Penerapan Metode Sensorimotori dengan
Permainan untuk Anak Autis
SKRIPSI
Oleh:
Yuni Ayuning Suri
NIM 15010044037
|
A.
Latar
Belakang
Kata autism berasal dari bahasa yunani yang
terdiri dari dua kata yaitu “aut‟ yang memiliki arti diri sendiri dan “ism‟
yang secara tidak langsung dapat diartikan sebagai orientasi atau arah atau
keadaan ( state ). Sehingga autism sendiri dapat didefinisikan sebagai
kondisi seseorang yang luar biasa asik dengan dirinya sendiri ( Reber, 1985
dalam trevarthen dkk,1998 ).
Autis
pertama kali diperkenalkan dalam suatu makalah pada tahun 1943 oeh seorang
psikiatris Amerika yang bernama Leo Kanner . ia menemukan sebelas anak yang
memiliki ciri – ciri yang sama, yaitu tidak mampu berkomunikasi dan
berinteraksi dengan individu lain dan sangat tak acuh terhadap lingkungan di
luar dirinya, sehingga perilakunya seperti tampak hidup di dunia sendiri.
Autis
merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks yang berhubungan dengan
komunikasi, interaksi sosial dan emosi. Gejala autisme tampak sebelum usia 3
tahun. Bahkan pada autis infantile gejalanya sudah muncul sejak bayi. Autis
juga merupakan suatu konsekuensi dalam kehidupan mental dari kesulitan
perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi beberapa fungsi –fungsi
seperti: persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining),
dan perasaan (feeling). Autis juga dapat dinyatakan sebagai suatu gangguan
dalam penalaran sistematis (systematic reasoning). Dalam suatu analisis
„microsociological‟ tentang logika pemikiran mereka dan interaksi dengan
yang lain (Durig, 1996,dalam trvarten, 1998), penyandang autis memiliki kekurangan
pada creative induction atau membuat penalaran induksi yaitu penalaran
yang bergerak dari premis – premis khusus (minor) menuju kesimpulan umum,
sementara deduksi, yaitu bergerak pada kesimpulan khusus dari premis – premis
(khusus) dan abduksi yaitu peletakan premis – premis umum pada kesimpulan
khusus, kuat( trevarthen, 1998).
Autisme didefinisikan
sebagai gangguan perkembangan dengan tiga aspek atau trias gangguan
perkembangan yaitu gangguan pada interaksi sosial, gangguan pada komunikasi dan
keterbatasan minat serta kemampuan imajinasi (Baron-Cohen, dalam Kurdi 2009).
Gillber dan Coleman (dalam Kurdi 2009) menetapkan lima kriteria untuk mendiagnosis
autisme yaitu gejala interaksi sosial yang sangat berat, perkembangan komunikasi
yang sangat berat, tingkah laku yang berulang-ulang dan gangguan imajinasi bersamaan
dengan munculnya gejala/simtom serta respon abnormal terhadap sensori.
Menurut Reed (dalam
Sujarwanto, 2005:180) “Anak yang mengalami gangguan autistik mengalami
permasalahan yang sangat kompleks”, permasalahan tersebut meliputi: motorik,
sensorik, kognitif, intrapersonal, interpersonal, perawatan diri,
produktivitas, serta leisure. Hasnita, dkk (2015:22) menyatakan bahwa hampir
pada semua anak autis seringkali ditemukan mengalami permasalahan dalam motorik
halus, gerak geriknya kaku dan kasar, anak autis sering terlihat kesulitan
untuk memegang, menekan, menggenggam dan menjimpit benda.
Anak autis menunjukkan
gejala gangguan perilaku motorik maupun sensorik. Kebanyakan anak autisme menunjukkan
adanya stereotip, seperti bertepuk tangan dan menggoyang-goyangkan tubuh. Anak
autis dapat mengalami hiperaktifitas ataupun hipoaktif. Beberapa anak juga
menunjukkan gangguan pemusatan perhatian dan impulsivitas. Selain itu ada pula koordinasi
motorik yang terganggu, tiptoe walking, clumsiness, kesulitan
belajar mengikat tali sepatu, menyikat gigi, memotong makanan, dan mengancingkan
baju.
Elizabeth B Hurlock (1978: 159)
menyatakan bahwa perkembangan motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur
kematangan pengendalian gerak tubuh dan otak sebagai pusat gerak. Gerak ini
secara jelas dibedakan menjadi gerak kasar dan halus. Menurut Endang Rini
Sukamti (200:15) bahwa perkembangan motorik adalah sesuatu proses kemasakan
atau gerak yang langsung melibatkan otot-otot untuk bergerak dan proses
pensyarafan yang menjadi seseorang mampu menggerakkan dan proses persyarafan
yang menjadikan seseorang mampu menggerakan tubuhnya.
Sistem sensorik adalah
sistem yang mengubungan manusia dengan dunia luar. Informasi yang diterima oleh
reseptor menjadi petanda bagi tubuh untuk memberikan respon. Gejala sensorik dapat diklasifikasikan dalam
5 golongan yaitu :
1. Hilang perasaan kalau dirangsang
(anestesia)
2. Perasaan terasa berelebihan kalau
dirangsang (hipersetesia)
3. Perasaan yang timbul secara spontan,
tanpa adanya perangsangan (parestesia)
4. Nyeri
Pembelajaran
sensorimotor yang merupakan bagian dari terapi okupasi (sensori integrasi)
direncanakan dengan membuat rencana pembelajaran individual menyangkut perkembangan
taktil, vestibular, dan proprioseptif.
Bermain merupakan
kegiatan atau aktivitas yang menyenangkan hati dan dapat membuat pikiran serta
tubuh menjadi lebih segar serta sehat. Dalam bermain atau melakukan permainan anak
dapat menggunakan alat ataupun tidak. Tentunya dengan adanya alat atau media dalam
bermain akan lebih menyenangkan dan bermakna.
Menurut Ratna (dalam
Fadillah, dkk, 2014:28) dengan bermain otot-otot anak akan bekerja maksimal,
metabolisme tubuh meningkat dan perkembangan otot lebih bagus. Bermain
merupakan kegiatan yang menyenangkan. Dalam bermain, anak autis dapat mencakup
berbagai perkembangan lainnya seperti mengembangkan kemampuan interaksi dan
sosialisasi anak autis serta sebagai media rekreasi dan relaksasi.
Gunarsa (2008:12) menyatakan beberapa
permainan dan alat bermain yang sederhana seperti kertas koran, balok titian,
bermain bola, playdough, dan lain-lain dapat mengembangkan aspek motorik
anak. Dalam penelitian ini akan diterapkan bermain playdough untuk
mengembangkan kemampuan motorik halus anak autis khususnya untuk mengembangkan
kemampuan koordinasi jari tangan anak autis seperti memegang, menekan,
menggenggam dan menjimpit.
Jenis permainan taktil
yang dapat diberikan adalah bermain playdough
dan memasukkan benda ke dalam kotak. Bermain playdough atau plastisin dapat dijadikan permainan yang
merangsang rabaan anak autis. Anak diajak untuk membentuk menjadi bulat-bulatan
atau berbagai macam bentuk.
Playdough adalah salah satu media bermain edukatif
yang terbuat dari bahan yang murah dan mudah ditemui yaitu tepung dan pewarna
dari bahan alam. Media bermain ini tidak berbahaya bagi anak autis. Menurut
Einon (2004:96) playdough adalah
bahan bermain yang cocok bagi anak. Teksturnya sangat lembut untuk diremas,
namun cukup elastis untuk dibentuk.
Bermain playdough berkaitan dengan
karakteristik positif dan potensi yang masih dimiliki anak autis yang berkaitan
dengan kemampuan pengelihatan, pendengaran dan peraba. Anak autis mudah untuk
memahami dan mengingat berbagai hal yang anak lihat atau anak pegang (Lakshita,
2012:60). Melalui kemampuan pengelihatan dan pendengaran yang dimiliki, anak
autis dapat dengan mudah untuk mengetahui cara bermain playdough. Melalui bermain playdough anak dapat menggunakan kemampuan perabaannya untuk
memegang, menekan, menggenggam dan menjimpit playdough serta anak dapat membentuk berbagai macam bentuk
sesuai dengan kreasinya baik menggunakan cetakan maupun tidak.
Dalam bermain playdough, anak autis tidak hanya
merasakan kesenangan saja, tetapi juga bermanfaat dalam perkembangan motorik
halus anak autis. Bermain playdough merupakan
cara yang baik untuk memperkuat otot-otot jari anak, selain itu dengan bermain playdough dapat membuat anak relax sehingga menimbulkan suasana
yang menyenangkan dalam melakukan permainan (Pitamic, 2013:73). Dengan bermain playdough anak autis dapat
menggunakan tangan untuk membentuk adonan dengan berbagai teknik seperti
menekan, menjimpit, mengepal yang dapat melatih koordinasi jari tangan.
Sedangkan kegiatan
memasukkan benda-benda ke dalam kotak ini merupakan jenis permainan edukatif
yang digunakan untuk mengenalkan bentuk-bentuk geometri seperti lingkaran,
kotak, segitiga, oval dan lain-lain. Anak diperintahkan untuk memasukkan benda
dengan macam-macam bentuk dan dimasukkan ke dalam kotak sesuai dengan bentuknya
tersebut. Hal ini dapat membantu melatih fokus atau perhatian anak autis.
Selain dapat menjadi media pembelajaran untuk mengenalkan bentuk.
Untuk jenis permainan
Vestibular yang dapat diberikan adalah bermain puzzle dan menempel stempel
berbentuk bangun datar. Menyusun potongan-potongan gambar sederhana misal
dengan 3 potongan. Anak dibantu untuk meletakkan gambar pada potongan yang
seharusnya. Anak dibantu untuk mengenali gambar tersebut gambar apa. Anak
disuruh menyebutkan nama gambar/puzzle yang sedang dikerjakan. Dalam hal ini
permainan puzzle dapat melatih koordinasi antara otak dan anggota gerak atas
(tangan), sekaligus pemecahan masalah atau problem solving dengan mencocokan
potongan demi potongan yang ada.
Rokhmat (dalam Mulkan Andika Situmorang,
2012: 5) menyatakan, puzzle adalah permainan
konstruksi melalui kegiatan memasang atau menjodohkan kotak-kotak, atau
bangun-bangun tertentu sehingga akhirnya membentuk sebuah pola tertentu”.
Puzzle merupakan permainan mencocokkan, dan material lain untuk
mengajarkan keterampilan seperti mengenal bentuk, ukuran, jumlah, warna,
kesamaan, dan perbedaan, berhitung, mengurutkan, dan mengelompokkan. Anak juga
mengembangkan keterpaduan gerakan mata-tangan dan melatih menggunakan otot
kecil di tangan dan jari mereka ketika bermain dengan material penguasaan benda
(Nielsen dalam Prihanti Ratna Ekasari, 2013: 21).
Dan stempel berbentuk bangun datar dapat
menjadi media pembelajaran untuk memperkuat pembelajaran anak dalam mengenal
bentuk bangun datar, selain dapat melatih fokus anak autis dalam menempel
stempel tersebut. Stempel berbentuk bangun datar juga dapat melatih fokus anak
dengan menempelkan stempel sesuai tempat yang telah disediakan.
Oleh karena itu metode sensorimotori dengan
permainan untuk anak autis seperti playdoh, memasukkan benda-benda di dalam
kotak, puzzle, dan stempel bangun ruang akan dibahas sebagai topic dalam
makalah penelitian ini.
A.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang
telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah antara lain :
1. Apa
definisi atau pengertian dari autisme?
2. Apa
pengertian Sensorimotori?
3. Bagaimana
penerapan metode sensorimotori dengan permainan untuk anak autis?
B. Tujuan
Adapun tujuan
penelitian yang hendak dicapai ialah:
1. Untuk
mengetahui dan memahami definisi dari autisme
2. Untuk
mengetahui pengertian Sensorimotori
3. Untuk
mengetahui dan memahami penerapan metode sensorimotori dengan permainan untuk
anak autis
C. Manfaat
Sejalan dengan tujuan penelitian, adapun
manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk mahasiswa diharapkan dapat menjadi
bahan referensi atau sumber belajar.
2.
Untuk masyarakat umum penelitian ini diharapkan
dapat menambah wawasan serta pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus
terutama anakautisme.
BAB
II
Kajian
Pustaka
Istilah autisme berasal dari kata
“Autos” yang berarti diri sendiri dan “isme” yang berarti suatu aliran, sehingga
dapat diartikan sebagai suatu paham tertarik pada dunianya sendiri (Suryana,
2004). Autisme pertama kali ditemukan oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner
mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan
orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan bahasa yang
tertunda, echolalia, mutism, pembalikan kalimat, adanya aktivitas bermain
repetitive dan stereotype, rute ingatan yang kuat dan keinginan obsesif untuk
mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya (Dawson & Castelloe dalam
Widihastuti, 2007).
PPDGJ (1993)
mendefinisikan autis sebagai gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh
adanya abnormalitas dan atau hendaya perkembangan, dengan ciri fungsi abnormal
dalam bidang interaksi sosial, komunikasi serta perilaku yang terbatas dan
berulang. Pendapat senada dikemukakan oleh Santrock (2009), bahwa gangguan
autistik adalah gangguan perkembangan parah yang dimulai pada 3 tahun pertama
kehidupan dalam bentuk keterbatasan hubungan sosial; komunikasi yang abnormal;
serta pola perilaku yang terbatas, repetitif dan tetap. Yatim (2003)
berpendapat bahwa autis merupakan suatu kumpulan gejala kelainan perilaku dan
kemajuan perkembangan sehinga menyebabkan penyimpangan perkembangan sosial,
kemampuan berbahasa, kepedulian terhadap sekitar, hidup dalam dunianya sendiri,
kelainan emosi, intelektual
dan kemauan.
Durand (2007) menuliskan
gangguan autis sebagai gangguan masa kanak-kanak yang ditandai hendaya
signifikan dalam interkasi sosial, dan komunikasi dan oleh pola-pola perilaku,
interes, dan aktivitas yang terbatas. Turkington (2007) dalam bukunya yang
berjudul “The Encyclopedia of Autism Spectrum Disorder” menjelaskan
banyak hal tentang gangguan autistik. Turkington (2007) menuliskan bahwa
gangguan autis adalah sebuah gangguan perkembangan yang berat sehingga
mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berkomunikasi, berinteraksi dengan orang
lain, dan berespon dengan tepat pada stimulus dari lingkungan.
Kemampuan motorik anak
autis tidak seperti anak pada umumnya. Menurut Assjari dan Sopariah (2011),
kondisi perkembangan mental yang tertinggal, berdampak pada kemampuan motorik
anak autis. Menurut Waiman dkk (2011), terapi sensori integrasi menekankan stimulasi
pada tiga indera utama, yaitu taktil, vestibular, dan proprioseptif. Ketiga sistem
sensori ini memang tidak terlalu familiar dibandingkan indera penglihatan dan pendengaran,
namun sistem sensori ini sangat penting karena membantu interpretasi dan respons
anak terhadap lingkungan. Pengembangan kemampuan tactile (peraba) anak
autis ditekankan untuk dapat mempersepsikan dengan benar sentuhan yang ia
dapatkan. Anak autis cenderung hipersensitif atau hipoaktif terhadap sentuhan yang
ia terima. Sistem vestibular terletak pada telinga dalam (kanal semisirkular)
dan mendeteksi gerakan serta perubahan posisi kepala. Sistem vestibular
merupakan dasar tonus otot, keseimbangan, dan koordinasi bilateral untuk
impulsive (gerakan berulangulang),
dan susah sekali mengontrol dirinya (Waiman,
dkk, 2011).
Menurut Reed (dalam Sujarwanto, 2005:180) “Anak yang
mengalami gangguan autistik mengalami permasalahan yang sangat kompleks”,
permasalahan tersebut meliputi: motorik, sensorik, kognitif, intrapersonal,
interpersonal, perawatan diri, produktivitas, serta leisure. Hasnita, dkk
(2015:22) menyatakan bahwa hampir pada semua anak autis seringkali ditemukan
mengalami permasalahan dalam motorik halus, gerak geriknya kaku dan kasar, anak
autis sering terlihat kesulitan untuk memegang, menekan, menggenggam dan
menjimpit benda.
Sensori adalah stimulus
atau rangsang yang datang dari dalam maupun luar tubuh. Stimulus tersebut masuk
ke dalam tubuh melalui organ sensori (panca indera).
Elizabeth B Hurlock (1978: 159)
menyatakan bahwa perkembangan motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur
kematangan pengendalian gerak tubuh dan otak sebagai pusat gerak. Gerak ini
secara jelas dibedakan menjadi gerak kasar dan halus. Menurut Endang Rini
Sukamti (200:15) bahwa perkembangan motorik adalah sesuatu proses kemasakan
atau gerak yang langsung melibatkan otot-otot untuk bergerak dan proses
pensyarafan yang menjadi seseorang mampu menggerakkan dan proses persyarafan
yang menjadikan seseorang mampu menggerakan tubuhnya.
Elizabeth B Hurlock
(1978: 159) menyatakan bahwa perkembangan motorik diartikan sebagai
perkembangan dari unsur kematangan pengendalian gerak tubuh dan otak sebagai
pusat gerak. Gerak ini secara jelas dibedakan menjadi gerak kasar dan halus.
Menurut Emdang Rini Sukamti (200:15) bahwa perkembangan motorik adalah sesuatu
proses kemasakan atau gerak yang langsung melibatkan otot-otot untuk bergerak
dan proses pensyarafan yang menjadi seseorang mampu menggerakkan dan proses
persyarafan yang menjadikan seseorang mampu menggerakan tubuhnya.
Motorik kasar adalah
kemampuan gerak tubuh yang menggunakan otot-otot besar, sebagian besar atau
seluruh anggota tubuh motorik kasar diperlukan agar anak dapat duduk,
menendang, berlari, naik turun tangga dan sebagainya (Sunardi dan Sunaryo,
2007: 113-114). Bambang Sujiono (2007: 13) berpendapat bahwa gerakan motorik
kasar adalah kemampuan yang membutuhkan koordinasi sebagian besar bagian tubuh
anak. Gerakan motorik kasar melibatkan aktivitas otot-otot besar seperti otot
tangan, otot kaki dan seluruh tubuh anak. Menurut Endang Rini Sukamti (2007:
72) bahwa aktivitas yang menggunakan otot-otot besar di antaranya gerakan
keterampilan non lokomotor, gerakan lokomotor, dan gerakan manipulatif.
Gerakan motorik halus
mempunyai peranan yang sangat penting, motorik halus adalah gerakan yang hanya
melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil
saja. Oleh karena itu gerakian didalam motorik halus tidak membutuhkan tenaga
akan tetapi membutuhkan koordinhasi yang cermat serta teliti. (
Depdiknas:2007:1) Menurut Dini P dan Daeng Sari (1996:72) motorik halus adalah
aktivitas motorik yang melibatkan aktivitas otot-otot kecil atau halus gerakan
ini menuntut koordinasi mata dan tangan serta pengendalian gerak yang baik yang
memungkinkannya melakukan ketepatan dan kecermatan dalam gerak. Yudha M Saputra
dan Rudyanto (2005: 118) menjelaskan bahwa motorik halus adalah kemampuan anak
dalam beraktivitas dengan menggunakan otot-otot halus (kecil) seperti menulis,
meremas, menggenggam, menggambar, menyusun balok dan memasukkan kelereng.
Sedangkan menurut Kartini Kartono (1995: 83) motorik halus adalah ketangkasan,
keterampilan, jari tangan dan pergelangan tangan serta penugasan terhadap
otot-otot urat pada wajah.
Bermain menurut Latif
dkk (2013: 202) terbagi menjadi tiga jenis yaitu bermain sensorimotor atau
fungsional, bermain peran dan bermain pembangunan. Salah satu bentuk bermain
yang dapat mengembangkan kreativitas anak yaitu bermain yang akan melibatkan
seluruh fisik anak untuk berhubungan langsung dengan lingkungan, bermain
tersebut merupakan bermain sensorimotor. Sensorimotor terbagi menjadi sensori
dan motorik, motorik juga terbagi menjadi motorik kasar dan motorik halus.
Menurut Hurlock (2013: 159) keterampilan motorik halus yaitu kemampuan
menggunakan otot-otot halus yang melibatkan koordinasi antara mata dan tangan. Menurut
Jean Piaget bermain fungsional atau sensorimotor dimaksudkan bahwa anak belajar
melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungannya. Main
sensorimotor adalah kegiatan yang menggunakan seluruh panca indranya untuk
bermain.
Menurut Anggraini dalam
Haryani (2014: 59) menyatakan bahwa : Permainan playdough adalah salah
satu aktifitas yang bermanfaat untuk perkembangan otak anak, bermain playdough,
anak tidak hanya memperoleh kesenangan, tapi juga bermanfaat untuk meningkatkan
perkembangan otaknya dan anak-anak bisa membuat bentuk apapun dengan cetakan,
mewarnai playdough dan membentuk pola. Menurut Jatmika dalam Arlinah
(2012:3), diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Melatih
kemampuan sensorik dan motorik. Salah satu cara anak mengenal sesuatu adalah
melalui sentuhan, dengan bermain plastisin anak belajar tentang tekstur dan
cara menciptakan sesuatu.
2) Mengembangkan
kemampuan berfikir. Bermain plastisin bisa mengasah kemampuan berfikir anak.
3) Berguna
meningkatkan Self esteem. Bermain plastisin merupakan bermain tanpa
aturan sehingga berguna untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas anak,
sekaligus mengajarkan tentang pemecahan masalah.
4) Mengasah
kemampuan berbahasa. Meremas, berguling, dan memutar adalah beberapa kata yang
sering didengar anak saat bermain plastisin.
5) Memupuk
kemampuan sosial. Hal ini karena dengan bermain bersama memberi kesempatan
berinteraksi yang akrab, dan bisa belajar bahwa bermain bersama sangat
menyenangkan.
Menurut Arlinah (2012:
5), bahwa bermain playdough sangat menyenangkan, anak bisa meremas,
menggulung atau mencetak berbagai bentuk sesuai dengan imanjinasi mereka
sedangkan kelemahannya tidak dapat membuat obyek yang besar karena membutuhkan
ruang besar dan perawatannya rumit. menurut Rochayah (2012: 33) mengemukakan bermain
playdough:
1) Meningkatkan
kreativitas pada peringkat awal kanan-kanak
2) Membina
imaginasi kreatif anak-anak
3) Mempertingkatkan
kemahiran sensorimotor kanak-kanak
4) Melatih
kanak-kanak menghubungkan kemahiran sosial dan kognitif ketika bermain playdough
bersama teman-teman
Gunarsa (2008:12)
menyatakan beberapa permainan dan alat bermain yang sederhana seperti kertas
koran, balok titian, bermain bola, playdough, dan lain-lain dapat mengembangkan
aspek motorik anak. Dalam penelitian ini akan diterapkan bermain playdough untuk
mengembangkan kemampuan motorik halus anak autis khususnya untuk mengembangkan
kemampuan koordinasi jari tangan anak autis seperti memegang, menekan,
menggenggam dan menjimpit. . Anak autis mudah untuk memahami dan mengingat
berbagai hal yang anak lihat atau anak pegang (Lakshita, 2012:60). Beberapa
jenis dan ragam permainan untuk melatih perkembangan sensorik, intelektual,
emosi, dan sosial (Sunar, D. P. 2008:281-287), beberapa permainan berikut ini
bisa diajarkan pada gangguan penyandang autis: Titian kayu dan balok kayu,
bermain bola, menyusun benda bunder, menggunting dan menempel, membuat kalung.
Memasukkan benda ke kotak, menyebutkan nama-nama benda, melukis dengan jari,
bermain pasir, serta bermain puzzle.
Menurut
Ismail, A. (2006) puzzle adalah permainan yang menyusun suatu gambar
atau benda yang telah dipecah dalam beberapa bagian. Permainan puzzle melibatkan
koordinasi mata dan tangan. Namun secara khusus puzzle biasanya
terbentuk dari sebuah gambar yang terpotong-potong menurut bagian tertentu.
Sedangkan menurut Kamus Bahasa Indonesia puzzle berarti mencengangkan,
membingungkan, mengaduk, mengacau, mengganggu, memperkusut, heran tercengang,
kebuntuhan, kesandung. Menurut Tedjasaputra (2001) permainan adalah kegiatan
yang ditandai oleh aturan serta persyaratan-persyaratan yang disetujui bersama
dan ditentukan dari luar untuk melakukan kegiatan dalam tindakan yang
bertujuan. Manafaat lain menurut Ungguh, J. Muliwan (2009:163) antara lain;
1) Melatih
nalar konstruksi benda dalam diri anak.
2) Melatih
ingatan.
3) Merangsang
imajinasi anak.
4) Mengajari
anak rancang bangun sederhana.
5) Mengenalkan
anak pada bentuk-bentuk atau pola-pola tertentu yang baru.
Menurut Faruq (2007:
36) puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat merangsang
kemampuan anak, yang dimainkan dengan cara membongkar pasang kepingan puzzle
berdasarkan pasangannya. Puzzle merupakan permaianan yang
membutuhkan kesabaran dan ketekunan anak dalam merangkainya. Sebagaimana
dinyatakan oleh Beaty (2013: 240) puzzle menawarkan latihan mengagumkan
bagi ketangkasan jari dan koordinasi mata tangan, serta konsep kognitif
mencocokkan bentuk dan hubungan bagian-dengan-keutuhan. Dinas Pendidikan (2012:
43) bermain puzzle merupakan kegiatan bongkar dan menyusun kembali
kepingan puzzle menjadi bentuk utuh.
Adapun manfaat bermain puzzle
menurut Beaty (2013: 240) dapat melatih ketangkasan jari, koordinasi mata
dan tangan, mengasah otak, mencocokkan bentuk, konsep kognitif, melatih
kesabaran anak dalam menyusun puzzle dan hubungan antar bagian puzzle
sehingga menjadi bentuk puzzle yang utuh. Manfaat bermain puzzle menurut
Yulianti (2008: 43) adalah:
1)
Mengasah otak, kecerdasan otak anak akan
terlatih karena dalam bermain puzzle akan melatih sel-sel otak untuk
memecahkan masalah.
2)
Melatih koordinasi mata dan
tangan,bermain puzzle melatih koordinasi mata dan tangan anak. Hal itu
dikarenakan anak harus mencocokkan kepingan-kepingan puzzle dan menyusun
menjadi satu gambar utuh.
3)
Melatih membaca, membantu mengenal
bentuk dan langkah penting menuju pengembangan keterampilan membaca.
4)
Melatih nalar, bermain puzzle dalam
bentuk manusia akan melatih nalar anak-anak karena anak-anak akan menyimpulkan
dimana letak kepala, tangan, kaki dan lain-lain sesuai dengan logika.
5)
Melatih kesabaran. Aktivitas bermain puzzle,
kesabaran akan terlatih karena saat bermain puzzle di butuhkan
kesabaran dalam menyelesaikan permasalahan.
6)
Memberikan pengetahuan, bermain puzzle
memberikan pengetahuan kepada anak-anak untuk mengenal warna dan bentu.
Anak juga akan belajar konsep dasar binatang, alam sekitar, jenis-jenis benda,
anatomi tubuh manusia dan lain-lain.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis
dan Rancangan Penelitian
Suatu pendekatan
penelitian yang secara primer menggunakan paradigma postpositivist (seperti
pemikiran tentang sebab akibat, reduksi kepada variabel, hipotesis dan
pertanyaan spesifik, menggunakan pengukuran dan observasi, serta pengujian
teori) dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, menggunakan strategi seperti
eksperimen dan survei yang memerlukan data statistika.
Dalam pendekatan ini ada beberapa
bentuk penelitian yakni pertama, penelitian Korelasional / survei adalah suatu
pendekatan umum untuk penelitian yang berfokus pada penaksiran pada kovariasi
di antara variabel yang muncul secara alami. Tujuannya adalah untuk
mengindentifikasi hubungan prediktif denganmenggunakan teknik korelasi atau
teknik statistika yang lebih canggih (Zechmester dalam Emzir,2007:37). Kedua
penelitian Eksperimental (eksperimen) adalah situasi penelitian yang
sekurang-kurangnya satu variabel bebas yang disebut sebagai variabel
eksperimental, sengaja dimanipulasi oleh peneliti Wiersma dalam Emzir (2007:63)
Ketiga, Kausal komparatif (ex post facto) merupakan penyelidikan empiris yang sistematis di mana ilmuwan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksistensi dari variabel tersebut telah terjadi (Kerlinger dalam Emzir,2007:119).
Ketiga, Kausal komparatif (ex post facto) merupakan penyelidikan empiris yang sistematis di mana ilmuwan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksistensi dari variabel tersebut telah terjadi (Kerlinger dalam Emzir,2007:119).
B.
Lokasi Penelitian
Lokasi
penelitian ini berdasarkan tempat yang relevan, yakni di Sekolah Dasar Negeri
Gedangan Sidoarjo.
C.
Sasaran Penelitian
Sasaran
subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 6 anak autis di
Sekolah Dasar Negeri Gedangan Sidoarjo.
D.
Variabel dan Definisi Operasional
Variabel
dalam penelitian ini yaitu :
·
Variabel bebas : Metode Sensorimotori
·
Variabel terikat : Permainan untuk pengembangan sensorimotori
Definisi Operasional :
Definisi operasional dari kemampuan sensorimotori anak autis dapat
dilihat sebagai suatu proses dan sebagai hasil maupun sebagai suatu proses yang
mencakup antara lain proses motorik halus, motorik kasar, penglihatan,
penciuman, perabaan, pendengaran, perasa, keseimbangan dan kekuatan otot.
E.
Instrumen Penelitian
Instrumen
penelitian yang digunakan yaitu :
1.
Lembar observasi dengan bentuk check list.
2.
Lembar acuan hasil wawancara
F.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
·
Observasi yang mana dilakukan dengan
menggunakan metode observasi terstruktur. Yang mana observasi tersetruktur
menggunakan instrumen observasi yang terstruktur dan siap pakai, sehingga
pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda (v) pada tempat yang disediakan.
·
Tes yang mana dengan pre test dan post test. Hal untuk mengetahui sejauh mana kemampuan membaca
siswa tunagrahita sedang dan untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca
siswa.
G.
Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
dengan menganalisis data hasil eksperimen yang menggunakan data pre test dan post test one group design. Metode ini diberikan pada satu kelompok
saja tanpa kelompok pembanding.
|
O1 X O2
|
Rumus pre
test post test design
Hal pertama dalam pelaksanaan ini dilakukan dengan
memberikan tes kepada subjek yang belum diberi perlakuan disebut pre test (O1). Setelah didapatkan hasil pre
test maka kemudian dilakukan treatment (X). Selanjutnya diberikan lagi tes (post test) kepada siswa yang diberikan
treatment. Dan didapat hasil dari post
test, bandingkan antara O1 dan
O2 untuk menentukan seberapa besar
perbedaan yang timbul, kemudian
dilakukan penganalisisan hasil yang didapat menggunakan rumus.
Untuk
analisis data juga digunakan dengan observasi. Hal ini sebagai pengamatan
langsung dari kondisi subjek yang dilakukan dengan terstruktur.
Instrumen Lembar Observasi (chek
list)
Hari
/ tanggal :
...........................
Pukul
: ............................
|
No
|
Nama Siswa
|
Keterampilan Motorik Kasar
|
Keterampilan Motorik Halus
|
Keterampilan Sensorik
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
1
|
2
|
3
|
1
|
2
|
3
|
||
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
dsb
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Rubrik
Penilaian
|
No
|
INDIKATOR KEMAMPUAN
|
NS
|
HASIL PENILAIAN
|
||
|
Ke 1
|
Ke 2
|
Ke 3
|
|||
|
|
Pelaksanaan kegiatan
|
|
|
|
|
|
Bidang komunikasi
|
10
|
|
|
|
|
|
1.
|
Kurangnya komunikasi dan interaksi
sosial yg bersifat menetap pada berbagai konteks
|
1
|
|
|
|
|
2.
|
Kurang mampu dalam komunikasi
sosial dan emosional
|
1
|
|
|
|
|
3.
|
Ketidakmampuan dalam komunikasi verbal
|
1
|
|
|
|
|
4.
|
Ketidakmampuan dalam bahasa tubuh
dan wajah
|
1
|
|
|
|
|
5.
|
Terganggunya komunikasi dalam
bahasa tubuh dan wajah
|
1
|
|
|
|
|
6.
|
Kecenderungan menarik tangan orang
lain bila menginginkan sesuatu
|
1
|
|
|
|
|
7.
|
Kecenderungan mengulang kata-kata (membeo)
|
1
|
|
|
|
|
8.
|
Kata-kata yang diucapkan tidak
mengerti artinya (mengoceh)
|
1
|
|
|
|
|
9.
|
Meniru kalimat-kalimat khas,
iklan, nyanyian tanpa mengerti maknanya
|
1
|
|
|
|
|
10.
|
Tidak memahami pembicaraan orang
lain
|
1
|
|
|
|
|
Jumlah
|
10
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
Bidang Interaksi Sosial
|
6
|
|
|
|
|
|
1
|
Menghindari kontak mata
|
1
|
|
|
|
|
2
|
Tidak bereaksi ketika dipanggil
namanya
|
1
|
|
|
|
|
3
|
Menjauhi ketika diajak bermain
|
1
|
|||
|
4
|
Tidak dapat merasakan empati
|
1
|
|
|
|
|
5
|
Asyik bermain sendiri
|
1
|
|
|
|
|
6
|
Kekurangan dalam mengembangkan,
mempertahankan hubungan, contohnya: kesulitan dalam menyesuaikan perilaku
pada berbagai konteks sosial, kesulitan dalam bermain imajinatif atau
berteman, tidak adanya ketertarikan terhadap teman sebaya
|
1
|
|
|
|
|
|
Jumlah
|
6
|
|
|
|
|
|
|||||
|
Bidang Prilaku
|
12
|
|
|
|
|
|
1
|
Pola perilaku dengan repetitif
(perilaku yang berulang-ulang). Contoh perilaku adaptif: melompat-lompat,
berputar-putar, mengepak-ngepakkan tangan.
|
1
|
|
|
|
|
2
|
Perilaku rutinitas yang kaku
(tidak mau menerima perubahan)
|
1
|
|
|
|
|
3
|
Kelekatan yang abnormal pada suatu
objek tertentu
|
1
|
|
|
|
|
4
|
Acuh tak acuh terhadap orang lain
|
1
|
|
|
|
|
5
|
Asyik dengan dunianya sendiri
|
1
|
|
|
|
|
6
|
Berteriak tanpa sebab
|
1
|
|
|
|
|
7
|
Jalan jinjit
|
1
|
|
|
|
|
8
|
Menyakiti diri sendiri
|
1
|
|
|
|
|
9
|
Menyakiti orang lain
|
1
|
|
|
|
|
10
|
Tidak mau diam, mealakukan
aktifitas yg berlebihan dan tidak terarah (hiperaktif)
|
1
|
|
|
|
|
11
|
Cendrung diam dan menarik diri
(Hipoaktif)
|
1
|
|
|
|
|
12
|
Melamub, bengong, dengan tatapan
kosong
|
1
|
|
|
|
|
Jumlah
|
12
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
Bidang Emosi
|
7
|
|
|
|
|
|
1
|
Tertawa sendiri tanpa sebab
|
1
|
|
|
|
|
2
|
Menangis tanpa alasan
|
1
|
|
|
|
|
3
|
Marah-marah tanpa sebab
|
1
|
|
|
|
|
4
|
Sering menunjukkan perilaku
mengamuk tak terkendali apabila ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya
bahkan ada yang menjadi agresif dan merusak
|
1
|
|
|
|
|
5
|
Rasa takut yang tidak wajar
|
1
|
|
|
|
|
6
|
Sensitif dengan suara-suara
tertenru (bunyi bell, musik tertentu)
|
1
|
|
|
|
|
7
|
Kurang atau bahkan tidak memiliki
rasa empati, (misalnya ketika anak lain menangis karena terluka ia tidak
merasa kasihan atau bahkan merasa terganggu dengan anak yang menangis
tersebut dan mungkin saja malah memukul).
|
1
|
|
|
|
|
Jumlah
|
7
|
|
|
|
|
- PEDOMAN WAWANCARA DENGAN ORANG TUA/WALI
|
No
|
Indikator Kemampuan
|
Ya
|
Tidak
|
|
A
|
Bidang Komunikasi
|
||
|
1
|
Merasakan bahwa anak terlambat berbicara
|
||
|
2
|
Anak tidak ada usaha berkomunikasi
walaupun dengan gerakan ataupun mimic
|
||
|
3
|
Berkata-kata namun ucapannya tidak
mempunyai arti/tidak dimengerti artinya
|
||
|
4
|
Pandai meniru kalimat-kalimat
iklan, menyanyikan lagu-lagu tanpa dimengertinya
|
||
|
5
|
Bisa berbicara tetapi tidak
dipakai untuk berkomunikasi
|
||
|
6
|
Sering meniru/mengulangi perkataan
orang lain
|
||
|
7
|
Apabila menginginkan sesuatu
menarik tangan
|
||
|
8
|
Tidak mengerti pembicaraan orang
lain
|
||
|
B
|
Bidang Interaksi Sosial
|
||
|
1
|
Kalau berhadapan tidak
mau/menghindari tatapan mata
|
||
|
2
|
Tidak boleh apabila dipanggil
namanya
|
||
|
3
|
Cenderung menjauh apabila diajak
bermain
|
||
|
4
|
Tidak mampu menghayati perasaan
orang lain
|
||
|
5
|
Lebih sering asyik dengan dirinya
sendiri
|
||
|
C
|
Bidang Perilaku
|
||
|
1
|
Acuh tak acuh terhadap
lingkungannya
|
||
|
2
|
Sering asyik dengan dunianya
sendiri
|
||
|
3
|
Sulit bahkan tidak mau tidur
|
||
|
4
|
Sering menunjukkan perilaku yang
tidak terarah
|
||
|
5
|
Mondar mandir tanpa tujuan
|
||
|
6
|
Lari kesana kemari
|
||
|
7
|
Memanjat-manjat
|
||
|
8
|
Berputar-putar tidak menentu
|
||
|
9
|
Melompat-lompat
|
||
|
10
|
Mengepak-ngepak tangan
|
||
|
11
|
Berteriak-teriak tanpa sebab
|
||
|
12
|
Berjalan jinjit
|
||
|
13
|
Suka bahkan menyakiti diri sendiri
|
||
|
14
|
Sering nampak bengong dengan
tatapan mata kosong
|
||
|
15
|
Tampak seperti malamun
|
||
|
16
|
Terapaku pada benda-benda tertentu
|
||
|
17
|
Terpaku pada benda-benda bergerak
|
||
|
18
|
Berprilaku menetap
(mengulang-ngulang perilaku kebisaan)
|
||
|
D
|
Bidang Emosi
|
||
|
1
|
Tertawa sendiri tanpa sebab
|
||
|
2
|
Menangis tanpa alasan
|
||
|
3
|
Marah-marah tanpa sebab
|
||
|
4
|
Menangis apabila keinginannya
tidak terpenuhi
|
||
|
5
|
Merasa takut tanpa alasan yang
wajar
|
||
|
E
|
Bidang Persepsi Sensoris
|
||
|
1
|
Menjilat-jilat benda
|
||
|
2
|
Mencium-cium benda
|
||
|
3
|
Menutup telinga bila mendengar
suara keras
|
||
|
4
|
Mencium-cium makanan yang tidak
dimakannya
|
||
|
5
|
Tidak suka memakai baju dari bahan
yang kasar
|
||
|
JUMLAH
|
- INSTRUMEN ASESMEN PERKEMBANGAN SOSIAL
|
No
|
Indikator kemampuan
|
Item
|
Hasil penilaian
|
|||
|
Ke 1
|
Ke 2
|
Ke 3
|
||||
|
Perkembangan sosial
|
20
|
|||||
|
1
|
Sosial reseptif
|
20
|
||||
|
1.1
|
Dapat menatap muka tester
|
8
|
||||
|
1.2
|
Membalas senyum tester
|
1
|
||||
|
1.3
|
Dapat menoleh jika dipanggil
tester
|
1
|
||||
|
1.4
|
Tersenyum spontan kepada yang baru
dikenalnya
|
1
|
||||
|
1.5
|
Tidak mudah marah atau menangis
|
1
|
||||
|
1.6
|
Mengikuti rangsangan dengan
matanya.
|
1
|
||||
|
1.7
|
Marah bila mainannya diambil
|
1
|
||||
|
1.8
|
Tidak mudah beralih perhatian
|
1
|
||||
|
Jumlah
|
8
|
|||||
|
2
|
Sosial Ekspresif
|
7
|
||||
|
2.1
|
Dapat bersalaman
|
1
|
||||
|
2.2
|
Dapat memperkenalkan diri
|
1
|
||||
|
2.3
|
Mengambil benda yang diminta orang
lain
|
1
|
||||
|
2.4
|
Bisa disuruh untuk memberikan
sesuatu kepada orang lain
|
1
|
||||
|
2.5
|
Mengucapkan terimakasih apabila
diberi sesuatu
|
1
|
||||
|
2.6
|
Mengucapkan terimakasih apabila
ditolong
|
1
|
||||
|
2.7
|
Sua menolong orang lain
|
1
|
||||
|
Jumlah
|
7
|
|
|
|
||
|
|
||||||
|
3
|
Sosial Motoris
|
6
|
||||
|
3.1
|
Menyatakan keinginan dengangerakan
tanpa menangis (menunjuk, menarik, mengambil)
|
1
|
||||
|
3.2
|
Dapat menggunakan benda sesuai
fungsinya
|
1
|
||||
|
3.3
|
Mau bermain bola dengan tester
|
1
|
||||
|
3.4
|
Tidak suka mengambil barang orang
lain
|
1
|
||||
|
3.5
|
Mengetuk pintu/permisi apabila mau
masuk ruangan
|
1
|
||||
|
3.6
|
Membantu pekerjaan tester
|
1
|
||||
|
Jumlah
|
6
|
|||||

Tidak ada komentar :
Posting Komentar