Rencana
Pembelajaran Sementara
Mata
Kuliah
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dosen
Pengampu : Dr. Yuliati, M.Pd
Oleh:
Yuni
Ayuning Suri (15010044037)
PLB
2015 / Kelas A
PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017
PERTEMUAN
1
A.
TEORI BELAJAR BAHASA
Ditinjau dari segi filosofis (keilmuan dan filsafat) ada
beberapat teori dasar filsafat yang dapat dijadikan prinsip pembelajaran
bahasa. prinsip dasar tersebut diuraikan sebagai berikut :
1.
HUMANISME
Teori ini
muncul diilhami oleh perkembangan dalam psikologi yaitu psikologi Humanisme.
Teori humanisme dalam pembelajaran bahasa pernah diimplementasikan dalam sebuah
kurikulum pembelajaran bahasa dengan istilah Humanistic curriculum yang
diterapkan di Amerika utara di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an.
Humanistic
curiculum menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah laku siswa dengan
menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup
siswa.
Tujuan utama
dari teori ini adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang
di tengah masyarakat. Sementara tujuan teori humanisme menurut Coombs (1981)
adalah sebagai berikut.
a.
Pembelajaran disusun berdasarkan
kebutuhan-kebutuhan dan tujuan siswa.
b.
Memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengaktualisasikan dirinya dan untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya.
c.
Pembelajaran disusun untuk
memperoleh keterampilan dasar (akademik, pribadi, antar pribadi, komunikasi,
dan ekonomi) berdasarkan kebutuhan masing-masing siswa.
d.
Memilih dan memutuskan aktivitas
pembelajaran secara individual dan mampu menerapkannya.
e.
Mengenal pentingnya perasaan
manusia, nilai, dan persepsi.
f.
Mengembangkan suasana belajar yang
menantang dan bisa dimengerti.
g.
Mengembangkan tanggung jawab siswa,
mengembangkan sikap tulus, respek, dan menghargai orang lain, dan terampil
dalam menyelesaikan konflik.
2.
NATIVISME
Chomsky
merupakan penganut nativisme.
Menurutnya, bahasa hanya
dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai
bahasa manusia. Pendapat Chomsky didasarkan pada beberapa asumsi. Pertama,
perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap
bahasa memiliki pola perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal),
dan lingkungan memiliki peran kecil di dalam proses pematangan bahasa. Kedua,
bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga, lingkungan
bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagi penguasaan tata bahasa
yang rumit dari orang dewasa. Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang
kompleks dan rumit sehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu yang singkat
melalui “peniruan”.
Nativisme juga percaya bahwa setiap
manusia yang lahir sudah dibekali dengan suatu alat untuk memperoleh bahasa (language acquisition device, disingkat LAD) Salah seorang penganut golongan
ini Mc. Neil (Brown, 1980:22) mendeskripsika LAD itu terdiri atas empat bakat
bahasa, yakni:
a.
Kemampuan
untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain.
b.
Kemampuan
mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam.
c. Pengetahuan adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem yang
lain yang tidak mungkin.
Kemampuan
untuk mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem yang
mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data kebahasaan yang diperoleh.
3.
MENTALISME
Teori
mentalisme merupakan kebalikan dari teori behaviorisme dimana teori ini lebih
cenderung pada pembahasan yang bersifat batiniah. Menurut N. Chomsky (dalam
sumardi, 1992:97) bahwa pemerolehan bahasa tidak dapat dicapai melalui
pembentukan kebiasaan karena bahasa terlalu sulit untuk dipelajari dengan cara
semacam itu apalagi dalam waktu yang singkat.
Sementara itu ada beberapa
pendapat kaum mentalis tentang pembelajaran dan pemerolehan bahasa yang dikutip
oleh Sapani (1998:14):
a.
Bahasa
hanya dapat dikuasai oleh manusia
b.
Perilaku
bahasa adalah suatu yang diturunkan
c.
Pemerolehan
bahasa berlangsung secara alami
d.
Pola
perkembangan bahasa sama pada berbagai macam bahasa dan budaya
e.
Setiap
anak sudah dibekali dengan piranti penguasaan bahasa sebagai bawaan dari lahir
f.
Aliran
mentalis tidak setuju menyamakan proses belajar pada manusia dengan yang
terjadi pada binatang
g.
Belajar
bahasa tidak sekedar latihan – l;atihan mekanistis melainkan lebih kompleks
4. KOGNITIVISME
Pada
tahun 60-an golongan kognitivistik mencoba mengusulkan pendekatan baru dalam
studi pemerolehan bahasa. Pendekatan tersebut mereka namakan pendekatan
kognitif.Jika pendekatan kaum behavioristik bersifat empiris maka pendekatan
yang dianut golongan kognitivistik lebih bersifat rasionalis.
Konsep sentral dari pendekatan ini yakni kemampuan berbahasa
seseorang berasal dan diperoleh sebagai akibat dari kematangan kognitif sang
anak. Mereka beranggapan bahwa bahasa itu distrukturkan atau dikendalikan oleh
nalar manusia.
Menurut teori ini, bahasa bukanlah suatu ciri alamiah yang
terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari
kematangan kognitif.Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan
perkembangan bahasa (Chaer, 2003:223).
Menurut teori kognitivisme, yang paling utama harus dicapai
adalah perkembangan kognitif, barulah
pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa.
Konsep
sentral teori kognitif adalah kemampuan berbahasa anak berasal dari kematangan
kognitifnya. Proses belajar bahasa secara kognitif merupakan proses berpikir
yang kompleks karena menyangkut lapisan bahasa yang terdalam.
Lapisan
bahasa tersebut meliputi: ingatan, persepsi, pikiran, makna, dan emosi yang
saling berpengaruh pada struktur jiwa manusia. Bahasa dipandang sebagai
manifestasi dari perkembangan aspek kognitif dan afektif yang menyatakan
tentang dunia dan diri manusia itu sendiri.
5.
HUMANISME
Teori ini muncul diilhami oleh
perkembangan dalam psikologi yaitu psikologi Humanisme. Teori humanisme dalam
pembelajaran bahasa pernah diimplementasikan dalam sebuah kurikulum
pembelajaran bahasa dengan istilah Humanistic curriculum yang diterapkan di
Amerika utara di akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Humanistic curiculum
menekankan pada pola pikir, perasaan dan tingkah laku siswa dengan
menghubungkan materi yang diajarkan pada kebutuhan dasar dan kebutuhan hidup
siswa.
Tujuan utama dari teori ini adalah
untuk meningkatkan kemampuan siswa agar bisa berkembang di tengah masyarakat.
Sementara tujuan teori humanisme
menurut Coombs (1981) adalah sebagai berikut.
a.
Pembelajaran disusun berdasarkan
kebutuhan-kebutuhan dan tujuan siswa.
b.
Memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengaktualisasikan dirinya dan untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya.
c.
Pembelajaran disusun untuk
memperoleh keterampilan dasar (akademik, pribadi, antar pribadi, komunikasi,
dan ekonomi) berdasarkan kebutuhan masing-masing siswa.
d.
Memilih dan memutuskan aktivitas
pembelajaran secara individual dan mampu menerapkannya.
e.
Mengenal pentingnya perasaan
manusia, nilai, dan persepsi.
f.
Mengembangkan suasana belajar yang
menantang dan bisa dimengerti.
g.
Mengembangkan tanggung jawab siswa,
mengembangkan sikap tulus, respek, dan menghargai orang lain, dan terampil
dalam menyelesaikan konflik.
6.
FUNSIONALISME
Pandangan fungsionalisme dalam kajian
linguistic sering disebut tata bahasa sistemik,relasional, maupun tata bahasa
stratifikasi. Beberapa hal penting dari teori ini yang membedakan dengan teori
lain yaitu :
a.
Bahasa bukan sebagai gejala
psikologis tetapi fakta sosial yang secara implicit mengemban penghayatan
kehidupan sosial.
b.
Bahasa bukan terwujud sebagai
kalimat tetapi sebagai teks atau wacana
c.
Sebagai teks, bahasa memiliki tiga
tataran fungsi yang berhubungan secara sistematis yaitu fungsi ideasional,
interpersonal, dan tekstual.
d.
Siswa belajar berbahasa secara
serempak juga disertai kegiatan mengenal, menghayati dan memahami kenyataan
lain di luar fakta kebahasaannya.
e.
Pemahaman bahasa bermula dari
pemahaman penggunaannya
f.
Belajar bahasa hakikatnya adalah
belajar menggunakan bahasa sesuai dengan system dan kaidah sosialnya.
7.
Konstruktivisme
Menurut
pandangan teori ini (dalam Mulyasa, 2005:240) dalam kegiatan belajar mengajar
siswa harus aktif selama pembelajaran berlangsung; proses aktif ini adalah
proses membuat sesuatu masuk akal,pembelajaran tidak terjadi melalui transmisi
tetapi melalui interpretasi; interpretasi selalu dipengaruhi oleh schemata(
pengetahuan sebelumnya);interpretasi juga dibantu oleh metode instruksi yang
memungkinkan negoisasi pikiran; tanya jawab.
Implikasi
dalam pandangan teori ini dalam pelajaran bahasa Indonesia menurut Aminuddin
(1996) yaitu.
a.
Perencanaan pengajaran harus dilandai pemahaman
karakteristik proses berpikir siswa dalam mengolah, menghayati dan
mengonseptualisasikan isi pembelajarannya.
b.
Proses pembelajaran bahasa Indonesia bukan hanya ditujukan
pada upaya pengembangan kemampuan berkomunikasi semata.
c.
Pengorganisasian materi dan kegiatan pembelajaran, idealnya
selain member peluang terjadinya pembelajaran secara individual juga harus
memberi peluangterjadinya proses pembelajaran secara berkelompok
d.
Materi pelajaran yang secara formal disajikan di sekolah
bukan merupakan satu –satunya sumber isi pembelajaran.
PERTEMUAN
2
A. Pendekatan Pembelajaran Bahasa
Indonesi
Pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya
suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi,
menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan
teoretis tertentu.
1. Pendekatan Kontekstual
(Contextual/CTL)
Pendekatan
konstektual merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi
dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna
bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis dan melaksanakan
observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya. Dalam
konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam
status apa mereka dan bagaimana mencapainya.
2. Konstruktivisme
Konstruktivisme
merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasil-nya diperluas melalui
konteks yang terbatas, dan tidak serta merta. Pengetahuan bukanlah seperangkat
fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia
harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman
nyata. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan
dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila
dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar itu,
pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima
pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka
melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswalah yang
menjadi pusat kegiatan, bukan guru.
3. Pendekatan Terpadu dalam
Pembelajaran Bahasa
Pendekatan integratif atau pendekatan terpadu merupakan
pendekatan pembelajaran bahasa dengan cara berpikir menyeluruh, yang
menghubungkan semua aspek keterampilan berbahasa sebagai kesatuan yang bermakna
(Routman, 1991:276). Selain itu, Djiwandono (1996:10) mengataka bahwa
pendekatan integrative merupakan penggabungan dari bagian-bagian dan komponen-komponen
bahasa, yang bersama-sama membentuk bahasa. Dalam pembelajaran bahasa, materi
pembelajaran bahasa disajikan secara terpadu, yaitu terpadu antar-materi dalam
pembelajaran bahasa dan berpijak pada satu tema tertentu. Pendekatan integratif
menurut Pappas (1990) berlandaskan pada
prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.
Siswa aktif dan merupakan pengajaran yang bersifat
konstruktif,
b.
Bahasa digunakan untuk bermacam-macam pola;
c.
Pengetahuan diorganisasikan dan dibentuk oleh pembelajar
secara individual melalui interaksi sosial.
4. Whole language
Whole
language adalah satu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan pengajaran
bahasa secara utuh, tidak terpisah - pisah (Edelsky, 1991; Froese, 1990;
Goodman, 1986; Weaver, 1992). Para ahli whole language berkeyakinan bahwa
bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah- pisahkan
(Rigg, 1991). Oleh karena itu pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan
kosakata disajikan secara utuh bermakna dan
dalam situasi nyata atau otentik. Pengajaran tentang penggunaan tanda
baca seperti koma, semikolon, dan kolon misalnya, diajarkan sehubungan dengan
pelajaran menulis. Jangan mengajarkan penggunaan tanda baca tersebut hanya
karena materi itu tertera dalam kurikulum.
5. Pendekatan Tematik
Pendekatan
tematik adalah suatu sistem pembelajaran yang menyatukan beberapa mata
pelajaran yang dikaitkan/berpusat pada satu pokok permasalahan (tema), sehingga
terjadi kepaduan antara yang satu dengan yang lain dan dapat memberikan
pengalaman belajar yang berarti bagi siswa. Pengalaman yang berarti tersebut
ditunjukan dengan mampunya siswa menghubungkan antara konsep-konsep belajar
yang telah dilakukannya dan dapat diwujudkannya/direalisasikan dalam kehidupan
sehari-hari, sehingga siwa tidak hanya menghafal materi pelajaran saja.
Pendekatan tematik menekankan pada pembelajaran yang mengajak siswa untuk
menemukan dan melakukan pengalaman belajaranya sendiri (learning by doing).
Pendekatan ini dimotori oleh Gestalt dan Piaget yang menekankan bawah
pembelajran haruslah bermakna dan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat
perkembangan anak.
6. Pendekatan Balance Literacy
Pendekatan
Balance Literacy merupakan konsep pembelajaran yang memadukan pendekatan phonic
dan whole language yang saling bertentangan untuk penerapan pembelajaran
terbaik dalam pengembangan kemampuan membaca dan menulis. Pendekatan phonic
menekankan pembelajaran pada ketepatan dan keakuratan dalam membaca kata. Anak
diperkenalkan dengan aturan-aturan fonetis dan fonemis atau cara mengeja dan
menuliskan huruf/kata (keterampilan analisis phonic). Siswa diajari memahami
hubungan antara huruf-bunyi pada kata, meliputi bunyi vokal, konsonan, diftong,
dan konsonan ganda. Misalnya anak perlu memahami ucapan bunyi vokal dan variasi
kata. Huruf e : berbunyi /e/ dalam kata sate, berbunyi / /
dalam kata benda, berbunyi /
/ pada kata enak. Huruf ng dibaca
/eng/, ny = /eny/. Huruf b pada kata bapak= /b/ diucapkan berbeda dengan huruf
b pada kata sabtu= /p/. Setelah siswa memahami hubungan bunyi-huruf tersebut
selanjutnya menerapkannya dalam kata/kalimat/teks yang dikenal. Tujuan
pendekatan ini adalah agar anak menyadari fonik melalui menghubungkan
bunyi-huruf dan dapat membunyikan huruf pada kata/ka-limat/teks yang
dihadapinya, menganalisis dan menggabungkannya secara tepat dan akurat.
PERTEMUAN
3
A. Hakikat
Bahasa
Manusia adalah
makhluk sosial, sehingga manusia perlu berinteraksi dengan manusia lainnya.
Pada saat manusia membutuhkan eksistensinya diakui, maka interaksi itu terasa
semakin penting. Kegiatan berinteraksi ini membutuhkan alat, sarana atau media,
yaitu bahasa. Sejak saat itulah bahasa menjadi alat, sarana atau media. Tiada
kemanusiaan tanpa bahasa, tiada peradaban tanpa bahasa tulis. Ungkapan-ungkapan
itu menunjukkan betapa pentingnya peranan bahasa bagi perkembangan manusia dan
kemanusiaan. Dengan bantuan bahasa, anak tumbuh dari organisme biologis menjadi
pribadi di dalam kelompok. Pribadi itu berpikir, merasa, bersikap, berbuat,
serta memandang dunia dan kehidupan seperti masyarakat di sekitarnya.
1. Bahasa
sebagai Sistem : Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh
sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan.
2. Bahasa
Bersifat Arbitrer :Lambang bahasa itu bersifat arbitrer, artinya, hubungan
antara lambang dengan yang dilambangkan tidak bersifat wajib, bisa berubah ,
dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepi makna tertentu.
3. Bahasa
Bersifat Produktif : Bahasa itu bersifat produktif, artinya, dengan sejumlah
unsur yang terbatas, mamun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak
terbatas. Umpamanya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S
Purwadarminta bahasa Indonesia hanya mempunyai lebih kurang 23.000 buah kata,
tetapi dengan 23.000 buah kata itu dapat dibuat jutaan kalimat yang tidak
terbatas.
4. Bahasa
Bersifat Dinamis : Bahasa itu bersifat dinamis, artinya, bahasa itu tidak
terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Perubahan itu dapat terjadi pada tataran fonologis, morfologis, sintaksis,
semantik, dan leksikon. Yang tampak jelas biasanya adalah pada tataran
leksikon. Pada setiap waktu mungkin saja ada kosa kata baru yang muncul, tetapi
juga ada kosa kata lama yang tenggelam, tidak digunakan lagi.
5. Bahasa
itu Beragam :Bahasa itu beragam artinya, meskipun sebuah bahasa mempunyai
kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh
penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang
berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam. Bahasa Jawa yang digunakan di
Surabaya tidak persis sama dengan bahasa Jawa yan digunakan di Pekalongan,.
6. Bahasa
Bersifat Manusiawi : Bahasa itu bersifat manusiawi artinya, bahasa sebagai alat
komunikasi verbal hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang
dimiliki hewan sebagai alat komunikasi yang berupa bunyi atau gerak isyarat,
tidak bersifat produktif dan tidak dinamis. Dikuasai oleh para hewan itu secara
instingtif, atau secara naluriah. Padahal manusia dalam menguasai bahasa
bukanlah secara instingsif atau naluriah, melainkan dengan cara belajar. Hewan
tidak mempunyai kemampuan untuk mempelajari bahasa manusia. Oleh karena itulah
dikatakan bahwa bahasa itu bersifat manusiawi, hanya dimiliki manusia.
B. FUNGSI-FUNGSI
BAHASA
Secara umum
sudah jelas bahwa fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Bahasa sebagai
wahana komunikasi bagi manusia, baik komunikasi lisan maupun tulis. Fungsi ini
adalah dasar bahasa yang belum dikaitkan dengan status dan nilai-nilai sosial.
Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa tidak dapat dilepaskan dari kegiatan hidup
masyarakat, yang di dalamnya sebenarnya terdapat status dan niali-nilai sosial.
Bahasa selalu mengikuti dan mewarnai kehidupan manusia sehari-hari, baik
manusia sebagai anggota suku maupun bangsa. Terkait hal itu, Santoso, dkk.
(2004) berpendapat bahwa bahasa sebagai alat komunikasi memiliki fungsi sebagai
berikut:
1.
Fungsi informasi, yaitu
untuk menyampaikan informasi timbal-balik antar anggota keluarga ataupun
anggota-anggota masyarakat.
2.
Fungsi ekspresi diri,
yaitu untuk menyalurkan perasaan, sikap, gagasan, emosi atau tekanan-tekanan
perasaan pembaca. Bahasa sebagai alat mengekspresikan diri ini dapat menjadi
media untuk menyatakan eksistensi (keberadaan) diri, membebaskan diri dari
tekanan emosi dan untuk menarik perhatian orang.
3.
Fungsi adaptasi dan
integrasi, yaitu untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota
masyarakat, melalui bahasa seorang anggota masyarakat sedikit demi sedikit
belajar adat istiadat, kebudayaan, pola hidup, perilaku, dan etika
masyarakatnya. Mereka menyesuaikan diri dengan semua ketentuan yang berlaku
dalam masyarakat melalui bahasa.
4.
Fungsi kontrol sosial,
bahasa berfungsi untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain. Bila fungsi
ini berlaku dengan baik, maka semua kegiatan sosial akan berlangsung dengan
baik pula. Dengan bahasa seseorang dapat mengembangkan kepribadian dan
nilai-nilai sosial kepada tingkat yang lebih berkualitas.
C. PRINSIP-PRINSIP
PEMBELAJARAN BAHASA
1.
Prinsip kontekstual : Pembelajaran
yang mengaitkan materi yag diajarkan dengan dunia nyata peserta didik dengan
membuat hubungan yang dimilikinya dengan pengetahuan dalam kehidupan
sehari-hari.
2.
Prinsip integratif: Pembelajaran
bahasa Indonesia disajikan tidak secara terpisah-pisah melainkan secara
terpadu.
3.
Prinsip fungsional: Pembelajaran
bahasa harus dikaitkan dengan fungsinya, baik dalam berkomunikasi maupun dalam
memenuhi keterampilan untuk hidup. Pelaksanaan pembelajaran di kelas yang
fungsional ini adalah dengan menggunakan teknik bermain peran.
4.
Prinsip apresiat : Prinsip
apresiatif adalah prinsip pembelajaran yang menyenangkan
PERTEMUAN 4, 7, 9.
A.
PEMBELAJARAN BAHASA DENGAN
KETERAMPILAN
- KETERAMPILAN MENYIMAK (LISTENING SKILLS)
Menyimak
merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat
reseptif. Dengan demikian, menyimak tidak sekadar kegiatan mendengarkan tetapi
juga memahaminya. Ada dua jenis situasi dalam menyimak, yaitu situasi menyimak
secara interaktif dan situasi menyimak secara noninteraktif. Menyimak secara
interaktif terjadi dalam percakapan tatap muka dan percakapan di telepon atau
yang sejenisnya. Dalam menyimak jenis ini, kita bergantian melakukan aktivitas
menyimak dan berbicara. Oleh karena itu, kita memiliki kesempatan untuk
bertanya guna memperoleh penjelasan, meminta lawan bicara mengulang apa yang
diucapkan olehnya atau mungkin memintanya berbicara agak lebih lambat.
Kemudian, contoh situasi-situasi mendengarkan noninteraktif, yaitu mendengarkan
radio, TV, film, khotbah, atau menyimak dalam acara-acara seremonial. Dalam
situasi menyimak noninteraktif tersebut, kita tidak dapat meminta penjelasan
dari pembicara, tidak bisa pembicara mengulangi apa yang diucapkan, dan tidak
bisa meminta pembicaraan diperlambat.
Berikut ini adalah keterampilan-keterampilan mikro yang terlibat ketika
kita berupaya untuk memahami apa yang kita dengar, yaitu pendengar harus mampu
menguasai beberapa hal berikut:
a.
menyimpan/mengingat unsur bahasa
yang didengar menggunakan daya ingat jangka pendek (short-term memory);
b.
berupaya membedakan bunyi-bunyi
yang membedakan arti dalam bahasa target;
c.
menyadari adanya bentuk-bentuk
tekanan dan nada, warna suara, intonasi, dan adanya reduksi bentuk-bentuk kata;
d.
membedakan dan memahami arti
kata-kata yang didengar;
e.
mengenal bentuk-bentuk kata
khusus (typical word-order patterns);
f.
mendeteksi kata-kata kunci yang
mengidentifikasi topik dan gagasan;
g.
menebak makna dari konteks;
h.
mengenal kelas-kelas kata (grammatical
word classes);
i.
menyadari bentuk-bentuk dasar
sintaksis;
j.
mengenal perangkat-perangkat
kohesif (recognize cohesive devices);
k.
mendeteksi unsur-unsur kalimat
seperti subjek, predikat, objek, preposisi, dan unsur-unsur lainnya.
2. KETERAMPILAN BERBICARA (SPEAKING SKILLS)
Berbicara
merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam lisan yang bersifat
produktif. Sehubungan dengan keterampilan berbicara ada tiga jenis situasi
berbicara, yaitu interaktif, semiinteraktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi
berbicara interaktif, misalnya percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat
telepon yang memungkinkan adanya pergantian antara berbicara dan menyimak, dan
juga memungkinkan kita meminta klarifikasi, pengulangan atau kita dapat meminta
lawan bicara memperlambat tempo bicara dari lawan bicara. Kemudian, ada pula
situasi berbicara yang semiinteraktif, misalnya alam berpidato di hadapan umum
secara langsung. Dalam situasi ini, audiens memang tidak dapat melakukan
interupsi terhadap pembicaraan, namun pembicara dapat melihat reaksi pendengar
dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Beberapa situasi berbicara dapat
dikatakan betul-betul bersifat noninteraktif, misalnya berpidato melalui radio
atau televisi. Berikut ini beberapa keterampilan mikro yang harus dimiliki
dalam berbicara. Seorang pembicara harus dapat:
a.
mengucapkan bunyi-bunyi yang
berbeda secara jelas sehingga pendengar dapat membedakannya;
b.
menggunakan tekanan dan nada
serta intonasi yang jelas dan tepat sehingga pendengar dapat memahami apa yang
diucapkan pembicara;
c.
menggunakan bentuk-bentuk kata,
urutan kata, serta pilihan kata yang tepat;
d.
menggunakan register atau ragam
bahasa yang sesuai terhadap situasi komunikasi, termasuk sesuai ditinjau dari
hubungan antara pembicara dan pendengar;
e.
berupaya agar kalimat-kalimat
utama (the main sentence constituents) jelas bagi pendengar;
f.
berupaya mengemukakan ide-ide
atau informasi tambahan guna menjelaskan ide-ide utama;
g.
berupaya agar wacana berpautan
secara selaras sehingga pendengar mudah mengikuti pembicaraan.
3. KETERAMPILAN
MEMBACA (READING SKILLS)
Membaca
merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat
reseptif. Keterampilan membaca dapat dikembangkan secara tersendiri, terpisah
dari keterampilan menyimak dan berbicara. Tetapi, pada masyarakat yang memiliki
tradisi literasi yang telah berkembang, sering kali keterampilan membaca
dikembangkan secara terintegrasi dengan keterampilan menyimak dan berbicara.
Keterampilan-keterampilan mikro yang terkait dengan proses membaca yang harus
dimiliki pembaca adalah:
a.
mengenal sistem tulisan yang
digunakan;
b.
mengenal kosakata;
c.
menentukan kata-kata kunci yang
mengidentifikasikan topik dan gagasan utama;
d.
menentukan makna-makna kata,
termasuk kosakata split, dari konteks tertulis;
e.
mengenal kelas kata gramatikal:
kata benda, kata sifat, dan sebagainya;
f.
menentukan konstituen-konstituen
dalam kalimat, seperti subjek, predikat, objek, dan preposisi;
g.
mengenal bentuk-bentuk dasar
sintaksis;
h.
merekonstruksi dan menyimpulkan
situasi, tujuan-tujuan, dan partisipan;
i.
menggunakan perangkat kohesif
leksikal dan gramatikal guna menarik kesimpulan-kesimpulan;
j.
menggunakan pengetahuan dan
perangkat-perangkat kohesif leksikal dan gramatikal untuk memahami topik utama
atau informasi utama;
k.
membedakan ide utama dari
detail-detail yang disajikan;
l.
menggunakan strategi membaca yang
berbeda terhadap tujuan-tujuan membaca yang berbeda, seperti skimming
untuk mencari ide-ide utama atau melakukan studi secara mendalam.
4. KETERAMPILAN MENULIS (WRITING SKILLS)
Menulis
merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat
produktif. Menulis dapat dikatakan keterampilan berbahasa yang paling rumit di
antara jenis-jenis keterampilan berbahasa lainnya. Ini karena menulis bukanlah
sekadar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat; melainkan juga mengembangkan
dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang teratur.
Berikut ini keterampilan-keterampilan mikro yang diperlukan dalam menulis,
penulis perlu untuk:
a.
menggunakan ortografi dengan
benar, termasuk di sini penggunaan ejaan;
b.
memilih kata yang tepat;
c.
menggunakan bentuk kata dengan
benar;
d.
mengurutkan kta-kata dengan
benar;
e.
menggunakan struktur kalimat yang
tepat dan jelas bagi pembaca;
f.
memilih genre tulisan yang tepat,
sesuai dengan pembaca yang dituju;
g.
mengupayakan ide-ide atu
informasi utama didukung secara jelas oleh ide-ide atau informasi tambahan;
h.
mengupayakan terciptanya paragraf
dan keseluruhan tulisan koheren sehingga pembaca mudah mengikuti jalan pikiran
atau informasi yang disajikan;
i.
membuat dugaan seberapa banyak
pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca sasaran mengenai subjek yang ditulis dan
membuat asumsi mengenai hal-hal yang belum mereka ketahui dan penting untuk
ditulis.
PERTEMUAN
5
A. HAKIKAT
PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA LISAN DAN TULIS
Di dalam
bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata
bahasa Indonesia ragam baku, yang alih-alih disebut sebagai kosa kata baku
bahasa Indonesia baku. Kosa kata baasa Indonesia ragam baku atau kosa kata
bahasa Indonesia baku adalah kosa kata baku bahasa Indonesia, yang memiliki
ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolak ukur yang
ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas
lembaga atau instansi di dalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi,
kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam
akrab. Walaupun demikian, tidak tertutup kemungkinan digunakannya kosa kata
ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna
dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.
Suatu ragam
bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan
untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi anutan
bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu
diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan
latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik
pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980). Menurut Felicia (2001 : 8),
ragam bahasa dibagi berdasarkan : Media pengantarnya atau sarananya, yang terdiri
atas :
a. RAGAM LISAN
Ragam lisan
adalah bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam
lisan yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan,
dalam situasi perkuliahan, ceramah; dan ragam lisan yang nonstandar, misalnya
dalam percakapan antarteman, di pasar, atau dalam kesempatan nonformal lainnya.
b. RAGAM TULIS
Ragam tulis
adalah bahasa yang ditulis atau yang tercetak. Ragam tulis pun dapat berupa
ragam tulis yang standar maupun nonstandar. Ragam tulis yang standar kita
temukan dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan.
Kita juga dapat menemukan ragam tulis nonstandar dalam majalah remaja, iklan,
atau poster. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal, dalam
ragam bahasa tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain
itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki
hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan
ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa
lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang
menjdi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar,
meskipun ada pula kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan
kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari
yang lain.
PERTEMUAN 6
A. Pengertian
Fonologi Bahasa Indonesia
Secara etimologi
kata Fonologi berasal dari kata Fon yang berarti bunyi, dan logi yang berarti
ilmu. Fonologi lazim diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang
mempelajari, membahas, membicarakan, dan menganalisis bunyi- bunyi bahasa yang
diproduksi oleh alat- alat ucap manusia.
Fonologi adalah
bunyi bahasa yang berfungsi dalam ujaran dan yang dapat membedakan makna itulah
yang menjadi objek salah satu disiplin linguistik (Padeta, 2003 : 3).
B. Fonologi
dan Fonetik
Fonologi lazim
diartikan sebagai bagian dari kajian linguistik yang mempelajari, membahas,
membicarakan, dan menganalisis bunyi- bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat-
alat ucap manusia.
Fonetik adalah
cabang kajian linguistik yang meneliti bunyi- bunyi bahasa tanpa melihat apakah
bunyi- bunyi itu dapat membedakan makna kata atau tidak. Fonetik adalah ilmu
yang mempelajari bunyi bahasa yang tidak memperhatikan fungsinya sebagai
pembeda makna ( Verhaar dalam buku Padeta 2003 : 4).
C. Proses
Bunyi Bahasa
Muolton
dalam buku Pateda 2003 : 10 mengatakan, ada 11 tahap proses yang dilalui oleh
bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat- alat bicara pembicara sampai dipahami
oleh pendengar. Tahap- tahap dimaksud adalah sebagai berikut ;
1. Membuat
kode sematis.
Pembicara membayangkan acuan-
acuan yang ingin disampaikannya dalam bentuk- bentuk satuan- satuan semantis
yang diharapkan satuan semantis ini akan sama dengan penafsirannya pada pihak
pendengar.
2. Membuat
kode gramatikal.
Pembicara telah memilih
satuan semantis yang cocok dengan acuan yang ada dalam bayangannya, ia akan
memutuskan suatu gramatikal, apakah kata atau kalimat. Kata dan kalimat yang
dipilih harus sesuai dengan kaidah bahasa yang digunakan.
3. Membuat
kode fonologis.
Mengubah satuan gramatikal
tadi dalam wujud bunyi- bunyi bahasa.
4. Mengirimkan
perintah otak kepada alat bicara.
Proses ini berada dalam
“mind’. Wujudnya berupa gejolak jiwa yang menuntut untuk segera dihasilkan.
5. Alat
bicara melaksanakan gerakkan sesuai dengan perintah otak.
Tahap ini termasuk dalam
tahap fisiologis.
6. Tahap
ini merupakan tahap akustik
Bunyi- bunyi bahasa tadi
diteruskan yang akan berwujud gelombang- gelombang bunyi.
7. Tahap
fisiologis
Gelombang bunyi tadi
menyentuh alat pendengar. Gelombang bunyi merangsang telinga pendengar yang
menyebabkan si pendengar mengaktifkan mekanisme pendengarannya
8. Tahap
fisiologi yang berkaitan dengan fonetik auditoris.
Gelombang bunyi tadi diubah
menjadi getaran. Getaran teruskan ke otak.
9. Pemecahan
kode
Getaran tadi yang sebenarnya
berisi pesan pembicara dalam bentuk kode- kode, harus ditafsirkan atau
dimaknakan. Pengolahan terjadi di otak dengan jalan mencocokkan gejala- gejala
itu dengan pengetahuan si pendengar yang sesuai dengan sistem bahasa yang
dikuasai pendengar.
10. Pemecahan
kode secara gramatikal
Kode- kode berwujud getaran
yang telah dimaknakan secara fonologis itu, kemudian ditafsirkan dengan cara
gramatikal. Strukturnya disesuaikan dengan struktur bahasa yang dikuasai
pendengar.
11. Pemecahan
kode secara semantis
Struktur
gramatikal dilihat maknanya baik yang berwujud kata maupun yang berwujud satuan
yang lebih besar, apakah Frase atau kalimat. Proses pengolahan gelombang bunyi
sehingga dipahami oleh pendengar, semuanya dilakukan oleh otak.
D. Jenis-jenis
Fonologi
·
Fonetik Sebelum SPE
Fonologi sebelum SPE
mengklasifikasikan fonem-fonem berdasarkan alat bicara yang menghasilkan
bunyi-bunyi bahasa tersebut
·
Fonologi SPE
Pandangan ini melahirkan tata
bahasayang dikenal dengan tata bahasa generatif. Tujuan utama bahasa generatif,
yakni menunjukkan kemungkinankaidah-kaidah
tersederhana dalam suatu bahasa.
·
Fonologi Autosegmental
Istilah autosegmental berasal dari
kata Autonomous dan segmental yang menjelaskan bahwa beberpa fitur
dipresentasikan tersendiri dari yang lain, dan dihubungkan dalam bentuk matrix
dengan fitur lain melalui segmen yang saling berhubungan.
·
Fonologi Matrikal
Dorongan pendapat yang melahirkan fonologi
matrikal, yakni perhatian fonetisi pada masalah tekanan dalam bahasa (Inggris).
·
Fonologi Leksikal
Setiap leksikonsecara esensial adalah morfem
yang perwujudannya berisi komponen yang bersifat fonologis danterkait satu sama
lain dalam strata yang lebih tinggi, yakni yang sifatnya sintaktik dan tentu
saja berbeban makna.
·
Fonologi prosodik
Prinsip yang mendasari
fonologi prosodik, yakni pandangan yang berlaku dalam tata bahasa generatif,terutama hubungan antara
morfologi dan sintaksis yang terkenal dengan sebutan tata bahasa model T.
E. Morfem
merupakan bentuk kata yang paling kecil dan sudah memiliki arti. Sebuah kata
bisa terdiri dari satu atau lebih morfem, misalnya kata “jalan” yang terdiri
dari satu morfem, “berjalan” yang terdiri dari dua morfem (ber- dan jalan),
“jalan-jalan” yang terdiri dari dua morfem, atau “menjalankan” yang terdiri
dari tiga morfem (me-, jalan, dan -kan).
F. Struktur
Sintaksis
Secara umum struktur sintaksis itu
terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan.
Menurut Verhar (1978) fungsi-fungsi sintaksis itu yang terdiri dari unsur-unsur
S, P, O, dan K itu merupakan “kotak-kotak kosong” atau “tempat0tempat kosong”
yang tidak mempunyai arti apa-apa karenan kekosongannya. Tempat-tempat kosong
itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu.
Contoh kalimat: Nenek melirik kakek tadi pagi.
Tempat kosong yang bernama subjek
disi oleh kata nenek yang berkategori nomina, tempat kosong yang bernama
predikat diisi oleh kata melirik yang
berkategori verba, tempat kosong yang bernama objek diisi oleh kata kakek yang berkategori nomina, dan tempat
kosong yang bernama keterangan diisi oleh frasa tadi pagi yang berkategori
nomina.
G. Frasa
Frasa atau frase adalah sebuah
makna linguistik. Lebih tepatnya, frasa merupakan satuan linguistik yang lebih
besar dari kata dan lebih kecil dari klausa dan kalimat. Frasa adalah kumpulan
kata nonpredikatif. Artinya frasa tidak memiliki predikat dalam strukturnya.
Itu yang membedakan frasa dari klausa dan kalimat.
Contoh:
Nenekku
Di pohon
H. Klausa
Klausa adalah satuan sintaksis
berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam
konstruksi itu ada kom¬ponen, berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai
predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai
keterangan. Sebuah konstruksi disebut kalimat kalau kepada konstruksi itu
diberikan intonasi final atau intonasi kalimat. Jadi, konstruksi nenek mandi
baru dapat disebut kalimat kalau kepadanya diberi intonasi final kalau belum
maka masih berstatus klausa.Tempat klausa adalah di dalam kalimat. Dapat juga
dikatakan, klausa adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa
kata yang mengandung unsur predikatif (Keraf, 1984:138).
I. Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil
yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Kalimat
adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran (Widjono:146).
Manaf (2009:11) lebih menjelaskan dengan membedakan kalimat menjadi bahasa
lisan dan bahasa tulis.
PERTEMUAN 10
Ø Pengertian
Media dan Jenis Media
Media adalah segala bentuk dan saluran yang
digunakan untuk menyampaikan informasi atau pesan. Kata media berasal dari kata
latin, merupakan bentuk jamak dari kata “medium”. Secara harfiah kata tersebut
mempunyai arti "perantara" atau "pengantar", yaitu perantara
sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver). Jadi, dalam
pengertian yang lain, media adalah alat atau sarana yang dipergunakan untuk
menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Banyak ahli dan juga
organisasi yang memberikan batasan mengenai pengertian media. Beberapa
diantaranya adalah sebagai berikut:
§ Menurut
Syaiful Bahri Djamarah: Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan
sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan.
§ Menurut
Schram: Media adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk
keperluan pembelajaran.
§ Menurut
National Education Asociation (NEA): Media adalah sarana komunikasi dalam
bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya.
§ Menurut
Briggs: Media adalah alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi
proses belajar.
§ Asociation
of Education Comunication Technology (AECT): Media adalah segala bentuk dan
saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan.
§ Menurut
Gagne: Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat
merangsang siswa untuk belajar.
§ Menurut
Miarso: Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan
pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa
untuk belajar.
Jenis-jenis
media secara umum dapat dibagi menjadi:
§ Media
Visual: media visual adalah media yang bisa dilihat, dibaca dan diraba. Media
ini mengandalkan indra penglihatan dan peraba. Berbagai jenis media ini sangat
mudah untuk didapatkan. Contoh media yang sangat banyak dan mudah untuk
didapatkan maupun dibuat sendiri. Contoh: media foto, gambar, komik, gambar
tempel, poster, majalah, buku, miniatur, alat peraga dan sebagainya.
§ Media
Audio: media audio adalah media yang bisa didengar saja, menggunakan indra
telinga sebagai salurannya. Contohnya: suara, musik dan lagu, alat musik,
siaran radio dan kaset suara atau CD dan sebagainya.
§ Media
Audio Visual: media audio visual adalah media yang bisa didengar dan dilihat
secara bersamaan. Media ini menggerakkan indra pendengaran dan penglihatan
secara bersamaan. Contohnya: media drama, pementasan, film, televisi dan media
yang sekarang menjamur, yaitu VCD. Internet termasuk dalam bentuk media audio
visual, tetapi lebih lengkap dan menyatukan semua jenis format media, disebut
Multimedia karena berbagai format ada dalam internet.
Ø Definisi
media menurut beberapa ahli
§ Menurut
Arsyad, 2002; Sadiman, dkk., 1990, mengatakan bahwa media (bentuk jamak dari
kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara
harfiah berarti ‘tengah’, ‘perantara’ atau ‘pengantar’.Oleh karena itu, media
dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke
penerima pesan. Media dapat berupa sesuatu bahan (software) dan/atau alat
(hardware).
§ Menurut
Gerlach & Ely (dalam Arsyad, 2002), mengatakan bahwa media jika dipahami
secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun
kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan,
atau sikap. Jadi menurut pengertian ini, guru, teman sebaya, buku teks,
lingkungan sekolah dan luar sekolah, bagi seorang siswa merupakan media.
§ Dalam
Buku Pengantar Ilmu Komunikasi (Cangara, 2006 : 119), media adalah alat atau
sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada
khalayak. Ada beberapa pakar psikologi memandang bahwa dalam komunikasi
antarmanusia, maka media yang paling dominasi dalam berkomunikasi adalah
pancaindera manusia seperti mata dan telinga. Pesan – pesan yang diterima
selanjutnya oleh pancaindera selanjutnya diproses oleh pikiran manusia untuk
mengontrol dan menentukan sikapnya terhadap sesuatu, sebelum dinyatakan dalam
tindakan.
§ Association
of Education and Communication Technology (AECT), mengatakan bahwa media
sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan
informasi. Dari beberapa pendapat ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
media adalah alat, sarana, perantara, dan penghubung untuk menyebar, membawa
atau menyampaikan sesuatu pesan (message) dan gagasan kepada penerima.
Sedangkan media pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perbuatan, minat
serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi
pada diri siswa.
Ø Perbedaan
media pendidikan dengan sumber belajar
Media pembelajaran adalah alat, sarana,
perantara, dan penghubung untuk menyebar, membawa atau menyampaikan sesuatu
pesan (message) dan gagasan, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan,
perbuatan, minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar
mengajar terjadi pada diri siswa. Dalam media pembelajaran terdapat dua unsur
yang terkandung , yaitu (a) pesan atau bahan pengajaran yang akan disampaikan
atau perangkat lunak, dan (b) alat penampil atau perangkat keras. Sebagai
contoh guru akan mengajarkan bagaimana urutan gerakan melakukan sholat.
Kemudian guru tersebut menuangkan ide-idenya dalam bentuk gambar ke dalam
selembar kertas, ia menggambarkan setiap gerakan sholat tersebut dalam kertas
tersebut, saat di kelas ia menjelaskannya kepada siswa bagaimana gerakan sholat
tersebut dengan cara memperlihatkan poster yang bergambarkan gerakan-gerakan
yang telah ia buat sebelumnya. Kemudian siswapun melakukan gerakan sholati
dengan apa yang terdapat dalam poster tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya
poster ini termasuk ke dalam media sederhana.
Sedangkan sumber belajar (learning resources)
adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat
digunakan oleh siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara
terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar atau
mencapai kompetensi tertentu. Sumber belajar adalah bahan-bahan yang
dimanfaatkan dan diperlukan dalam proses pembelajaran, yang dapat berupa buku
teks, media cetak, media elektronik, narasumber, lingkungan sekitar, dan
sebagainya yang dapat meningkatkan kadar keaktifan dalam proses pembelajaran.
PERTEMUAN 11
A. PENGERTIAN
MEDIA
Media
adalah segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan informasi
atau pesan. Kata media berasal dari kata latin, merupakan bentuk jamak dari
kata “medium”. Secara harfiah kata tersebut mempunyai arti
"perantara" atau "pengantar", yaitu perantara sumber pesan
(a source) dengan penerima pesan (a receiver). Jadi, dalam pengertian yang
lain, media adalah alat atau sarana yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan
dari komunikator kepada khalayak. Banyak ahli dan juga organisasi yang memberikan
batasan mengenai pengertian media.
B. MENURUT
PARA AHLI
1. Menurut
Syaiful Bahri Djamarah: Media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan
sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan.
2. Menurut
Schram: Media adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk
keperluan pembelajaran.
3. Menurut
National Education Asociation (NEA): Media adalah sarana komunikasi dalam
bentuk cetak maupun audio visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya.
4. Menurut
Briggs: Media adalah alat untuk memberikan perangsang bagi siswa supaya terjadi
proses belajar.
5. Asociation
of Education Comunication Technology (AECT): Media adalah segala bentuk dan
saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan.
6. Menurut
Gagne: Media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat
merangsang siswa untuk belajar.
7. Menurut
Miarso: Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan
pesan yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa
untuk belajar.
C. MENURUT
JENISNYA
1. Media
Visual: media visual adalah media yang bisa dilihat, dibaca dan diraba. Media
ini mengandalkan indra penglihatan dan peraba. Berbagai jenis media ini sangat
mudah untuk didapatkan. Contoh media yang sangat banyak dan mudah untuk
didapatkan maupun dibuat sendiri. Contoh: media foto, gambar, komik, gambar
tempel, poster, majalah, buku, miniatur, alat peraga dan sebagainya.
2. Media
Audio: media audio adalah media yang bisa didengar saja, menggunakan indra
telinga sebagai salurannya. Contohnya: suara, musik dan lagu, alat musik,
siaran radio dan kaset suara atau CD dan sebagainya.
3. Media
Audio Visual: media audio visual adalah media yang bisa didengar dan dilihat
secara bersamaan. Media ini menggerakkan indra pendengaran dan penglihatan
secara bersamaan. Contohnya: media drama, pementasan, film, televisi dan media
yang sekarang menjamur, yaitu VCD. Internet termasuk dalam bentuk media audio
visual, tetapi lebih lengkap dan menyatukan semua jenis format media, disebut
Multimedia karena berbagai format ada dalam internet.
PERTEMUAN 12
A. EVALUASI
Evaluasi
adalah proses melakukan pertimbangan nilai tentang sesuatu (produk, kinerja,
tujuan, proses, prosedur, program pendekatan, fungsi). Evaluasi Belajar dan
Kemampuan (dapat menghasilkan kelulusan). Evaluasi sering menggunakan asesmen.
B. ASESMEN
Asesmen
adalah proses untuk memperoleh informasi yang dapat digunakan pada evaluasi.
Asesmen atau penilaian merupakan tahapan dalam proses belajar mengajar yang
relatif cukup rumit pelaksanaannya. Penilaian sering diterjemahkan dari dua istilah
asing yang sebenarnya memiliki makna berbeda. Dua istilah tersebut adalah
evaluation dan assessment.
C. PENILAIAN
ASESMENT
Assessment
merupakan proses pengumpulan dan diskusi tentang informasi yang diperoleh dari
berbagai sumber, dalam rangka mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang apa
yang sudah diketahui dan dipahami oleh mahasiswa, dan apa yang dapat mereka
lakukan dengan pengetahuan dan pemahamannya itu sebagai hasil dari pengalaman
belajar yang mereka peroleh. Melalui Assessment dapat ditentukan seberapa jauh
kemajuan belajar mahasiswa. Melalui assessment dapat diketahui capaian
competency level melalui program-program yang mereka tempuh dan memungkinkan
bagi mereka untuk menunjukkan capaian standar sebagaimana yang telah
ditetapkan. Assessment lebih bermakna sebagai penilaian yang dilakukan untuk
memberikan ‘ grade’ baik secara numeric (misalnya skala 100 atau skala 5),
abjad (A – F), dan deskripsi, baik yang menyangkut order seperti sangat baik,
baik, cukup, kurang dan sebagainya atau yang bersifat dikotomi seperti kompeten
atau tidak kompeten.
Banyak
orang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi, pengukuran (measurement),
tes, dan penilaian (assessment), padahal keempatnya memiliki pengertian yang
berbeda. Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu
program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak,
dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi
berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Stufflebeam (Abin Syamsuddin
Makmun, 1996) memengemukakan bahwa : educational evaluation is the process of
delineating, obtaining,and providing useful, information for judging decision
alternatif . Dari pandangan Stufflebeam, kita dapat melihat bahwa esensi dari
evaluasi yakni memberikan informasi bagi kepentingan pengambilan keputusan. Di
bidang pendidikan, kita dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu
kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru.
D. JENIS-JENIS
EVALUASI DAN ASESMEN
1. Tes
Tertulis
Tes
tertulis merupakan tes dalam bentuk bahan tulisan (baik soal maupun
jawabannya). Dalam menjawab soal siswa tidak selalu harus merespons dalam
bentuk menulis kalimat jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk mewarnai, memberi
tanda, menggambar grafik, diagram dan sebagainya.
2. Performance
Assessment
Performance
Assessment merupakan penilaian dengan berbagai macam tugas dan situasi dimana
peserta tes diminta untuk mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasikan
pengetahuan yang mendalam, serta keterampilan di dalam berbagai macam konteks.
Jadi boleh dikatakan bahwa Performance Assessment adalah suatu penilaian yang
meminta peserta tes untuk mendemonstrasikan dan mengaplikasikan pengetahuan ke
dalam berbagai macam konteks sesuai dengan criteria yang diinginkan.
3. Penilaian
Portofolio
Portofolio
merupakan kumpulan atau berkas pilihan yang dapat memberikan informasi bagi
suatu penilaian.
4. Penilaian
Proyek
Penilaian
Proyek. Adalah tugas yang harus diselesaikan dalam periode/ waktu tertentu.
Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari pengumpulan,
pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data. Karena dalam
pelaksanaannya proyek bersumber pada data primer/ sekunder, evaluasi hasil dan
kerjasama dengan pihak lain, proyek merupakan suatu sarana yang penting untuk
menilai kemampuan umum dalam semua bidang.
5. Product
Assessment
Penilaian
hasil kerja siswa merupakan penilaian terhadap keterampilan siswa dalam membuat
suatu produk benda tertentu dan kualitas produk tersebut. Penilaian sikap.
Manusia
mempunyai sifat bawaan, misalnya: kecerdasan, temperamen, dan sebagainya.
Faktor-faktor ini memberi pengaruh terhadap pembentukan sikap.
PERTEMUAN 14
A. HAKIKAT
PBSI
Bahasa
merupakan salah satu kemampuan terpenting manusia yang memungkinkan ia unggul
atas makhluk-makhluk lain di muka bumi, sehingga tidak ada tidak ada sistem
komunikasi yang terintegrasi, mencakup ujaran, membaca dan menulis, melainkan
sistem kebahasaan. Pada dasarnya setiap pengajaran bahasa bertujuan agar
peserta didik atau para murid mempunyai keterampilan berbahasa. Menurut Tarigan
(1991: 40) bahwa “Terampil dalam berbahasa meliputi empat hal, yakni: terampil
menyimak, terampil berbicara, terampil menulis dan terampil membaca”.
Keempatnya merupakan catur tunggal dalam pengajaran bahasa Indonesia. Keempat
aspek tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu: keterampilan yang bersifat menerima
(reseptif) yang meliputi keterampilan membaca dan menyimak, dan keterampilan
yang bersifat mengungkap (produktif) yang meliputi keterampilan menulis dan
berbicara (Muchlisoh, 1992).
Pembelajaran
bahasa Indonesia pada satuan pendidikan sekolah dasar dibagi dalam dua kelompok
utama yakni peringkat pemula (kelas I–III) dan peringkat lanjutan (kelas
IV–VI). Penerapan pembelajaran bahasa untuk kedua kelompok tersebut berbeda
karena sasaran dan tujuan pengajarannyapun berbeda. Bagi peringkat pemula
penguasaan keterampilan membaca–menulis permulaan dan menyimak–berbicara
tingkat sederhana bertujuan untuk mengarahkan pada pelatihan penggunaan keterampilan
berbahasa yang lebih kompleks dan mendekati kenyataan (Subana dan Sunarti,
2005).
Pembelajaran
yang ditujukan untuk tingkat lanjutan (kelas IV–VI) dimaksud-kan untuk melatih
dan mengembangkan penguasaan keterampilan berbahasa murid secara integral yang
meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca
dan keterampilan menulis. Keterampilan berbicara adalah suatu proses
penyampaian pesan yang dilakukan secara lisan. Sebagai proses, di dalam
kegiatan berbicara terdapat lima unsur yang terlibat, yaitu pembicara, isi
pembicaraan, saluran, penyimak, dan tanggapan penyimak (Anonim, 2009).
B. METODE
Metode
pembelajaran memiliki banyak macam-macam dan jenisnya, setiap jenis metode
pembelajaran mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tidak hanya
menggunakan satu metode saja, mengkombinasikan penggunaan beberapa metode yang
sampai saat ini masih banyak digunakan dalam proses belajar mengajar. Berikut
ini akan di uraikan beberapa jenis-jenis metode pembelajaran.
1. Metode
Ceramah (Preaching Method)
Metode ceramah adalah penerangan secara
lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan
pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Seperti ditunjukkan oleh
Mc Leish (1976), melalui ceramah, dapat dicapai beberapa tujuan. Dengan metode
ceramah, guru dapat mendorong timbulnya inspirasi bagi pendengarnya.
Gage dan Berliner (1981:457), menyatakan
metode ceramah cocok untuk digunakan dalam pembelajaran dengan ciri-ciri
tertentu. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang berupa informasi
dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
2. Metode
Diskusi ( Discussion Method )
Muhibbin Syah ( 2000 ), mendefinisikan
bahwa metode diskusi adalah metode mengajar yang sangat erat hubungannya dengan
memecahkan masalah (problem solving). Metode ini lazim juga disebut sebagai
diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama ( socialized
recitation ).
Metode diskusi diaplikasikan dalam
proses belajar mengajar untuk :
a. Mendorong
siswa berpikir kritis
b. Mendorong
siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas
c. Mendorong
siswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memcahkan masalah bersama
d. Mengambil
satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan
masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama
3. Metode
Demontrasi ( Demonstration method )
Metode demonstrasi adalah metode
mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan
melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media
pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
Menurut Muhibbin Syah ( 2000) Metode demonstrasi
adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara
kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran.
Manfaat psikologis pedagogis dari
metode demonstrasi adalah :
a. Perhatian
siswa dapat lebih dipusatkan
b. Proses
belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
c. Pengalaman
dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.
4. Metode
Ceramah Plus
Metode ceramah plus adalah metode
mengajar yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah gabung
dengan metode lainnya.Dalam hal ini penulis akan menguraikan tiga macam metode
ceramah plus yaitu :
a. Metode
ceramah plus tanya jawab dan tugas (CPTT)
Metode
ini adalah metode mengajar gabungan antara ceramah dengan tanya jawab dan
pemberian tugas. Metode campuran ini idealnya dilakukan secar tertib, yaitu :
1) Penyampaian
materi oleh guru
2) Pemberian
peluang bertanya jawab antara guru dan siswa.
3) Pemberian
tugas kepada siswa
4) Metode
ceramah plus diskusi dan tugas (CPDT)
Metode ini dilakukan secara tertib
sesuai dengan urutan pengkombinasiannya, yaitu pertama guru menguraikan materi
pelajaran, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
b. Metode
ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
Metode
ini dalah merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran
dengan kegiatan memperagakan dan latihan (drill).
5. Metode
Resitasi ( Recitation Method )
Metode resitasi adalah suatu metode
mengajar dimana siswa diharuskan membuat resume dengan kalimat sendiri.
6. Metode
Percobaan ( Experimental Method )
Metode percobaan adalah metode pemberian
kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan
suatu proses atau percobaan.
7. Metode
Karya Wisata
Karya wisata berarti kunjungan diluar
kelas. Metode karya wisata adalah suatu metode mengajar yang dirancang terlebih
dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan
bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang
kemudian dibukukan.
Menurut Roestiyah (2001:85) ,teknik
karya wisata ini digunakan karena memiliki tujuan sebagai berikut: Dengan
melaksanakan karya wisata diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung
dari obyek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik
seseorang serta dapat bertanya jawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu
memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran, ataupun pengetahuan
umum. Juga mereka bisa melihat, mendengar, meneliti dan mencoba apa yang
dihadapinya, agar nantinya dapat mengambil kesimpulan, dan sekaligus dalam
waktu yang sama ia bisa mempelajari beberapa mata pelajaran.
8. Metode
Latihan Keterampilan ( Drill Method )
Metode latihan keterampilan adalah suatu
metode mengajar , dimana siswa diajak ke tempat latihan keterampilan untuk
melihat bagaimana cara membuat sesuatu, bagaimana cara menggunakannya, untuk
apa dibuat, apa manfaatnya dan sebagainya. Contoh latihan keterampilan membuat
tas dari mute/pernik-pernik.
Metode mengajar beregu adalah suatu
metode mengajar dimana pendidiknya lebih
dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas. Biasanya salah seorang
pendidik ditunjuk sebagai kordinator. Cara pengujiannya, setiap pendidik
membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan maka setiap siswa yang diuji
harus langsung berhadapan dengan team pendidik tersebut.
9. Metode
Perancangan ( Projeck Method )
Suatu metode mengajar dimana pendidik
harus merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai obyek kajian.
10. Metode
Global (Ganze Method )
Suatu metode mengajar dimana siswa
disuruh membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang dapat
mereka serap atau ambil intisari dari materi tersebut.
11. Metode
Discovery
Salah satu metode mengajar yang
akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah-sekolah yang sudah maju adalah
metode discovery, hal itu disebabkan karena metode discovery ini:
a. Merupakan
suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif
b. Dengan
menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperole akan setia dan
tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa
c. Pengertian
yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul- betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer
dalam situasi lain
d. Dengan
menggunakan strategi penemuan, anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah
yang akan dapat dikembangkannya sendiri,
e. Dengan
metode penemuan ini juga, anak belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan
probela yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan
bermasyarakat.
Menurut
Encyclopedia of Educational Research, penemuan merupakan suatu strategi yang
unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam berbagai cara, termasuk mengajarkan
ketrampilan menyelidiki dan memecahkan masalah sebagai alat bagi siswa untuk
mencapai tujuan pendidikannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode
discovery adalah suatu metode dimana dalam proses belajar mengajar guru
memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara
tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.
12. Metode
Inquiry
Metode inquiry adalah metode yang mampu
menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama
belajar. Inquiry menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar yang aktif
(Mulyasa , 2003:234).
Kendatipun metode ini berpusat pada
kegiatan peserta didik, namun guru tetap memegang peranan penting sebagai
pembuat desain pengalaman belajar. Guru berkewajiban menggiring peserta didik
untuk melakukan kegiatan. Kadang kala guru perlu memberikan penjelasan,
melontarkan pertanyaan, memberikan komentar, dan saran kepada peserta didik.
Guru berkewajiban memberikan kemudahan belajar melalui penciptaan iklim yang
kondusif, dengan menggunakan fasilitas media dan materi pembelajaran yang
bervariasi.
Inquiry pada dasarnya adalah cara
menyadari apa yang telah dialami. Karena itu inquiry menuntut peserta didik
berfikir. Metode ini melibatkan mereka dalam kegiatan intelektual. Metode ini
menuntut peserta didik memproses pengalaman belajar menjadi suatu yang bermakna
dalam kehidupan nyata. Dengan demikian , melalui metode ini peserta didik
dibiasakan untuk produktif, analitis , dan kritis.
PERTEMUAN 15
Model pembelajaran Interaktif adalah suatu
cara atau teknik pembelajaran yang digunakan guru pada saat menyajikan bahan
pelajaran dimana guru pemeran utama dalam menciptakan situasi interaktif yang
edukatif, yakni interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan
dengan sumber pembelajaran dalam menunjang tercapainya tujuan belajar. Menurut
Syah (1998) proses belajar mengajar keterlibatan siswa harus secara totalitas,
artinya melibatkan pikiran, penglihatan, pendengaran dan psikomotor
(keterampilan, salah satunya sambil menulis). Dalam proses mengajar seorang
guru harus mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan media yang dapat
dilihat, memberi kesmpatan untuk menulis dan mengajukan pertanyaan atau
tanggapan sehingga terjadi dialog kreatif yang menunjukan proses belajar
mengajar yang interaktif.
Pengembangan
model Pembelajaran interaktif dalam mata pelajaran IPS dapat dilakukan guru
pada semua pokok bahasan, dengan syarat harus memperhatikan Sembilan hal yakni
: motovasi, pemusatan perhatian, latar belakang siswa dan konteksitas materi
pelajaran, perbedaan individual siswa, belajar sambil bermain, belajar sambil
bekerja, belajar menemukan dan memecahkan permasalahan serta hubungan sosial.
Dalam proses kegiatan belajar mengajar yang interaktif, guru berperan sebagai
pengajar, motivator, fasilitator, mediator, evaluator, pembimbing dan
pembaru. Dengan demikian kedudukan siswa dalan kegiatan pem,belajaran di dalam
kelas melalui peran aktif, dimana aktifitasnya dapat diukur dari kegiatan
memperhatikan, memcatat, bertanya menjawab, mengemukakan pendapat dan
mengerjakan tugas, baik tugas kelompok maupun tugas individu. Dalam situasi
belajar yang demikian siswa akan mendapatkan pengalaman yang berkesan,
menyenangkan dan tidak membosankan.
Ahmad Sabari (2005;52) memaparkan tentang
syarat-syarat yang harus diperhatikan oleh seorang guru dalam penggunaan model
pembelajaran yaitu sebagai berikut :
1. Model pembelajaran
yang digunakan harus dapat membangkitkan motivasi, minat atau gairah belajar
siswa.
2. Model pembelajaran
yang digunakan dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut,
seperti melakukan interaksi dengan guru dan siswa lainnya.
3. Model pembelajaran
harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberikan tanggapannya
terhadap materi yang disampaikan.
4. Model pembelajaran
harus dapat menjamin perkembangan keegiatan kepribadian siswa.
5. Model pembelajaran
yang digunakan harus dapat mendidik siswa dalam teknik belajar sendiri dan cara
memperoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.
6. Model yang digunakan
harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap siswa dalam
kehidupan sehari-hari.
Ada empat alasan mengapa
siswa harus dikembangkan kemampuan berpikir. Pertama, kehidupan kita dewasa ini
ditandai dengan abad informasi yang menuntut setiap orang untuk memiliki kemampuan dalam
mencari, menyaring guna menentukan pilihan dan memanfaatkan informasi tersebut
sesuai dengan kebutuhan dan kehidupannya, ;kedua, setiap orang senantiasa
dihadapkan pada berbagai masalah dan ragam pilihan sehingga untuk itu dituntut
memiliki kemampuan berfikir krisis dan kreatif, karena masalah dapat
terpecahkan dengan pemikiran seperti itu, ketiga kemampuan memandang sesuatu
hal dengan cara baru atau tidak konvensional merupakan keterampilan penting
dalam memecahkan masalah, dan alasan keempat, kreatifitas merupakan aspek
penting dalam memecahkan masalah, mulai dari apa masalahnya, mengapa muncul
masalah dan bagaimana cara pemecahannya.
Peran guru mempunyai hubungan erat dengan cara
mengaktifkan siswa dalam belajar, terutama dalam proses pengembangan
keterampilan. Menurut Balen (1993), pengembangan keterampilan tersebut yang
harus dimiliki siswa adalah ketrampilan berpikir, keterampilan social dan
keterampilan praktis. Ketiga keterampilan tersebut dapat dikembangkan dalam
situasi belajar mengajar yang intraktif antara guru dengan siswa dan siswa
dengan siswa.
Usman.M.Uzer (1990), mengatakan bahwa pola
interaksi optimal antara guru dan siswa, antara siswa dan guru dan antara siswa
dan siswa merupakan komunikasi multiarah yang sesuai dengan konsep siswa aktif.
Sebagaimana yang dikehendaki para ahli dalam pendidikan modern, hal ini sulit
terjadi pada mixed ability karena pada umumnya interaksi hanya terjadi antar
siswa pandai dan guru. Agar siswa termotivasi dalam komunikasi multiarah, maka
guru perlu memilih strategi pembelajaran yang menyenangkan. Sebagaimana
pendapat Murray (1984) yang mnyatakan hal-hal yang bersifat menyenangkan dapat
menggali dan mengembangkan motivasi siswa. Motivasi siswa dipengaruhi taraf
kelsulitan materi. Ini berarti motivasi dapat berkurang apabila materi
pembelajaran mempunyai taraf kesulitan yang tinggi atau sebaliknya. Tetapi
dapat juga taraf kesulitan justru tergantung pada motivasi siswa. Hal tersebut
didukung oleh Sagimun dan Bimo Walgito (1983) yang menyatakan bahwa untuk
membangkitkan emosi intelektual, siswa diberi semacam permainan-permainan atau
teka-teki atau cerita-cerita yang berkaitan dengan materi yang hndak diajarkan.
Murray dan Bimo Wlgito (1983) mnyatakan bahwa siswa usia anak-anak senang
belajar hal-hal yang nyata, dan yang menyenangkan.
Guru perlu memahami adanya perbedaan dalam
bidang intelektual, terutama dalam pengelompokan siswa di kelas. Siswa yang
kurang cerdas jangan dikelompokkan dengan siswa yang kecerdasannya setingkat
dengannya, tetapi perlu dimasukan kedalam siswa yang cerdas. Dengan harapan
siswa yang kurang cerdas terpacu lebih kreatif, ikut terlibat langsung dengan
motivasi yang tinggi dalam kerjasama dengan teman sekelompok dengannya, Mursal
(1981).
Kegiatan balajar tidak ditekankan pada “hasil“
tetapi pada “Proses” belajar. Jadi yang lbih utama adalah menyusun strategi
bagaimana agar siswa memperoleh pengetahuan dengan cara “mengalami” bukan
“menghafal. Menurut Piaget dan Slavin (1995), menyatakan bahwa struktur
pengetahuan di kembangkan dalam otak manusia melalui dua cara yaitu asimilasi
dan akomodasi yang berarti struktur pengetahuan baru dibuat atas dtruktur
pengetahuan yang sudah ada, pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk
menyesuaikan datangnya pengetahuan baru.
Menurut Drost, SJ (1999), proses pembelajara
berjalan dengan baik dan lancar jika terjalin hubungan manusiawi antar guru dan
siswa, hubungan persaudaraan antar siswa, situasi saling membantu, disiplin
kerj, tanggung jawab, mitra dalam pelajaran, menolong, kerjasama yang erat,
brbagi pengalaman, dan dialog reflektif antar pelajar. Hal tersebut sejalan
dengan prinsip accelerated learning yang dikutip dalam barokah (2002),
menyatakan bahwa landasan social dalam belajar mutlak harus ada kerena adanya
kerjasama akan membantu mempercepat belajar dan adnya persaingan akan
memperlambat proses belajar.
Guru dalam proses belajar mengajar yang
interaktif dapat mengembangkan teknik bertanya efektif atau melakuakan dialog
kreatif dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa. Sifat pertanyaan dapat
mengungkapkan sesuatu atau memiliki sifat inkuiri sehingga melalui pertanyaan
yang diajukan, siswa dikembangkan kemampuannya kea rah berfikir kreatif dalam
menghadapi sesuatu. Beberapa komponon yang harus dikuasai oleh guru dalam
menyampaikan pertanyaan yaitu pertanyaan harus mudah dimengerti oleh siswa,
memberi acuan, pemusatan perhatian, pemindahan giliran dan penyebaran,
pemberian waktu berpikir kepada siswa serta pemberian tuntutan. Sedangkan jenis
pertanyaan untuk mengembangkan model dialog kreatif ada enam jenis yaitu :
pertanyaan mengingat, mendeskripsikan, menjelaskan, sintesis, menilai dan
pertanyaan terbuka. Untuk meningkatkan interaksi dalam proses belajar mengajar,
guru hendaknya mengajukan pertanyaan dengan memberi kesempatan kepada siswa
untuk mendiskusikan jawaban dan menjadi dinding pemantul atas jawaban siswa.
Sementara itu Ahmadi (1984;35) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah hasil
yang dicapai dalam suatu usaha, dalam hal ini hasil belajar berupa perwujudan
prestasi belajar siswa yang dapat dilihat pada nilai setiap mengikuti tes hasil
belajar.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar