Can you see in the dark?

Rabu, 18 Oktober 2017

Cerpen: Yang Kau Pinjam Dariku, di Barat Jogja

Yang Kau Pinjam Dariku, di Barat Jogja
Oleh: Yuni Ayuning Suri

"Lima tahun lagi, kita bersua di tempat ini ...."
Kata-kata itu berdengung keras di telingaku, menajamkan kembali pasak-pasak tumpul tentang sepenggal cerita yang telah lama berai. Aku kembali melangkah, mengukir jejak yang terhapus oleh hilir waktu.
Jogja. Kali ini takkan kuceritakan tentang Candi Prambanan, Malioboro, atau tempat lain yang sudah banyak dikenal. Cukup sebuah desa kecil bernama Sendang Sari. Dimana aku, ibu, bapak, dan adik pindah kemari beberapa tahun yang lalu. Selanjutnya ... aku bertemu dengan kau.
Satu. Saat langit dan mambang kuning bertemu, kala itu kita juga tengah berdiri kan? Menikmati deburan ombak yang menggulung-gulung kemudian pecah karena berhantaman dengan tetrapod–pemecah gelombang. Buihnya menghambur ke dermaga, sedang kita berlarian menghidarinya.
“Jadi basah ya?” tanyamu. Aku mengangguk, lamat-lamat kudapati pakaian yang kau kenakan tak lebih kering dari milikku. Pun rambut kaku milikmu yang biasanya selalu berdiri itu kini sudah ambruk terkena air. Entah hawa apa yang merasuki, tanpa sengaja cekikikan kecil menggumam dari mulutku. Kau nampak bingung. Namun, lengkungan simetris diwajahmu cepat menyusul.
“Apa yang lucu?”
“Apa ya? Mungkin ... karena rambut landakmu itu menghilang?” kataku. Kau kemudian meraihnya dengan kedua  tanganmu, berusaha membuat rambut yang seolah-olah identitasmu itu berdiri lagi. Bahkan kau model serupa kipli lalu mengibas-ngibaskannya secara sembrono.
“Dia tidak hilang, hanya lupa.”
“Lupa?”
“Ya, dia lupa dengan takdirnya sebagai rambut landak cuma karena bertemu dengan air. Tapi kalau aku, aku tidak akan lupa dengan takdirku usai bertemu kamu.”
“Memang apa takdirmu pada  pertemuan kita?”
Ia tak menjawabnya begitu saja, melainkan mempersilakan sang bayu untuk permisi terlebih dahulu. Menggerakkan helai demi helai rambut kami yang mulai mengering. Juga yang memberi kabar bahwa fajar telah mencapai batasnya di ufuk sana. Mulutmu mulai terbuka, tak mungkin kau buat jeda yang lebih lama dari ini.
“Untuk berdiri bersamamu dipelaminan nanti,” katamu sambil terkekeh. Aku pun demikian, ikut menertawakannya tanpa beban. Karena kupikir candaan seperti ini takkan berlangsung lama. Maksudku, waktu itu kita adalah teman—orang yang biasa menghabiskan waktu untuk bermain bersama. Kau tau lebih dari maksudku, benar begitu?
 Sesudahnya kita membisu. Mungkin kau canggung, tapi aku juga. Mungkin kau bingung, aku pun begitu. Mungkin kau menyesal? Maaf, tapi aku tidak. Bukan karena apa, hanya saja, ada sedikit getir kebahagiaan waktu kau mengatakannya.  
"Boleh pinjam tanganmu?" Dan tanpa persetujuan lebih dulu kau genggam aku. Membawaku berlari ke ujung dermaga.
“Mau apa? Nanti kita basah lagi!” Aku berteriak, mencoba mengelak dari ajakanmu yang tiba-tiba. Kupikir waktu itu kau berubah menjadi tuli, tak mau dengarkan kata-kata protes yang kulontarkan dan tetap menarikku melewati pergantian senja di pantai Glagah. Harus kuakui, indah. Sangat indah. Tak tau harus dengan apa aku menjelaskan betapa menakjubkannya pemandangan kala itu.
Dua. Hujan tak jua turun, walau bulan ini merupakan waktu untuknya. Mungkin kemarau sedang lembur sehingga ia memakan lebih banyak waktu ketimbang biasanya. Atau hujanlah yang lupa memasang alarm sebagai tanda pengingat bahwa telah tiba saat dimana ia harus turun menyapa bumi. Tapi yang jelas usai penat mengerjakan setumpuk soal di meja ulangan kau memberanikan diri untuk melangkah ke depan kelas. Woro-woro kalau bahasa kami.
“Setelah ini ke Waduk Sermo yuk? Satu kelas. Pendinginan otak ceritanya, bagaimana?”
Tanpa basa-basi semuanya mengangguk dengan cepat, bahkan lebih seperti gerak reflek dibanding sebuah jawaban. Kau hebat, bisa membuat mereka disekelilingmu setuju hanya dalam hitungan detik. Maka berangkatlah kita, pasukan berseragam putih abu-abu dari desa. Masa bodoh dengan orang-orang yang mengatakan tempat ini tak seberapa dibanding bidang lain di pusat kota Jogja. Nyatanya disinilah kita tinggal, di Barat Jogja, Kulon Progo.
Hampir senja. Waduk Sermo nampak bercahaya, memantulkan semburat jingga ke arah perbukitan Menoreh di belakangnya. Kawan-kawan kita nampak bahagia, seperti lupa bahwa nilai mereka bahkan belum dikoreksi. Tak tau, ada berapa banyak coretan pula yang menanti lembar-lembar jawaban kami.
Saat yang lain memilih untuk mengabadikan pemandangan sekitar dengan acara jepret sana jepret sini, aku lebih memilih diam melihatnya. Menikmati apa yang bisa aku nikmati untuk saat ini. Karena tak lama lagi kami akan memasuki babak yang lebih tinggi. Naik ke kelas tiga, persiapan ujian, dan seleksi masuk PTN. Apa lagi? Artinya kesempatan-kesempatan serupa main bersama akan sulit dijumpai, atau malah teramat sulit. Tapi bagaimanapun, kehidupan harus terus berjalan.
Tak lama kudengar suara geraman motor dari kejauhan, dan tak butuh berlama-lama untuk menyadari bahwa itu adalah kau, lengkap dengan para sohibmu yang bagai prajurit setia. Kendaraan roda duamu kau hentikan di dekatku, dengan lebih dulu tersenyum kau tunjukkan gagang pancing di tangan kirimu.
“Bisa mancing? Maksudku memancing ikan, bukan aku.”
“Hahaha, iya.”
“Mancing di sana bagaimana?”
Aku melirik, melihat sudut yang kau maksud barusan. Aku lupa kenapa, tapi aku mengangguk setuju. Kita berjalan seakan menepi dari hiruk pikuk dunia, hanya berdua. Dengan alasan memancing kita berhasil duduk bersama dalam waktu yang cukup lama. Bahkan kita berbincang banyak tentang berbagai macam hal. Mulai dari jatah sarapanmu yang dimakan kucing, contekan yang kau buat semalam suntuk untuk ulangan yang malah tak keluar satu nomorpun, hingga akan kemana kau setelah lulus nanti. Aku tak banyak menanggapi, mungkin akan lebih tepat kalau kuakui diriku mulai gugup ketika berada di dekatmu. Perasaan ini salah! Aku sadar, tapi tak dapat mengelak.
“Mau pasang umpan?”
“Boleh.”
“Tapi umpannya cacing.”
“Tidak masalah,” kataku. Kuraih pancing dari tangannya untuk kemudian kupasangi dengan cacing kecil yang terus menggeliat tanpa henti. Ia diam, mengamati.
“Perempuan biasanya takut dengan cacing. Ah, takut atau jijik ya? Entahlah, tapi serupa.”
“Aku suka memancing. Biasanya bapak mengajakku,” kataku berterus terang. Karena memang benar, bapak yang kebetulan memiliki hobi mancing sering sekali mengajak anak-anaknya. Bahkan meskipun ibu sering marah karena kami suka lupa waktu dan pulang larut, bapak tak pernah jera mengajak kami ke berbagai tempat untuk memancing.
Kau mengangguk-anggukkan kepalanya seakan paham betul dengan maksudku.
“Berarti kemampuan memancingmu sudah tidak diragukan lagi. Hm, benar sekali. Bahkan kau berhasil memancingku.”
“Gombal!” kataku setengah berteriak.
“Tidak. Aku sungguh-sungguh! Lihat? Pancingnya nyangkut di pakaianku.” Ia menunjuk lengan kananannya yang sedikit robek. Kami tertawa bersama, menyadari betapa gilanya kejadian tersebut.
“Nanti aku jahitkan.” Pintaku sebagai penebus rasa bersalah. Juga, kalau boleh jujur aku merasa sedikit malu dengan ke-GR-anku tadi. Tapi kau hanya mengangguk. Lantas dengan fokus itu kau menatapku, sorot mata yang mampu membuat dadaku berasa tak karuan. Kau bertanya, "Boleh pinjam pundakmu?"
Aku tak bisa menolaknya sehingga kutemukan diriku mengangguk sedikit kaku, dan kau dengan santai bersandar disana.
Tiga. Di akhir kelulusan, untuk terakhir kalinya kita bermain bersama sebagai keluarga kelas dua belas. Setelah ini, kehidupan seperti apa yang akan kami lalui? Bahkan gambaran-gambaran masa mendatang tak dapat kuterawang setelah tiba disebuah tempat bernama Kalibiru.
Bukan senja, melainkan selepas subuh semua anak kau suruh naik. "Biar lebih seru," katamu. Entah kenapa hampir setengahnya tak sesuai yang dibayangkan. Kami lelah bukan main karena melakukan perjalanan panjang nan mendaki. Bahkan masing-masing dari kami bisa menghabiskan sekitar tiga-empat botol air mineral.
Terlepas. Semua keluh kesah itu hilang. Liuk indah waduk sermo dibingkai dengan perbukitan menoreh penyebabnya. Dari atas sini rasanya seperti jadi yang paling tinggi. Dapat gapai apapun yang terlihat, termasuk waduk sermo yang kita kunjungi waktu silam. Ia terlihat lebih jelas dan elok dari kejauhan.
Kau menarikku, menaiki sebuah spot pohon pinus yang lumayan tinggi. Kakiku gemetaran, takut kalau sewaktu-waktu tergelincir. Tapi genggaman itu dipererat, dengan sebuah senyum sebagai pelengkap.
"Kita berhasil!" Aku berseru saat mencapai puncak.
"Hahaha, selamat!" sambutmu.
Sunyi lagi, netra kita memfokuskan diri pada cahaya keemasan yang berasal dari Timur. Dan sekarang hari mulai terang.
"Boleh aku pinjam ... bibirmu?"
Mataku membelalak lebar, sementara mulut ini bungkam. Aku tak percaya kau akan mengatakan hal demikian.
"Lima tahun lagi, kita bersua di tempat ini. Dan aku janji, akan mengembalikan semua yang telah kupinjam darimu."
Aku dengan mudah percaya, lalu mengangguk. Selanjutnya kita saling mendekatkan diri. Saat itu, untuk pertama kalinya bibir kami saling bersentuhan. Sekejap rasa hangat menjelma dan lama-kelamaan menjadi panas. Mukaku sudah berubah jadi merah padam. Lalu kau malah tertawa tanpa dosa.
Semuanya berlalu begitu cepat bukan? Lima tahun bahkan tak terasa, bagai kulalui beberapa hari saja. Selepas pengumuman kita berpamitan. Kau di Jakarta dan aku di Jogja. Bukanlah jarak yang terlalu jauh. Juga kudengar kau masih sering bolak-balik kemari. Tapi nyatanya kita tak pernah bertemu barang sepenggal. Tugas-tugas perkuliahan yang makin menumpuk membuatku sibuk. Aku tak bisa terus membalas pesan darimu, sedang kudapati pesan pada kotak masukku berkurang tiap harinya. Hingga suatu saat hilang tak dapat kubaca.
Namun, hari ini aku memutuskan untuk datang. Cuap-cuap dengan teman SMA agar merasa lebih muda. Aku ragu kau akan berada di sini saat ini. Jadi, aku melangkah asal-asalan. Mengamati tiap jengkal perubahan yang terjadi. Sekarang tempat ini ramai pengunjung, dengan mayoritas anak muda kekinian yang ingin berfoto dan mengunggahnya ke sosmed. Tak masalah, karena toh memang masanya.
Hanya saja ketika belum genap langkahku berpijak, aku berhenti melihat kau berdiri bersama seorang lagi. Bersurai panjang dan tinggi, ia seperti model di tv. Kalian potong garis distansi yang semula menghalangi, hingga makin dekat dan lebih dekat lagi.
Aku pikir aku mulai mengerti sekarang. Aku berbalik, tepat ketika sebuah suara menyerukan namaku.
"Ayu!"
Aku bergeming. Membalikkan tubuhku beberapa derajat, lalu memberikan simpul terbaikku pada kalian. Dan semua yang kau pinjam dariku di barat Jogja, akan ku ikhlaskan saja.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar