Can you see in the dark?

Minggu, 22 Oktober 2017

Penelitian Pendidikan

Penerapan Metode Sensorimotori dengan Permainan untuk Anak Autis

SKRIPSI
Image result for logo unesa


Oleh:
Yuni Ayuning Suri
NIM 15010044037









PENDIDIKAN LUAR BIASA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017
 

 








BAB I

A.    Latar Belakang
Kata autism berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari dua kata yaitu “aut‟ yang memiliki arti diri sendiri dan “ism‟ yang secara tidak langsung dapat diartikan sebagai orientasi atau arah atau keadaan ( state ). Sehingga autism sendiri dapat didefinisikan sebagai kondisi seseorang yang luar biasa asik dengan dirinya sendiri ( Reber, 1985 dalam trevarthen dkk,1998 ).
Autis pertama kali diperkenalkan dalam suatu makalah pada tahun 1943 oeh seorang psikiatris Amerika yang bernama Leo Kanner . ia menemukan sebelas anak yang memiliki ciri – ciri yang sama, yaitu tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu lain dan sangat tak acuh terhadap lingkungan di luar dirinya, sehingga perilakunya seperti tampak hidup di dunia sendiri.
Autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks yang berhubungan dengan komunikasi, interaksi sosial dan emosi. Gejala autisme tampak sebelum usia 3 tahun. Bahkan pada autis infantile gejalanya sudah muncul sejak bayi. Autis juga merupakan suatu konsekuensi dalam kehidupan mental dari kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi beberapa fungsi –fungsi seperti: persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining), dan perasaan (feeling). Autis juga dapat dinyatakan sebagai suatu gangguan dalam penalaran sistematis (systematic reasoning). Dalam suatu analisis „microsociological‟ tentang logika pemikiran mereka dan interaksi dengan yang lain (Durig, 1996,dalam trvarten, 1998), penyandang autis memiliki kekurangan pada creative induction atau membuat penalaran induksi yaitu penalaran yang bergerak dari premis – premis khusus (minor) menuju kesimpulan umum, sementara deduksi, yaitu bergerak pada kesimpulan khusus dari premis – premis (khusus) dan abduksi yaitu peletakan premis – premis umum pada kesimpulan khusus, kuat( trevarthen, 1998).
Autisme didefinisikan sebagai gangguan perkembangan dengan tiga aspek atau trias gangguan perkembangan yaitu gangguan pada interaksi sosial, gangguan pada komunikasi dan keterbatasan minat serta kemampuan imajinasi (Baron-Cohen, dalam Kurdi 2009). Gillber dan Coleman (dalam Kurdi 2009) menetapkan lima kriteria untuk mendiagnosis autisme yaitu gejala interaksi sosial yang sangat berat, perkembangan komunikasi yang sangat berat, tingkah laku yang berulang-ulang dan gangguan imajinasi bersamaan dengan munculnya gejala/simtom serta respon abnormal terhadap sensori.
Menurut Reed (dalam Sujarwanto, 2005:180) “Anak yang mengalami gangguan autistik mengalami permasalahan yang sangat kompleks”, permasalahan tersebut meliputi: motorik, sensorik, kognitif, intrapersonal, interpersonal, perawatan diri, produktivitas, serta leisure. Hasnita, dkk (2015:22) menyatakan bahwa hampir pada semua anak autis seringkali ditemukan mengalami permasalahan dalam motorik halus, gerak geriknya kaku dan kasar, anak autis sering terlihat kesulitan untuk memegang, menekan, menggenggam dan menjimpit benda.
Anak autis menunjukkan gejala gangguan perilaku motorik maupun sensorik. Kebanyakan anak autisme menunjukkan adanya stereotip, seperti bertepuk tangan dan menggoyang-goyangkan tubuh. Anak autis dapat mengalami hiperaktifitas ataupun hipoaktif. Beberapa anak juga menunjukkan gangguan pemusatan perhatian dan impulsivitas. Selain itu ada pula koordinasi motorik yang terganggu, tiptoe walking, clumsiness, kesulitan belajar mengikat tali sepatu, menyikat gigi, memotong makanan, dan mengancingkan baju.
Elizabeth B Hurlock (1978: 159) menyatakan bahwa perkembangan motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan pengendalian gerak tubuh dan otak sebagai pusat gerak. Gerak ini secara jelas dibedakan menjadi gerak kasar dan halus. Menurut Endang Rini Sukamti (200:15) bahwa perkembangan motorik adalah sesuatu proses kemasakan atau gerak yang langsung melibatkan otot-otot untuk bergerak dan proses pensyarafan yang menjadi seseorang mampu menggerakkan dan proses persyarafan yang menjadikan seseorang mampu menggerakan tubuhnya.
Sistem sensorik adalah sistem yang mengubungan manusia dengan dunia luar. Informasi yang diterima oleh reseptor menjadi petanda bagi tubuh untuk memberikan respon. Gejala sensorik dapat diklasifikasikan dalam 5 golongan yaitu :
1. Hilang perasaan kalau dirangsang (anestesia)
2. Perasaan terasa berelebihan kalau dirangsang (hipersetesia)
3. Perasaan yang timbul secara spontan, tanpa adanya perangsangan (parestesia)
4. Nyeri
Pembelajaran sensorimotor yang merupakan bagian dari terapi okupasi (sensori integrasi) direncanakan dengan membuat rencana pembelajaran individual menyangkut perkembangan taktil, vestibular, dan proprioseptif.
Bermain merupakan kegiatan atau aktivitas yang menyenangkan hati dan dapat membuat pikiran serta tubuh menjadi lebih segar serta sehat. Dalam bermain atau melakukan permainan anak dapat menggunakan alat ataupun tidak. Tentunya dengan adanya alat atau media dalam bermain akan lebih menyenangkan dan bermakna.
Menurut Ratna (dalam Fadillah, dkk, 2014:28) dengan bermain otot-otot anak akan bekerja maksimal, metabolisme tubuh meningkat dan perkembangan otot lebih bagus. Bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan. Dalam bermain, anak autis dapat mencakup berbagai perkembangan lainnya seperti mengembangkan kemampuan interaksi dan sosialisasi anak autis serta sebagai media rekreasi dan relaksasi.
Gunarsa (2008:12) menyatakan beberapa permainan dan alat bermain yang sederhana seperti kertas koran, balok titian, bermain bola, playdough, dan lain-lain dapat mengembangkan aspek motorik anak. Dalam penelitian ini akan diterapkan bermain playdough untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak autis khususnya untuk mengembangkan kemampuan koordinasi jari tangan anak autis seperti memegang, menekan, menggenggam dan menjimpit.
Jenis permainan taktil yang dapat diberikan adalah bermain playdough dan memasukkan benda ke dalam kotak. Bermain playdough atau plastisin dapat dijadikan permainan yang merangsang rabaan anak autis. Anak diajak untuk membentuk menjadi bulat-bulatan atau berbagai macam bentuk.
Playdough adalah salah satu media bermain edukatif yang terbuat dari bahan yang murah dan mudah ditemui yaitu tepung dan pewarna dari bahan alam. Media bermain ini tidak berbahaya bagi anak autis. Menurut Einon (2004:96) playdough adalah bahan bermain yang cocok bagi anak. Teksturnya sangat lembut untuk diremas, namun cukup elastis untuk dibentuk.
Bermain playdough berkaitan dengan karakteristik positif dan potensi yang masih dimiliki anak autis yang berkaitan dengan kemampuan pengelihatan, pendengaran dan peraba. Anak autis mudah untuk memahami dan mengingat berbagai hal yang anak lihat atau anak pegang (Lakshita, 2012:60). Melalui kemampuan pengelihatan dan pendengaran yang dimiliki, anak autis dapat dengan mudah untuk mengetahui cara bermain playdough. Melalui bermain playdough anak dapat menggunakan kemampuan perabaannya untuk memegang, menekan, menggenggam dan menjimpit playdough serta anak dapat membentuk berbagai macam bentuk sesuai dengan kreasinya baik menggunakan cetakan maupun tidak.
Dalam bermain playdough, anak autis tidak hanya merasakan kesenangan saja, tetapi juga bermanfaat dalam perkembangan motorik halus anak autis. Bermain playdough merupakan cara yang baik untuk memperkuat otot-otot jari anak, selain itu dengan bermain playdough dapat membuat anak relax sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan dalam melakukan permainan (Pitamic, 2013:73). Dengan bermain playdough anak autis dapat menggunakan tangan untuk membentuk adonan dengan berbagai teknik seperti menekan, menjimpit, mengepal yang dapat melatih koordinasi jari tangan.
Sedangkan kegiatan memasukkan benda-benda ke dalam kotak ini merupakan jenis permainan edukatif yang digunakan untuk mengenalkan bentuk-bentuk geometri seperti lingkaran, kotak, segitiga, oval dan lain-lain. Anak diperintahkan untuk memasukkan benda dengan macam-macam bentuk dan dimasukkan ke dalam kotak sesuai dengan bentuknya tersebut. Hal ini dapat membantu melatih fokus atau perhatian anak autis. Selain dapat menjadi media pembelajaran untuk mengenalkan bentuk.
Untuk jenis permainan Vestibular yang dapat diberikan adalah bermain puzzle dan menempel stempel berbentuk bangun datar. Menyusun potongan-potongan gambar sederhana misal dengan 3 potongan. Anak dibantu untuk meletakkan gambar pada potongan yang seharusnya. Anak dibantu untuk mengenali gambar tersebut gambar apa. Anak disuruh menyebutkan nama gambar/puzzle yang sedang dikerjakan. Dalam hal ini permainan puzzle dapat melatih koordinasi antara otak dan anggota gerak atas (tangan), sekaligus pemecahan masalah atau problem solving dengan mencocokan potongan demi potongan yang ada.
Rokhmat (dalam Mulkan Andika Situmorang, 2012: 5) menyatakan, puzzle adalah permainan konstruksi melalui kegiatan memasang atau menjodohkan kotak-kotak, atau bangun-bangun tertentu sehingga akhirnya membentuk sebuah pola tertentu”. Puzzle merupakan permainan mencocokkan, dan material lain untuk mengajarkan keterampilan seperti mengenal bentuk, ukuran, jumlah, warna, kesamaan, dan perbedaan, berhitung, mengurutkan, dan mengelompokkan. Anak juga mengembangkan keterpaduan gerakan mata-tangan dan melatih menggunakan otot kecil di tangan dan jari mereka ketika bermain dengan material penguasaan benda (Nielsen dalam Prihanti Ratna Ekasari, 2013: 21).
Dan stempel berbentuk bangun datar dapat menjadi media pembelajaran untuk memperkuat pembelajaran anak dalam mengenal bentuk bangun datar, selain dapat melatih fokus anak autis dalam menempel stempel tersebut. Stempel berbentuk bangun datar juga dapat melatih fokus anak dengan menempelkan stempel sesuai tempat yang telah disediakan.
Oleh karena itu metode sensorimotori dengan permainan untuk anak autis seperti playdoh, memasukkan benda-benda di dalam kotak, puzzle, dan stempel bangun ruang akan dibahas sebagai topic dalam makalah penelitian ini.

A.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah antara lain :
1.      Apa definisi atau pengertian dari autisme?
2.      Apa pengertian Sensorimotori?
3.      Bagaimana penerapan metode sensorimotori dengan permainan untuk anak autis?

           B.     Tujuan
Adapun tujuan penelitian yang hendak dicapai ialah:
1.      Untuk mengetahui dan memahami definisi dari autisme
2.      Untuk mengetahui pengertian Sensorimotori
3.      Untuk mengetahui dan memahami penerapan metode sensorimotori dengan permainan untuk anak autis

          C.    Manfaat
            Sejalan dengan tujuan penelitian, adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
      1.      Untuk mahasiswa diharapkan dapat menjadi bahan referensi atau sumber belajar.
     2.      Untuk masyarakat umum penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus terutama anakautisme.




BAB II
Kajian Pustaka
Istilah autisme berasal dari kata “Autos” yang berarti diri sendiri dan “isme” yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham tertarik pada dunianya sendiri (Suryana, 2004). Autisme pertama kali ditemukan oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan bahasa yang tertunda, echolalia, mutism, pembalikan kalimat, adanya aktivitas bermain repetitive dan stereotype, rute ingatan yang kuat dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya (Dawson & Castelloe dalam Widihastuti, 2007).
PPDGJ (1993) mendefinisikan autis sebagai gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya abnormalitas dan atau hendaya perkembangan, dengan ciri fungsi abnormal dalam bidang interaksi sosial, komunikasi serta perilaku yang terbatas dan berulang. Pendapat senada dikemukakan oleh Santrock (2009), bahwa gangguan autistik adalah gangguan perkembangan parah yang dimulai pada 3 tahun pertama kehidupan dalam bentuk keterbatasan hubungan sosial; komunikasi yang abnormal; serta pola perilaku yang terbatas, repetitif dan tetap. Yatim (2003) berpendapat bahwa autis merupakan suatu kumpulan gejala kelainan perilaku dan kemajuan perkembangan sehinga menyebabkan penyimpangan perkembangan sosial, kemampuan berbahasa, kepedulian terhadap sekitar, hidup dalam dunianya sendiri, kelainan emosi, intelektual
dan kemauan.
Durand (2007) menuliskan gangguan autis sebagai gangguan masa kanak-kanak yang ditandai hendaya signifikan dalam interkasi sosial, dan komunikasi dan oleh pola-pola perilaku, interes, dan aktivitas yang terbatas. Turkington (2007) dalam bukunya yang berjudul “The Encyclopedia of Autism Spectrum Disorder” menjelaskan banyak hal tentang gangguan autistik. Turkington (2007) menuliskan bahwa gangguan autis adalah sebuah gangguan perkembangan yang berat sehingga mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain, dan berespon dengan tepat pada stimulus dari lingkungan.
Kemampuan motorik anak autis tidak seperti anak pada umumnya. Menurut Assjari dan Sopariah (2011), kondisi perkembangan mental yang tertinggal, berdampak pada kemampuan motorik anak autis. Menurut Waiman dkk (2011), terapi sensori integrasi menekankan stimulasi pada tiga indera utama, yaitu taktil, vestibular, dan proprioseptif. Ketiga sistem sensori ini memang tidak terlalu familiar dibandingkan indera penglihatan dan pendengaran, namun sistem sensori ini sangat penting karena membantu interpretasi dan respons anak terhadap lingkungan. Pengembangan kemampuan tactile (peraba) anak autis ditekankan untuk dapat mempersepsikan dengan benar sentuhan yang ia dapatkan. Anak autis cenderung hipersensitif atau hipoaktif terhadap sentuhan yang ia terima. Sistem vestibular terletak pada telinga dalam (kanal semisirkular) dan mendeteksi gerakan serta perubahan posisi kepala. Sistem vestibular merupakan dasar tonus otot, keseimbangan, dan koordinasi bilateral untuk impulsive (gerakan berulangulang),
dan susah sekali mengontrol dirinya (Waiman, dkk, 2011).
            Menurut Reed (dalam Sujarwanto, 2005:180) “Anak yang mengalami gangguan autistik mengalami permasalahan yang sangat kompleks”, permasalahan tersebut meliputi: motorik, sensorik, kognitif, intrapersonal, interpersonal, perawatan diri, produktivitas, serta leisure. Hasnita, dkk (2015:22) menyatakan bahwa hampir pada semua anak autis seringkali ditemukan mengalami permasalahan dalam motorik halus, gerak geriknya kaku dan kasar, anak autis sering terlihat kesulitan untuk memegang, menekan, menggenggam dan menjimpit benda.
Sensori adalah stimulus atau rangsang yang datang dari dalam maupun luar tubuh. Stimulus tersebut masuk ke dalam tubuh melalui organ sensori (panca indera).
Elizabeth B Hurlock (1978: 159) menyatakan bahwa perkembangan motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan pengendalian gerak tubuh dan otak sebagai pusat gerak. Gerak ini secara jelas dibedakan menjadi gerak kasar dan halus. Menurut Endang Rini Sukamti (200:15) bahwa perkembangan motorik adalah sesuatu proses kemasakan atau gerak yang langsung melibatkan otot-otot untuk bergerak dan proses pensyarafan yang menjadi seseorang mampu menggerakkan dan proses persyarafan yang menjadikan seseorang mampu menggerakan tubuhnya.
Elizabeth B Hurlock (1978: 159) menyatakan bahwa perkembangan motorik diartikan sebagai perkembangan dari unsur kematangan pengendalian gerak tubuh dan otak sebagai pusat gerak. Gerak ini secara jelas dibedakan menjadi gerak kasar dan halus. Menurut Emdang Rini Sukamti (200:15) bahwa perkembangan motorik adalah sesuatu proses kemasakan atau gerak yang langsung melibatkan otot-otot untuk bergerak dan proses pensyarafan yang menjadi seseorang mampu menggerakkan dan proses persyarafan yang menjadikan seseorang mampu menggerakan tubuhnya.
Motorik kasar adalah kemampuan gerak tubuh yang menggunakan otot-otot besar, sebagian besar atau seluruh anggota tubuh motorik kasar diperlukan agar anak dapat duduk, menendang, berlari, naik turun tangga dan sebagainya (Sunardi dan Sunaryo, 2007: 113-114). Bambang Sujiono (2007: 13) berpendapat bahwa gerakan motorik kasar adalah kemampuan yang membutuhkan koordinasi sebagian besar bagian tubuh anak. Gerakan motorik kasar melibatkan aktivitas otot-otot besar seperti otot tangan, otot kaki dan seluruh tubuh anak. Menurut Endang Rini Sukamti (2007: 72) bahwa aktivitas yang menggunakan otot-otot besar di antaranya gerakan keterampilan non lokomotor, gerakan lokomotor, dan gerakan manipulatif.
Gerakan motorik halus mempunyai peranan yang sangat penting, motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil saja. Oleh karena itu gerakian didalam motorik halus tidak membutuhkan tenaga akan tetapi membutuhkan koordinhasi yang cermat serta teliti. ( Depdiknas:2007:1) Menurut Dini P dan Daeng Sari (1996:72) motorik halus adalah aktivitas motorik yang melibatkan aktivitas otot-otot kecil atau halus gerakan ini menuntut koordinasi mata dan tangan serta pengendalian gerak yang baik yang memungkinkannya melakukan ketepatan dan kecermatan dalam gerak. Yudha M Saputra dan Rudyanto (2005: 118) menjelaskan bahwa motorik halus adalah kemampuan anak dalam beraktivitas dengan menggunakan otot-otot halus (kecil) seperti menulis, meremas, menggenggam, menggambar, menyusun balok dan memasukkan kelereng. Sedangkan menurut Kartini Kartono (1995: 83) motorik halus adalah ketangkasan, keterampilan, jari tangan dan pergelangan tangan serta penugasan terhadap otot-otot urat pada wajah.
Bermain menurut Latif dkk (2013: 202) terbagi menjadi tiga jenis yaitu bermain sensorimotor atau fungsional, bermain peran dan bermain pembangunan. Salah satu bentuk bermain yang dapat mengembangkan kreativitas anak yaitu bermain yang akan melibatkan seluruh fisik anak untuk berhubungan langsung dengan lingkungan, bermain tersebut merupakan bermain sensorimotor. Sensorimotor terbagi menjadi sensori dan motorik, motorik juga terbagi menjadi motorik kasar dan motorik halus. Menurut Hurlock (2013: 159) keterampilan motorik halus yaitu kemampuan menggunakan otot-otot halus yang melibatkan koordinasi antara mata dan tangan. Menurut Jean Piaget bermain fungsional atau sensorimotor dimaksudkan bahwa anak belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungannya. Main sensorimotor adalah kegiatan yang menggunakan seluruh panca indranya untuk bermain.
Menurut Anggraini dalam Haryani (2014: 59) menyatakan bahwa : Permainan playdough adalah salah satu aktifitas yang bermanfaat untuk perkembangan otak anak, bermain playdough, anak tidak hanya memperoleh kesenangan, tapi juga bermanfaat untuk meningkatkan perkembangan otaknya dan anak-anak bisa membuat bentuk apapun dengan cetakan, mewarnai playdough dan membentuk pola. Menurut Jatmika dalam Arlinah (2012:3), diantaranya adalah sebagai berikut:
1)      Melatih kemampuan sensorik dan motorik. Salah satu cara anak mengenal sesuatu adalah melalui sentuhan, dengan bermain plastisin anak belajar tentang tekstur dan cara menciptakan sesuatu.
2)      Mengembangkan kemampuan berfikir. Bermain plastisin bisa mengasah kemampuan berfikir anak.
3)      Berguna meningkatkan Self esteem. Bermain plastisin merupakan bermain tanpa aturan sehingga berguna untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas anak, sekaligus mengajarkan tentang pemecahan masalah.
4)      Mengasah kemampuan berbahasa. Meremas, berguling, dan memutar adalah beberapa kata yang sering didengar anak saat bermain plastisin.
5)      Memupuk kemampuan sosial. Hal ini karena dengan bermain bersama memberi kesempatan berinteraksi yang akrab, dan bisa belajar bahwa bermain bersama sangat menyenangkan.
Menurut Arlinah (2012: 5), bahwa bermain playdough sangat menyenangkan, anak bisa meremas, menggulung atau mencetak berbagai bentuk sesuai dengan imanjinasi mereka sedangkan kelemahannya tidak dapat membuat obyek yang besar karena membutuhkan ruang besar dan perawatannya rumit. menurut Rochayah (2012: 33) mengemukakan bermain playdough:
1)      Meningkatkan kreativitas pada peringkat awal kanan-kanak
2)      Membina imaginasi kreatif anak-anak
3)      Mempertingkatkan kemahiran sensorimotor kanak-kanak
4)      Melatih kanak-kanak menghubungkan kemahiran sosial dan kognitif ketika bermain playdough bersama teman-teman
Gunarsa (2008:12) menyatakan beberapa permainan dan alat bermain yang sederhana seperti kertas koran, balok titian, bermain bola, playdough, dan lain-lain dapat mengembangkan aspek motorik anak. Dalam penelitian ini akan diterapkan bermain playdough untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak autis khususnya untuk mengembangkan kemampuan koordinasi jari tangan anak autis seperti memegang, menekan, menggenggam dan menjimpit. . Anak autis mudah untuk memahami dan mengingat berbagai hal yang anak lihat atau anak pegang (Lakshita, 2012:60). Beberapa jenis dan ragam permainan untuk melatih perkembangan sensorik, intelektual, emosi, dan sosial (Sunar, D. P. 2008:281-287), beberapa permainan berikut ini bisa diajarkan pada gangguan penyandang autis: Titian kayu dan balok kayu, bermain bola, menyusun benda bunder, menggunting dan menempel, membuat kalung. Memasukkan benda ke kotak, menyebutkan nama-nama benda, melukis dengan jari, bermain pasir, serta bermain puzzle.
            Menurut Ismail, A. (2006) puzzle adalah permainan yang menyusun suatu gambar atau benda yang telah dipecah dalam beberapa bagian. Permainan puzzle melibatkan koordinasi mata dan tangan. Namun secara khusus puzzle biasanya terbentuk dari sebuah gambar yang terpotong-potong menurut bagian tertentu. Sedangkan menurut Kamus Bahasa Indonesia puzzle berarti mencengangkan, membingungkan, mengaduk, mengacau, mengganggu, memperkusut, heran tercengang, kebuntuhan, kesandung. Menurut Tedjasaputra (2001) permainan adalah kegiatan yang ditandai oleh aturan serta persyaratan-persyaratan yang disetujui bersama dan ditentukan dari luar untuk melakukan kegiatan dalam tindakan yang bertujuan. Manafaat lain menurut Ungguh, J. Muliwan (2009:163) antara lain;
1)      Melatih nalar konstruksi benda dalam diri anak.
2)      Melatih ingatan.
3)      Merangsang imajinasi anak.
4)      Mengajari anak rancang bangun sederhana.
5)      Mengenalkan anak pada bentuk-bentuk atau pola-pola tertentu yang baru.
Menurut Faruq (2007: 36) puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat merangsang kemampuan anak, yang dimainkan dengan cara membongkar pasang kepingan puzzle berdasarkan pasangannya. Puzzle merupakan permaianan yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan anak dalam merangkainya. Sebagaimana dinyatakan oleh Beaty (2013: 240) puzzle menawarkan latihan mengagumkan bagi ketangkasan jari dan koordinasi mata tangan, serta konsep kognitif mencocokkan bentuk dan hubungan bagian-dengan-keutuhan. Dinas Pendidikan (2012: 43) bermain puzzle merupakan kegiatan bongkar dan menyusun kembali kepingan puzzle menjadi bentuk utuh.
Adapun manfaat bermain puzzle menurut Beaty (2013: 240) dapat melatih ketangkasan jari, koordinasi mata dan tangan, mengasah otak, mencocokkan bentuk, konsep kognitif, melatih kesabaran anak dalam menyusun puzzle dan hubungan antar bagian puzzle sehingga menjadi bentuk puzzle yang utuh. Manfaat bermain puzzle menurut Yulianti (2008: 43) adalah:
1)         Mengasah otak, kecerdasan otak anak akan terlatih karena dalam bermain puzzle akan melatih sel-sel otak untuk memecahkan masalah.
2)         Melatih koordinasi mata dan tangan,bermain puzzle melatih koordinasi mata dan tangan anak. Hal itu dikarenakan anak harus mencocokkan kepingan-kepingan puzzle dan menyusun menjadi satu gambar utuh.
3)         Melatih membaca, membantu mengenal bentuk dan langkah penting menuju pengembangan keterampilan membaca.
4)         Melatih nalar, bermain puzzle dalam bentuk manusia akan melatih nalar anak-anak karena anak-anak akan menyimpulkan dimana letak kepala, tangan, kaki dan lain-lain sesuai dengan logika.
5)         Melatih kesabaran. Aktivitas bermain puzzle, kesabaran akan terlatih karena saat bermain puzzle di butuhkan kesabaran dalam menyelesaikan permasalahan.
6)         Memberikan pengetahuan, bermain puzzle memberikan pengetahuan kepada anak-anak untuk mengenal warna dan bentu. Anak juga akan belajar konsep dasar binatang, alam sekitar, jenis-jenis benda, anatomi tubuh manusia dan lain-lain.




BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis dan Rancangan Penelitian
Suatu pendekatan penelitian yang secara primer menggunakan paradigma postpositivist (seperti pemikiran tentang sebab akibat, reduksi kepada variabel, hipotesis dan pertanyaan spesifik, menggunakan pengukuran dan observasi, serta pengujian teori) dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, menggunakan strategi seperti eksperimen dan survei yang memerlukan data statistika.
Dalam pendekatan ini ada beberapa bentuk penelitian yakni pertama, penelitian Korelasional / survei adalah suatu pendekatan umum untuk penelitian yang berfokus pada penaksiran pada kovariasi di antara variabel yang muncul secara alami. Tujuannya adalah untuk mengindentifikasi hubungan prediktif denganmenggunakan teknik korelasi atau teknik statistika yang lebih canggih (Zechmester dalam Emzir,2007:37). Kedua penelitian Eksperimental (eksperimen) adalah situasi penelitian yang sekurang-kurangnya satu variabel bebas yang disebut sebagai variabel eksperimental, sengaja dimanipulasi oleh peneliti Wiersma dalam Emzir (2007:63)
Ketiga, Kausal komparatif (ex post facto) merupakan penyelidikan empiris yang sistematis di mana ilmuwan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksistensi dari variabel tersebut telah terjadi (Kerlinger dalam Emzir,2007:119).

B.     Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini berdasarkan tempat yang relevan, yakni di Sekolah Dasar Negeri Gedangan Sidoarjo.

C.     Sasaran Penelitian
Sasaran subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 6 anak autis di Sekolah Dasar Negeri Gedangan Sidoarjo.

D.    Variabel dan Definisi Operasional
Variabel dalam penelitian ini yaitu :
·         Variabel bebas      : Metode Sensorimotori
·         Variabel terikat    : Permainan untuk pengembangan sensorimotori
Definisi Operasional :           
Definisi operasional dari kemampuan sensorimotori anak autis dapat dilihat sebagai suatu proses dan sebagai hasil maupun sebagai suatu proses yang mencakup antara lain proses motorik halus, motorik kasar, penglihatan, penciuman, perabaan, pendengaran, perasa, keseimbangan dan kekuatan otot.


E.     Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan yaitu :
1.      Lembar observasi dengan bentuk check list.
2.      Lembar acuan hasil wawancara

F.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
·         Observasi yang mana dilakukan dengan menggunakan metode observasi terstruktur. Yang mana observasi tersetruktur menggunakan instrumen observasi yang terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda (v) pada tempat yang disediakan.
·         Tes yang mana dengan pre test dan post test. Hal untuk mengetahui sejauh mana kemampuan membaca siswa tunagrahita sedang dan untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca siswa.

G.     Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menganalisis data hasil eksperimen yang menggunakan data pre test dan post test one group design. Metode ini diberikan pada satu kelompok saja tanpa kelompok pembanding.
O1    X  O2
 


 Rumus pre test post test design
Hal pertama dalam pelaksanaan ini dilakukan dengan memberikan tes kepada subjek yang belum diberi perlakuan disebut  pre test (O1). Setelah didapatkan hasil pre test maka kemudian dilakukan treatment (X). Selanjutnya diberikan lagi tes (post test) kepada siswa yang diberikan treatment. Dan didapat hasil dari post test, bandingkan antara  O1 dan O2  untuk menentukan seberapa besar perbedaan yang timbul,  kemudian dilakukan penganalisisan hasil yang didapat menggunakan rumus.
Untuk analisis data juga digunakan dengan observasi. Hal ini sebagai pengamatan langsung dari kondisi subjek yang dilakukan dengan terstruktur.

Instrumen Lembar Observasi (chek list)
Hari / tanggal             : ...........................
Pukul                          : ............................
No
Nama Siswa
Keterampilan Motorik Kasar
Keterampilan Motorik Halus
Keterampilan Sensorik
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1










2










3










4










5










6










dsb













Rubrik Penilaian
No
INDIKATOR KEMAMPUAN
NS
HASIL PENILAIAN
Ke 1
Ke 2
Ke 3

Pelaksanaan kegiatan




Bidang komunikasi
10



1.
Kurangnya komunikasi dan interaksi sosial yg bersifat menetap pada berbagai konteks
1



2.
Kurang mampu dalam komunikasi sosial dan emosional
1



3.
Ketidakmampuan dalam komunikasi verbal
1



4.
Ketidakmampuan dalam bahasa tubuh dan wajah
1



5.
Terganggunya komunikasi dalam bahasa tubuh dan wajah
1



6.
Kecenderungan menarik tangan orang lain bila menginginkan sesuatu
1



7.
Kecenderungan mengulang kata-kata (membeo)
1



8.
Kata-kata yang diucapkan tidak mengerti artinya (mengoceh)
1



9.
Meniru kalimat-kalimat khas, iklan, nyanyian tanpa mengerti maknanya
1



10.
Tidak memahami pembicaraan orang lain
1




Jumlah
10




Bidang Interaksi Sosial
6



1
Menghindari kontak mata
1



2
Tidak bereaksi ketika dipanggil namanya
1



3
Menjauhi ketika diajak bermain
1



4
Tidak dapat merasakan empati
1



5
Asyik bermain sendiri
1



6
Kekurangan dalam mengembangkan, mempertahankan hubungan, contohnya: kesulitan dalam menyesuaikan perilaku pada berbagai konteks sosial, kesulitan dalam bermain imajinatif atau berteman, tidak adanya ketertarikan terhadap teman sebaya
1




Jumlah
6




Bidang Prilaku
12



1
Pola perilaku dengan repetitif (perilaku yang berulang-ulang). Contoh perilaku adaptif: melompat-lompat, berputar-putar, mengepak-ngepakkan tangan.
1



2
Perilaku rutinitas yang kaku (tidak mau menerima perubahan)
1



3
Kelekatan yang abnormal pada suatu objek tertentu
1



4
Acuh tak acuh terhadap orang lain
1



5
Asyik dengan dunianya sendiri
1



6
Berteriak tanpa sebab
1



7
Jalan jinjit
1



8
Menyakiti diri sendiri
1



9
Menyakiti orang lain
1



10
Tidak mau diam, mealakukan aktifitas yg berlebihan dan tidak terarah (hiperaktif)
1



11
Cendrung diam dan menarik diri (Hipoaktif)
1



12
Melamub, bengong, dengan tatapan kosong
1




Jumlah
12




Bidang Emosi
7



1
Tertawa sendiri tanpa sebab
1



2
Menangis tanpa alasan
1



3
Marah-marah tanpa sebab
1



4
Sering menunjukkan perilaku mengamuk tak terkendali apabila ia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya bahkan ada yang menjadi agresif dan merusak
1



5
Rasa takut yang tidak wajar
1



6
Sensitif dengan suara-suara tertenru (bunyi bell, musik tertentu)
1



7
Kurang atau bahkan tidak memiliki rasa empati, (misalnya ketika anak lain menangis karena terluka ia tidak merasa kasihan atau bahkan merasa terganggu dengan anak yang menangis tersebut dan mungkin saja malah memukul).
1




Jumlah
7




  • PEDOMAN WAWANCARA DENGAN ORANG TUA/WALI
No
Indikator Kemampuan
Ya
Tidak
A
Bidang Komunikasi


1
Merasakan bahwa anak terlambat berbicara


2
Anak tidak ada usaha berkomunikasi walaupun dengan gerakan ataupun mimic


3
Berkata-kata namun ucapannya tidak mempunyai arti/tidak dimengerti artinya


4
Pandai meniru kalimat-kalimat iklan, menyanyikan lagu-lagu tanpa dimengertinya


5
Bisa berbicara tetapi tidak dipakai untuk berkomunikasi


6
Sering meniru/mengulangi perkataan orang lain


7
Apabila menginginkan sesuatu menarik tangan


8
Tidak mengerti pembicaraan orang lain






B
Bidang Interaksi Sosial


1
Kalau berhadapan tidak mau/menghindari tatapan mata


2
Tidak boleh apabila dipanggil namanya


3
Cenderung menjauh apabila diajak bermain


4
Tidak mampu menghayati perasaan orang lain


5
Lebih sering asyik dengan dirinya sendiri






C
Bidang Perilaku


1
Acuh tak acuh terhadap lingkungannya


2
Sering asyik dengan dunianya sendiri


3
Sulit bahkan tidak mau tidur


4
Sering menunjukkan perilaku yang tidak terarah


5
Mondar mandir tanpa tujuan


6
Lari kesana kemari


7
Memanjat-manjat


8
Berputar-putar tidak menentu


9
Melompat-lompat


10
Mengepak-ngepak tangan


11
Berteriak-teriak tanpa sebab


12
Berjalan jinjit


13
Suka bahkan menyakiti diri sendiri


14
Sering nampak bengong dengan tatapan mata kosong


15
Tampak seperti malamun


16
Terapaku pada benda-benda tertentu


17
Terpaku pada benda-benda bergerak


18
Berprilaku menetap (mengulang-ngulang perilaku kebisaan)






D
Bidang Emosi


1
Tertawa sendiri tanpa sebab


2
Menangis tanpa alasan


3
Marah-marah tanpa sebab


4
Menangis apabila keinginannya tidak terpenuhi


5
Merasa takut tanpa alasan yang wajar






E
Bidang Persepsi Sensoris


1
Menjilat-jilat benda


2
Mencium-cium benda


3
Menutup telinga bila mendengar suara keras


4
Mencium-cium makanan yang tidak dimakannya


5
Tidak suka memakai baju dari bahan yang kasar



JUMLAH  



  • INSTRUMEN ASESMEN PERKEMBANGAN SOSIAL
No
Indikator kemampuan
Item
Hasil penilaian
Ke 1
Ke 2
Ke 3
Perkembangan sosial
20



1
Sosial reseptif
20



1.1
Dapat menatap muka tester
8



1.2
Membalas senyum tester
1



1.3
Dapat menoleh jika dipanggil tester
1



1.4
Tersenyum spontan kepada yang baru dikenalnya
1



1.5
Tidak mudah marah atau menangis
1



1.6
Mengikuti rangsangan dengan matanya.
1



1.7
Marah bila mainannya diambil
1



1.8
Tidak mudah beralih perhatian
1




Jumlah
8




2
Sosial Ekspresif
7



2.1
Dapat bersalaman
1



2.2
Dapat memperkenalkan diri
1



2.3
Mengambil benda yang diminta orang lain
1



2.4
Bisa disuruh untuk memberikan sesuatu kepada orang lain
1



2.5
Mengucapkan terimakasih apabila diberi sesuatu
1



2.6
Mengucapkan terimakasih apabila ditolong
1



2.7
Sua menolong orang lain
1




Jumlah
7




3
Sosial Motoris
6



3.1
Menyatakan keinginan dengangerakan tanpa menangis (menunjuk, menarik, mengambil)
1




3.2
Dapat menggunakan benda sesuai fungsinya
1



3.3
Mau bermain bola dengan tester
1



3.4
Tidak suka mengambil barang orang lain
1



3.5
Mengetuk pintu/permisi apabila mau masuk ruangan
1



3.6
Membantu pekerjaan tester
1



Jumlah
6











Tidak ada komentar :

Posting Komentar