarti terdapatnya lebih banyak sifat tertentu (sifat yang dikaji) yang dikandungnya, dibandingkan dengan variabel dengan harga yang lebih murah. Misalnya, harga-harga yang diperoleh dari suatu skala untuk mengukur ketergantungan (depedensi) mengungkapkan ketergantungan dengan kadar yang berbeda-beda, yakni mulai dari tinggi, menengah/sedang, sampai rendah. 
·         Ukuran-ukuran kontinu dalam penggunaan nyata termuat dalam suatu range, dan tiap individu mendapatkan skor yang ada dalam range tersebut. Misalnya suatu skala untuk mengukur ketergantungan mungkin memiliki range dari 1 hingga 7. 
·         Secara teoritis terdapat himpunan harga atau nilai yang tak berhingga banyaknya dalam range itu. Demikianlah maka skor seseorang individu mungkin sekali adalah 4,72 dan bukan 4 atau 5. 
Variabel kategori variabel yang berkaitan dengan suatu jenis pengukuran yang dinamakan pengukuran nominal. Dalam pengukuran nominal terdapat dua himpunan bagian (subset)  atau lebih yang merupakan bagian dari himpunan (set) obyek yang diukur. Individu-individu dikategorisasikan berdasarkan pemilikan ciri-ciri tertentu yang merupakan penentu suatu himpunan bagian. Jadi persoalah variabel ini adalah antara “ya” atau “tidak”. Contoh paling mudah adalah variabel kategori dikotomis: jenis kelamin, republik-demokrat, kulit putih-kulit hitam, dan sebagainya. Politomi, yakni pilihan (partisi) cukup lazim terdapat khususnya dalam sosiologi dan ilmu ekonomi: anutan agama, pendidikan, kewarganegaraan, pilihan pekerjaan, dan seterusnya. 
Syarat-syarat yang dituntut variabel kategori dan variabel nominal, adalah semua anggota himpunan bagain dipandang sama. Misalnya, kalau variabel itu adalah anutan agama, semua penganut protestan adalah sama; semua penganut katolik adalah sama; dan semua penganut “lain-lain” pun sama. Jika seorang agama katolik, dia dimasukan dalam kategori “katolik” dan diberi angka (nomor) “1” dalam katergori tersebut. Variabel ini bersifat “demokratis” artinya, tidak mengenal tatanan peringkat atau ungkapan “lebih besar” maupun “lebih kecil” daripada di antara kategorinya. Semua anggota kategori memiliki nilai atau harga sama, yakni: Ungkapan variabel kualitatif kadang-kadang digunakan untuk menunjuk variabel-variabel kategori ini, khusunya dikotomi, barangkali juga untuk mengkontraskanya dengan variabel kuatitatif (variabel kontinu).
Penggunaan ungkapan itu mencerminkan adanya gagasan yang agak menyimpang mengenai hakikat variabel. Variabel selalu dapat dikuantisasikan; jika tidak demikian, tentunya bukanlah variabel.  Sebelummnya dijelaskan bahwa konstruk adalah hal-hal yang tak teramati (non observable) sedangkan defenisi variabel secara operasional adalah hal-hal yang teramati (observable). Kerlinger (2006: 66) menambahkan bahwa hal yang dimaksud adalah “variabel laten”. Variabel laten adalah suatu utuhan obyek (entity) tak teramati yang diduga melandasi variabel amatan. Peneliti cenderung lebih berminat pada variabel-variabel laten, daripada relasi antara variabel-variabel amatan; sebab peneliti berupaya menjelaskan fenomena dan relasinya.  Istilah-istilah lain untuk mengungkapkan gagasan yang kira-kira sama misalnya konstruk disebut dengan variabel intervensi (intervening variabel). Variabel intervensi adalah istilah yang dibuat untuk menunjuk pada proses-proses psikologis yang internal dan tak teramati, yang pada gilirannya mengacu pada perilaku. suatu variabel intervensi ini “hanya ada di otak peneliti”  tidak dapat dilihat, didengar, atau diraba; disimpulkan dari perilaku.
C.     Ciri – ciri KarakteristikVariabel Penelitian
 Dalam sebuah penelitian variabel memiliki tiga ciri khusus, yaitu: memiliki variasi nilai, membedakan satu objek dengan objek yang lainnya dalam satu populasi, dan bisa diukur.
1.              Variabel mimiliki nilai yang bervariasi.
 Dikarenakan variabel membedakan satu objek dengan objek lain dalam satu populasi , maka variabel haruslah memiliki nilai yang bervariasi. Misalnya sebagai berikut: dari suatu populasi yang terdiri dari 40 orang mahasiswa, indeks prestasi atau IP hanya akan menjadi variabel bila terdapat variasi nilai dalam IP pada populasi tersebut. Dan sebaliknya, jika dari 40 orang mahasiswa tersebut tidak terdapat variasi nilai dalam IP karena memiliki nilai IP yang sama, maka IP bukan termasuk dalam konsep variabel dari populasi kelompok tersebut. Contoh yang lainnya, dari suatu populasi yang tinggal di suatu daerah tertentu, jenis pekerjaan atau profesi bukanlah merupaka variabel jika seluruh orang dalam populasi itu mempunyai profesi atau pekerjaan yang sama.
2.              Variabel membedakan satu objek dari objek yang lainnya.
 Objek – objek bisa menjadi anggota populasi karena memiliki suatu karakteristik yang sama. Walaupun sama, objek – objek dalam populasi masih bisa dibedakan satu sama lainnya dalam suatu variabel. Contohnya, populasi mahasiswa terdiri dari anggota yang mempunyai satu kesamaan karakterisktik, yaitu mahasiswa. Selain dari kesamaan tersebut, diantara mahasiswa tersebut memiiliki perbedaan dalam hal usia, agama, jenis kelamin, motivasi belajar, cara belajar, prestasi, tempat tinggal, pekerjaan orang tua, bakat, kecerdasa, dan sebagainya. Perbedaan – perbedaan tersebut merupakan variabel dikarenakan memiliki sifat membedakan di antara objek yang ada di dalam populasi mahasiswa tersebut.
3.              Variabel harus bisa diukur.
 Penelitian kuantitatif mengharuskan adanya hasil penelitian yang objektif, terukur dan selalu terbuka untuk diuji. Variabel berbeda dengan konsep, karena konsep belum tentu dapat diukur sedangkan variabel bisa diukur. Variabel adalah operasionalisasi konsep (Bouma, 1993:38). Contohnya sebagai berikut, belajar adalah konsep dan hasil belajar adalah variabel, mahasiswa adalah konsep dan jumlah mahasiswa adalah variabel. Dengan demikian data dari variabel penelitian harus stampak dalam perilaku yang bisa diukur dan diobservasi, misalnya prestasi belajar adalah jumlah jawaban yang benar dihasilkan oleh mahasiswa dalam mengerjakan sebuah tes.
Kegunaan dan Kriteria Variabel Penelitian 
1. Kegunaan Variabel
§  Untuk mempersiapkan alat dan metode pengumpulan data 
§  Untuk mempersiapkan metode analisis/pengolahan data
§  Untuk pengujuian hipotesis 
2. Variabel penelitian yang baik 
§  Relevan dengan tujuan penelitian 
§  Dapat diamati dan dapat diukur
§  Dalam suatu penelitian, variabel perlu diidentifikasi, diklasifikasi, dan didefenisikan secara operasional dengan jelas dan tegas agar tidak menimbulkan kesalahan dalam pengumpulan dan pengolahan data serta dalam pengujian hipotesis

D.    Definisi operasional variabel
 Definisi operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi kepada kita tentang bagaimana caranya mengukur variabel. Definisi operasional adalah semacam petunjuk kepada kita tentang bagimana caranya mengukur suatu variabel. Definisi operasional merupakan informasi ilmiah yang sangat membantu peneliti lain yang ingin melakukan penelitian dengan menggunakan variabel yang sama. Karena berdasarkan informasi itu, ia akan mengetahui bagaimana caranya melakukan pengukuran terhadap variabel yang dibangun berdasarkan konsep yang sama. Dengan demikian ia dapat menentukan apakah tetap menggunakan prosedur pengukuran yang sama atau diperlukan pengukuran yang baru.
Definisi operasional adalah penjelasan definisi dari variabel yang telah dipilih oleh peneliti. Logikanya, boleh jadi, antara peneliti yang satu dengan yang lain bisa beda definisi operasional dalam 1 judul proposal yang sama. DO (Definisi Operasional) boleh merujuk pada kepustakaan.



PERTEMUAN 9 dan 10
Dalam materi RPS pertemuan ke-9 dan ke-10 ini mempelajari tentang kajian desain dan rancangan penelitian.
Ø  Desain Penelitian
Desain penelitian atau rancangan penelitian merupakan suatu rancangan yang dapat menuntun peneliti untuk memperoleh jawaban terhadap petanyaan penelitian. Dalam pengertian yang luas desain penelitian mencangkup pelbagai hal yang dilakukan peneliti, mulai dari identifikasi masalah, rumusan hipotesis, operasionalisasi hipotesis, cara pengumpulan data, hingga analisis data.
Pada hakekatnya desain penelitian merupakan suatu wahana untuk mencapai tujuan penelitian, yang juga berperan sebagai rambu-rambu yang menuntun peneliti dalam seluruh proses penelitian. Dalam gars besarnya, desain penelitian memiliki dua kegunaan yang amat penting dalam suatu proses penelitian, yakni :
1.       Sarana bagi peneliti untuk memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian.
2.       Merupakan alat bagi peneliti untuk mengendalikan atau mengontrol variabel yang berpengaruh dalam suatu penelitian.
Desain penelitian membantu penelitu untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan peneliti yang sahih, objektif, akurat, serta hemat. Desain penelitian harus disusun dan dilaksanakan dengan penuh perhitungan agar dapat memperhatikan bukti empiris yang kuat relevansinya dengan pertanyaan penelitian. Desain yang direncanakan dengan baik sangat membantu peneliti untuk mengandalkan observasi dan intervensi, serta untuk melakukan inferensi atau generalisasi hasil penelitian. Ruang lingkup design penelitian terdiri dari :
Ø Penentuan Judul Penelitian
Penentuan judul penelitian sangat penting karena dapat mengetahui objek penelitian, subjek apa yang akan diteliti, dimana lokasi penelitian, tujuan yang ingin di capai dan sasarannya.
Ø  Penentuan masalah penelitian.
Masalah penelitian itu merupakan pedoman kegiatan penelitian. Dalam penelitian, masalah berperan untuk mengarahkan kegiatan penelitian. Tanpa rumusan masalah, peneliti akan kesulitan dalam pelaksanaan dan penulisan penelitiannya.
Ø  Penentuan tujuan penelitian.
Tujuan penelitian dapat mengarahkan peneliti untuk mencapai sasaran dan target yang ingin dicapai. Tujuan penelitian terdiri dari tujuan utam dan tujuan sekunder. Tujuan utama sangat erat kaitannya dengan judul dan masalah penelitian, sedangkan tujuan sekunder sangat tergantung pada keinginan pribadi seorang peneliti, dengan kata lain lebih bersifat subjektif bagi peneliti.
Ø  Penentuan hipotesis
Ø  Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan namun perlu menguji kebenarannya.
Ada beberapa cara untuk merumuskan hipotesis anatara lain yaitu sebagai berikut:
1)      Hipotesis yang baik harus searah dan mendukung Judul, Masalah, dan Tujuan Penelitian
2)      Hipotesis harus dapat diuji dengan data empiris
3)      Hipotesis harus bersifat spesifik
·         Penentuan populasi dan sampel penelitian
Yang harus diperhatikan dalam menentukan sampel penelitian, adalah :
o   Tentukan populasi di daerah penelitian.
o   Tentukan jumlah sampel yang akan diteliti
o   Tentukan metode pengambilan sampel
·         Penentuan metode dan teknik pengumpulan data
Metode pengumpulan data terdiri atas beberapa cara yaitu :
§  Osevasi
§  Wawancara
§  Angket
§  Pengumpulan data skunder
§  Pengumpulan data melalui penginderaan jauh
·         Penentuan cara mengolah dan menganalisis data.

Ø  Desain Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif
Penelitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.
Ø  Desain Penelitian Eksperimen
Rancangan penelitian eksperimental dikelompokan menjadi tiga, yakni :
1.      Rancangan-rancangan praeksperimen (pre experimental designs)
a)      Posttest Only Design
b)      Rancangan One Group Pretest Posttest
c)      Perbandingan Kelompok Statis
2.  Rancangan-rancangan eksperimen sungguhan (true experimental designs).
a)      Rancangan Pretest Posttest dengan Kelompok Kontrol
b)      Rancangan Randomized Salomon Four Group
3.  Rancangan Posttest dengan kelompok kontrol
a)      Rancangan-rancangan eksperimen semu (quasi experimental designs).
b)      Rancangan Rangkaian Waktu
c)      Rancangan Rangkaian Waktu dengan Kelompok Pembanding
d)     Rancangan Non Equivalent Control Group
e)      Rancangan Separate Sampel Pretest Posttest
Ø  Rancangan Penelitian
Konsep Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian dalam arti sempit dimaknai sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data penelitian. Dalam arti luas rancangan penelitian meliputi proses perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Pada dasarnya rancangan penelitian merupakan “blueprint” yang menjelaskan setiap prosedur penelitian mulai dari tujuan penelitian sampai dengan analisis data.
Rancangan penelitian dibuat dengan tujuan agar pelaksanaan penelitian dapat dijalankan dengan baik , benar dan lancar. Komponen yang umumnya terdapat dalam rancangan penelitian adalah :
1.      Tujuan penelitian
Tujuan penelitian adalah hasil akhir penelitian itu sendiri. Fungsi tujuan penelitian, di samping untuk mengarahkan proses penelitian, juga dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan penelitian. Tujuan penelitian dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan penelitian (research questions) dan atau juga hipotesis penelitian.
2.      Jenis penelitian yang akan digunakan
Beberapa jenis penelitian yang banyak dipakai dalam ilmu administrasi atau manajemen adalah penelitian deskriptif, korelasional, eksperimental. Penelitian deskriptif bertujuan memberikan gambaran fenomena yang diteliti secara apa adanya, namun lengkap dan rinci. Satu contoh yang banyak dari penelitian deskriptif adalah penilaian sikap atau pendapat dari individual, organisasi, peristiwa, atau prosedur kerja.
3.      Unit analisis atau populasi penelitian
§  Individual, Misalnya ingin mengetahui kepuasan pegawai, maka unit analisisnya adalah individu-individu pegawai.
§  Kelompok, Misalnya ingin mengetahui kinerja antar departemen atau gugus kendali mutu, maka unit analisisnya adalah kelompok.
§  Organisasi, Misalnya ingin mengukur kualitas pelayanan kantor X, maka unit analisisnya adalah organisasi.
§  Benda, Misalnya menilai kualitas susu bubuk untuk bayi, maka unit analisis- nya adalah produk, berupa susu bayi.
4.      Rentang waktu dan tempat penelitian dilakukan
§  One shot or Cross section studies, data dikumpulkan hanya sekali.
§  Longitudinal studies, data dikumpulkan dalam beberapa periode waktu tertentu.     
5.      Teknik pengambilan sampel
Secara umum ada dua teknik, yaitu :
     Sampling Probabilistik (Acak)
     Simple Random Sampling
     Stratified Random Sampling
     Area Sampling
     Cluster Sampling
     Systematic Sampling
     - Sampling Non Probabilistik (Non-Acak)
     Accidental Sampling
     Convienience Sampling
     Snow-Ball Sampling
     Purposive Sampling
6.      Teknik pengumpulan data
Beberapa teknik pengumpulan data, yaitu :
     Wawancara
     Kuisioner
     Observasi
     Studi Dokumentasi
7.      Definisi operasional variabel penelitian
Definisi operasional variabel adalah upaya untuk mengurangi keabstrakan konsep atau variabel penelitian, sehingga bisa dilakukan pengukuran. Beberapa peneliti menggunakan istilah indikator. Misalnya, untuk mengukur disiplin pegawai, maka dihitung frekuensi ketepatan masuk kerja, kepatuhan pada peraturan, dlsb. Untuk mengetahui produktivitas, dihitung perbandingan antara hasil herja dengan waktu kerja. Bagi penelitian kuantitatif, langkah ini mutlak dilakukan.

8.      Pengukuran
Jenis skala pengukuran untuk setiap variabel penelitian perlu diketahui dengan benar. Hal ini berguna untuk menetapkan rumus atau perhitungan- perhitungan statistik. Misalnya, untuk variabel yang berskala nominal tidak mungkin dihitung rata-ratanya. Skala pengukuran yang ada adalah nominal, ordinal, interval, dan rasio.
9.      Teknik analisis data.
Sebelum data dianalisis, diolah terlebih dahulu. Maka dikenal proses editing, coding, master table, dan lain-lainnya. Analisis data mencakup kegiatan mengukur reliabilitas dan validitas, mean, deviasi standar, korelasi, distribusi frekuensi, uji hipotesis, dan lain sebagainya.
10.  Instrumen pencarian data.
Ada beberapa alat yang dikenal sebagai alat pengambil data dalam penelitian sosial / bisnis. Alat-alat tersebut mencakup wawancara, kuesioner atau angket, observasi, dan studi dokumentasi
 


PERTEMUAN 11-13
Dalam materi RPS pertemuan ke-11 sampai ke-13 ini mempelajari tentang metode ilmiah, metodologi penelitian, dan proposal penelitian.
Ø Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah prosedur atau lagkah-langkah dalam mendapatkan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Jadi metode ilmiah  adalah  cara  sistematis  untuk  menyususn  ilmu  pengetahuan. Metode ilmiah juga disebut metode penelitian sedangkan  teknik  penelitian  adalah  cara  untuk  melaksanakan  metode penelitian.  Metode  penelitian  biasanya  mengacu  pada  bentuk-bentuk penelitian. 
Pada  dasarnya  metode  ilmiah merupakan upaya untuk merumuskan permasalahan,    mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan jalan menemukan fakta-fakta  secara  ilmiah  tanpa  adanya  rekayasa  di  dalamnya dan memberikan penafsirannya yang benar, serta dengan adanya   metode ilmiah yang dilakukan bertujuan untuk memperbarui ilmu pengetahuan   yang sudah ada. Metode ilmiah   sendiri   dalam memperoleh kebenaran dala ilmu pengetahuan dibangun diatas teori tertentu.
Hasil  dari  suatu  metode  ilmiah  dalam  pengembangan  ilmu  sendiri  mempunyai manfaat diantaranya  yang pertama dapat  dijadikan  peta  yang  menggambarkan  tentang  keadaan  suatu  obyek  yang sekaligus  melukiskan tentang kemampuan sumber daya, kemungkinan–kemungkinan yang ditemukan di dalam melaksanakan sesuatu.
Ø  Metodologi Penelitian
 Metodologi penelitian berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi, metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara saksama untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya.
Dan dapat disimpulkan bahwa metodologi penelitian adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membicarakan/mempersoalkan mengenai cara-cara melaksanakan penelitian sampai menyusun laporannya berdasarkan fakta-fakta atau gejala-gejala secara ilmiah. Lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang mempelajari cara-cara melakukan pengamatan dengan pemikiran yang tepat secara terpadu melalui tahapan-tahapan yang disusun secara ilmiah untuk mencari, menyusun serta menganalisis dan menyimpulkan data-data, sehingga dapat dipergunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran sesuatu pengetahuan berdasarkan bimbingan Tuhan.
Untuk perkembangan Metodologi Penelitian Ilmu pengetahuan memiliki sifat utama yaitu tersusun secara sistematik dan runtut dengan menggunakan metode ilmiah.
Ø  Proposal Penelitian
Sebuah proposal disusun dengan alur sebagai berikut :
MASALAH ---> RANCANGAN PENELITIAN ---> PENELITIAN
 Pengertian Ilmiah pada proposal penelitian adalah segala sesuatu yang didasarkan pada ilmu pengetahuan  atau memenuhi kaidah atau syarat keilmuan. Segala sesuatu yang mengikuti kaidah keilmuan disebut ilmiah sehingga nantinya ada istilah penelitian ilmiah, metode ilmiah, karya tulis ilmiah, dan lain sebagainya. Karya ilmiah adalah karya tulisan yang berisi hasil pengamatan, dan penelitian pada bidang tertentu yang isinya mengungkap fakta sehingga dapat dibuktikan kebenarannya, dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dibuktikan secara ilmiah yang disusun secara sistematis sesuai dengan metode ilmiah. Pengertian Sistematis pada proposal penelitian adalah berpikir dan berbuat secara bersistem, berurutan, tidak tumpang tindih. Definisi sistematis adalah suatu usaha untuk menguraikan masalah, merumuskan suatu hal dalam hal konteks hubungan yang logis dan teratur sehingga akan membentuk sistem secara menyeluruh, utuh dan terpadu sehingga mampu menjelaskan berbagai rangkaian sebab akibat yang terkait pada objek tertentu. Pengertian Logis pada proposal penelitian adalah segala sesuatu yang dapat diterima oleh akal manusia, sesuai dengan logika dan benar menurut penalaran.
§   Tiga langkah dalam penelitian
a)      Penyusunan Proposal Penelitian 
b)      Pelaksanaan Penelitian
c)      Penulisan Laporan Penelitian
§  Kerangka proposal penelitian
Proposal Penelitian dibagi dalam 3 bab, dan laporan hasil penelitian ditulis dalam dua bab berikutnya.
1)      BAB I. Pendahuluan
*      Latar Belakang
Munculnya masalah karena adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, cita-cita dan realita, rencana dan pelaksanaan. Pada bagian Latar Belakang ini memberikan rasional dan alasan logis mengapa masalah tersebut menarik untuk diteliti, menarik perhatian peneliti dan tidak menimbulkan masalah sosial nantinya.
*      Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah merupakan bagian dari penyusunan proposal penelitian yang memuat kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Bagian ini juga menampilkan faktor-faktor apa saja yang memiliki kaitan dengan masalah tersebut. Memilah-milah masalah, sehingga masalah akan menjadi kecil cakupannya. Terdapat masalah yang paling esensial pada koper itu lagi..
*      Pembatasan Masalah
Masalah-masalah dalam penelitian agar tidak bercabang kemana-mana maka masalah tersebut perlu dibatasi dengan kemampuan peneliti.

*      Perumusan Masalah
Merupakan pertanyaan yang harus dicari jawabannya melalui penelitian dan rumusan masalah harus dirumuskan secara spesifik dan mendetail. Perumusan masalah selalu dalam kalimat tanya. Penelitian juga tidak boleh terlalu luas, tidak terlalu banyak ataupun sudah diteliti oleh banyak orang. Perumusan masalah ini selalu dinyatakan dengan kalimat tanya.
*      Tujuan Penelitian
Penyusunan Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jawaban-jawaban atas masalah dalam penelitian. Harus ada hubungan yang jelas dan logis antara tujuan penelitian dengan rumusan permasalahan. Tujuan Penelitian selalu dinyatakan dengan kalimat deklaratif.
*      Kegunaan / Manfaat Penelitian
Kegunaan praktis dari sebuah penelitian adalah untuk menjawab masalah-masalah mikro maupun makro yang dimunculkan di dalam identifikasi maslah, pembatasan masalah sampai perumusan masalah, atau tujuan lain adalah untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
2)      BAB. II Kajian Pustaka
*      Deproposal Teori
Penyusunan deproposal teori ini bertujuan untuk mencari jawaban masalah. Pada bagian ini penulis harus menggunakan sumber acuan umum maupun khusus berupa literatur dari buku-buku, ensiklopedia, jurnal-jurnal, karya tulis ilmiah dan lain sebagainya. Dari sumber acuan tersebut, maka penulis akan mendapatkan teori-teori dasar dan konsep-konsep dasar, yang kemudian akan dijabarkan dan dianalisis melalui penalaran deduktif.
*      Penelitian yang Relevan
Pada bagian ini peneliti menggunakan sumber acuan khusus dari penelitian-penelitian terdahulu yang terdapat pada jurnal, proposal, buletin, dan yang lainnya. Maka  terkumpullah hasil-hasil penelitian terdahulu. Dari masing-masing penemuan tersebut, maka dilakukan pemaduan atau sintesis melalui penalaran induktif.
*      Kerangka Teori
Kerangka teori atau kerangka berfikir menampilkan gambaran pola hubungan antara masalah / variabel atau berisi kerangka konsep yang nantinya akan digunakan untuk menjawab masalah yang diteliti. Kerangka teori disusun berdasarkan kajian teoritik yang telah dilakukan.
*      Hipotesis (jika ada)
Penyusunan hipotesis ini bisa dari deduksi maupun induksi dengan harapan dapat diperoleh perkiraan jawaban yang dianggap paling benar kemungkinan valid kebenarannya. Jawaban ini lah yang menjadi hipotesis penelitian.
3)      BAB III. Metode Penelitian
*      Desain Penelitian
Terdapat 4 jenis desain penelitian yaitu desain satu faktor, desain satu cuplikan, desain ulangan, dan desain faktorial. Namun penelitian juga dapat berisi dari kombinasi desain-desain penelitian tersebut. Terdapat hubungan yang erat antara desain penelitian dengan teknik analisis data penelitian.
*      Definisi Operasional Variabel Penelitian
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa desain penelitian berisi hubungan antar berbagai variabel / masalah atau ubahan yang akan diteliti. Oleh karenanya diperlukan definisi operasional dari variabel tersebut. Fungsi definisi operasional ini sangatlah penting untuk menentukan instrument atau alat ukur untuk pengumpulan data. Pada bagian ini perlu dirinci variabel yang akan diteliti. Populasi Penelitian adalah keseluruhan subjek penelitian, merupakan subyek tempat obyek penelitian dilakukan. Penelitian biasanya dilakukan terhadap sampel penelitian atau cuplikan, namun hasilnya digeneralisasikan terhadap populasi. Sampel Penelitian ( cuplikan penelitian) merupakan bagian dari populasi yang masih memiliki sifat-sifat populasi. Sehingga sampel harus dapat mewakili populasi karena nantinya hasil-hasil penelitian terhadap sampel akan digeneralisasikan terhadap populasi. Teknik Pengumpulan Sampel ada beberapa jenis seperti pengumpulan sampel secara random, strata, area, puprossive, sistematik, cluster, quota, double atau kombinasi dari teknik-teknik tersebut. Teknik Analisis Data berhubungan erat dengan desain penelitian. Misal, anava-AB adalah teknik analisis data penelitian untuk desain faktorial dua faktorial. Analisis data ini juga tergantung dari datanya, data-data yang terkumpul dapat dianalisis secara kualitatif, kuantitatif non statistik, statistika parametrik, atau statistika non parametrik.
*      Alat dan Bahan yang Digunakan
Spesifikasi alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian harus dicantumkan dalam penulisan. Penyusunan seperti di dalam petunjuk penulisan proposal/ pedoman proposal/ panduan proposal dimana masing-masing institusi pendidikan terkadang terdapat perbedaan.
4)      Daftar Pustaka
Berisi keterangan tentang bacaan yang menjadi sumber acuan penulisan, pengutipan, bahan rujukan dalam penulisan proposal/ jurnal / karya tulis lainnya.
5)      Lampiran
Memuat keterangan atau informasi yang diperlukan saat dilakukan penelitian, contohnya seperti peta, surat pengantar penelitian, kuesioner / angket, atau data lain yang sifatnya melengkapi usulan dalam proposal penelitian.



PERTEMUAN 14 dan 15
Dalam materi RPS pertemuan ke-14 dan ke-15 ini mempelajari tentang presentasi proposal penelitian.
Ø  Memulai Presentasi Proposal
                   Setelah amasuk ke ruangan presentasi dan berdiri dihadapan tim penguji, maka ucapkan : “Assalamu’alaikum, selamat pagi, salam sejahtera buat kita semua”. Lalu selanjutnya ucapkan perkataan seperti ini : “Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada dewan penguji (sebutkan nama masing-masing dan gelar) yang telah mempersilahkan saya untuk mempresentasikan proposal yang berjudul (Sebutkan judul proposal)“.
Setelah melanjutkan dengan menjelaskan poin-poin yang akan dibahas atau bisa juga menyampaikan isi presentasi proposal Anda seperti sebuah narasi tanpa Anda plot dalam poin-poin sebagai berikut ;
§  Pertama, tentang alasan pemilihan judul yang mencakup latar belakang masalah, rumusan masalah dan tujuan penelitian.
§  Kedua, tentang motode penelitian yang mencakup jenis penelitian, subjek penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.
§  Ketiga tentang hasil penelitian yang akan memaparkan hasil temuan selama melakukan penelitian”
Ø  Menjelaskan Isi Kandungan Proposal
            Dalam tahap ini harus mampu menjelaskan isi presentasi proposal dengan terstruktur dan jelas. Jika mengawali presentasi dengan menjelaskan poin-poin yang akan dibahas maka dalam pembahasan jangan sampai melewatkan apapun yang sudah mulai sebelumnya. Namun jika membuka presentasi proposal dengan sebuah narasi, maka pembahasan harus terstruktur dengan baik. Supaya dewan penguji atau audiens yang mendengarkan dan memahami bagian-bagian dari apa yang disampaikan dengan baik.
            Gunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Karena presentasi proposal itu bersifat formal, jadi penggunaan bahasa yang baik akan memberikan kesan yang baik untuk penampilan. Serta gunakan bahasa tubuh dengan baik untuk memperkuat setiap gagasan.
Ø  Menutup Presentasi Proposal
            Dalam presentasi sidang proposal ada dua cara penutupan presentasi yang baik yaitu :
§  Pertama menyimpulkan isi dari presentasi yang biasanya juga kesimpulan dari isi proposal.
§  Kedua, menyampaikan rekomendasi. Rekomendasi ini disampaikan kepada pihak-pihak terkait yang akan menggunakan hasil penelitian.

Ø  Sesi Tanya Jawab Proposal
            Berhasil atau tidaknya dalam memberikan jawaban dengan tepat sangat dipengaruhi oleh kemampuan mendengarkan. Maka yang harus dilakukan adalah menjadi pendengar yang baik dengan mendengarkan secara aktif. Caranya pusatkan perhatian, tunjukkan antusiasme dan berikan umpan balik jikalau ada pertanyaan yang kurang pahami saat sesi tanya jawab berlangsung.
            Sebelum menjawab, ambilah jeda beberapa detik untuk memikirkan cara terbaik dalam menjawab pertanyaan. Berikan jawaban ringkas jika waktunya terbatas, perluas jawaban jika waktunya cukup longgar. Namun sebelum mengakhirinya, sampaikan terima kasih atas saran, masukan dan kritik yang diberikan dewan penguji.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar