Yang Kau Pinjam Dariku, di
Barat Jogja
Oleh: Yuni Ayuning Suri
"Lima tahun lagi, kita
bersua di tempat ini ...."
Kata-kata
itu berdengung keras di telingaku, menajamkan kembali pasak-pasak tumpul
tentang sepenggal cerita yang telah lama berai. Aku kembali melangkah, mengukir
jejak yang terhapus oleh hilir
waktu.
Jogja.
Kali ini takkan kuceritakan
tentang
Candi Prambanan, Malioboro, atau tempat lain yang sudah banyak dikenal. Cukup
sebuah desa kecil bernama Sendang Sari. Dimana aku, ibu, bapak, dan adik pindah
kemari beberapa tahun yang lalu. Selanjutnya ... aku bertemu dengan kau.
Satu.
Saat langit dan mambang kuning bertemu, kala itu kita juga tengah berdiri kan?
Menikmati deburan ombak yang menggulung-gulung kemudian pecah karena
berhantaman dengan tetrapod–pemecah
gelombang. Buihnya menghambur ke dermaga, sedang kita berlarian menghidarinya.
“Jadi basah ya?” tanyamu. Aku mengangguk, lamat-lamat
kudapati pakaian yang kau kenakan tak lebih kering dari milikku. Pun rambut
kaku milikmu yang biasanya selalu berdiri itu kini sudah ambruk terkena air.
Entah hawa apa yang merasuki, tanpa sengaja cekikikan kecil menggumam dari
mulutku. Kau nampak bingung. Namun, lengkungan simetris diwajahmu cepat
menyusul.
“Apa yang lucu?”
“Apa ya? Mungkin ... karena rambut landakmu itu
menghilang?” kataku. Kau kemudian meraihnya dengan kedua tanganmu, berusaha membuat rambut yang seolah-olah
identitasmu itu berdiri lagi. Bahkan kau model serupa kipli lalu
mengibas-ngibaskannya secara sembrono.
“Dia tidak hilang, hanya lupa.”
“Lupa?”
“Ya, dia lupa dengan takdirnya sebagai rambut landak cuma
karena bertemu dengan air. Tapi kalau aku, aku tidak akan lupa dengan takdirku
usai bertemu kamu.”
“Memang apa takdirmu pada pertemuan kita?”
Ia tak menjawabnya begitu saja, melainkan mempersilakan
sang bayu untuk permisi terlebih dahulu. Menggerakkan helai demi helai rambut
kami yang mulai mengering. Juga yang memberi kabar bahwa fajar telah mencapai
batasnya di ufuk sana. Mulutmu mulai terbuka, tak mungkin kau buat jeda yang
lebih lama dari ini.
“Untuk berdiri bersamamu dipelaminan nanti,” katamu
sambil terkekeh. Aku pun demikian, ikut menertawakannya tanpa beban. Karena
kupikir candaan seperti ini takkan berlangsung lama. Maksudku, waktu itu kita
adalah teman—orang yang biasa menghabiskan waktu untuk bermain bersama. Kau tau
lebih dari maksudku, benar begitu?
Sesudahnya kita
membisu. Mungkin kau canggung, tapi aku juga. Mungkin kau bingung, aku pun
begitu. Mungkin kau menyesal? Maaf, tapi aku tidak. Bukan karena apa, hanya
saja, ada sedikit getir kebahagiaan waktu kau mengatakannya.
"Boleh
pinjam tanganmu?" Dan tanpa persetujuan lebih dulu kau genggam aku.
Membawaku berlari ke ujung dermaga.
“Mau apa? Nanti kita basah lagi!” Aku berteriak, mencoba
mengelak dari ajakanmu yang tiba-tiba. Kupikir waktu itu kau berubah menjadi
tuli, tak mau dengarkan kata-kata protes yang kulontarkan dan tetap menarikku
melewati pergantian senja di pantai Glagah. Harus kuakui, indah.
Sangat indah. Tak tau harus dengan apa aku menjelaskan betapa menakjubkannya
pemandangan kala itu.
Dua.
Hujan tak jua turun, walau bulan ini merupakan waktu untuknya. Mungkin kemarau sedang lembur sehingga ia memakan lebih
banyak waktu ketimbang biasanya. Atau hujanlah yang lupa memasang alarm sebagai
tanda pengingat bahwa telah tiba saat dimana ia harus turun menyapa bumi. Tapi
yang jelas usai penat mengerjakan setumpuk soal di meja
ulangan kau memberanikan
diri untuk melangkah ke depan kelas. Woro-woro kalau bahasa kami.
“Setelah ini ke Waduk Sermo yuk? Satu kelas. Pendinginan
otak ceritanya, bagaimana?”
Tanpa basa-basi semuanya mengangguk dengan cepat, bahkan
lebih seperti gerak reflek dibanding sebuah jawaban. Kau hebat, bisa membuat
mereka disekelilingmu setuju hanya dalam hitungan detik. Maka berangkatlah
kita, pasukan berseragam putih abu-abu dari desa. Masa
bodoh dengan orang-orang yang mengatakan tempat ini tak seberapa dibanding
bidang lain di pusat kota Jogja. Nyatanya disinilah kita tinggal, di Barat Jogja, Kulon Progo.
Hampir senja. Waduk Sermo nampak
bercahaya, memantulkan semburat
jingga ke arah perbukitan Menoreh di belakangnya. Kawan-kawan kita nampak
bahagia, seperti lupa bahwa nilai mereka bahkan belum dikoreksi. Tak tau, ada
berapa banyak coretan pula yang menanti lembar-lembar jawaban kami.
Saat yang lain memilih untuk mengabadikan pemandangan
sekitar dengan acara jepret sana jepret sini, aku lebih memilih diam melihatnya.
Menikmati apa yang bisa aku nikmati untuk saat ini. Karena tak lama lagi kami
akan memasuki babak yang lebih tinggi. Naik ke kelas tiga, persiapan ujian, dan
seleksi masuk PTN. Apa lagi? Artinya kesempatan-kesempatan serupa main bersama akan
sulit dijumpai, atau malah teramat sulit. Tapi bagaimanapun, kehidupan harus
terus berjalan.
Tak lama kudengar suara geraman motor dari kejauhan, dan
tak butuh berlama-lama untuk menyadari bahwa itu adalah kau, lengkap dengan
para sohibmu yang bagai prajurit setia. Kendaraan roda duamu kau hentikan di
dekatku, dengan lebih dulu tersenyum kau tunjukkan gagang pancing di tangan
kirimu.
“Bisa mancing? Maksudku memancing ikan, bukan aku.”
“Hahaha, iya.”
“Mancing di sana bagaimana?”
Aku melirik, melihat sudut yang kau maksud barusan. Aku
lupa kenapa, tapi aku mengangguk setuju. Kita berjalan seakan menepi dari hiruk
pikuk dunia, hanya berdua. Dengan alasan memancing kita berhasil duduk bersama
dalam waktu yang cukup lama. Bahkan kita berbincang banyak tentang berbagai
macam hal. Mulai dari jatah sarapanmu yang dimakan kucing, contekan yang kau buat
semalam suntuk untuk ulangan yang malah tak keluar satu nomorpun, hingga akan
kemana kau setelah lulus nanti. Aku tak banyak menanggapi, mungkin akan lebih
tepat kalau kuakui diriku mulai gugup ketika berada di dekatmu. Perasaan ini
salah! Aku sadar, tapi tak dapat mengelak.
“Mau pasang umpan?”
“Boleh.”
“Tapi umpannya cacing.”
“Tidak masalah,” kataku. Kuraih pancing dari tangannya
untuk kemudian kupasangi dengan cacing kecil yang terus menggeliat tanpa henti.
Ia diam, mengamati.
“Perempuan biasanya takut dengan cacing. Ah, takut atau
jijik ya? Entahlah, tapi serupa.”
“Aku suka memancing. Biasanya bapak mengajakku,” kataku
berterus terang. Karena memang benar, bapak yang kebetulan memiliki hobi
mancing sering sekali mengajak anak-anaknya. Bahkan meskipun ibu sering marah
karena kami suka lupa waktu dan pulang larut, bapak tak pernah jera mengajak kami
ke berbagai tempat untuk memancing.
Kau mengangguk-anggukkan kepalanya seakan paham betul
dengan maksudku.
“Berarti kemampuan memancingmu sudah tidak diragukan
lagi. Hm, benar sekali. Bahkan kau berhasil memancingku.”
“Gombal!” kataku setengah berteriak.
“Tidak. Aku sungguh-sungguh! Lihat? Pancingnya nyangkut
di pakaianku.” Ia menunjuk lengan kananannya yang sedikit robek. Kami tertawa
bersama, menyadari betapa gilanya kejadian tersebut.
“Nanti aku jahitkan.” Pintaku sebagai penebus rasa
bersalah. Juga, kalau boleh jujur aku merasa sedikit malu dengan ke-GR-anku
tadi. Tapi kau hanya mengangguk. Lantas dengan fokus
itu kau menatapku, sorot mata yang mampu membuat dadaku berasa tak karuan. Kau
bertanya, "Boleh pinjam pundakmu?"
Aku tak bisa menolaknya sehingga kutemukan diriku
mengangguk sedikit kaku, dan kau dengan santai bersandar disana.
Tiga.
Di akhir kelulusan, untuk terakhir kalinya kita bermain bersama sebagai
keluarga kelas dua belas. Setelah ini, kehidupan seperti apa yang akan kami
lalui? Bahkan gambaran-gambaran masa mendatang tak dapat kuterawang setelah
tiba disebuah tempat bernama Kalibiru.
Bukan
senja, melainkan selepas subuh semua anak kau suruh naik. "Biar lebih seru," katamu. Entah
kenapa hampir setengahnya tak sesuai yang dibayangkan. Kami lelah bukan main
karena melakukan perjalanan panjang nan mendaki. Bahkan masing-masing dari kami
bisa menghabiskan sekitar tiga-empat botol air mineral.
Terlepas.
Semua keluh kesah itu hilang. Liuk indah waduk sermo dibingkai dengan
perbukitan menoreh penyebabnya. Dari atas sini rasanya seperti jadi yang paling
tinggi. Dapat gapai apapun yang terlihat, termasuk waduk sermo yang kita
kunjungi waktu silam. Ia
terlihat lebih jelas dan elok dari kejauhan.
Kau
menarikku, menaiki sebuah spot pohon pinus yang lumayan tinggi. Kakiku
gemetaran, takut kalau sewaktu-waktu tergelincir. Tapi genggaman itu dipererat,
dengan sebuah senyum sebagai pelengkap.
"Kita
berhasil!" Aku berseru
saat mencapai puncak.
"Hahaha, selamat!" sambutmu.
Sunyi
lagi, netra kita memfokuskan diri pada cahaya keemasan yang berasal dari Timur.
Dan sekarang hari mulai terang.
"Boleh
aku pinjam ... bibirmu?"
Mataku
membelalak lebar, sementara mulut ini bungkam. Aku tak percaya kau akan
mengatakan hal demikian.
"Lima tahun lagi, kita
bersua di tempat ini. Dan aku janji, akan mengembalikan semua yang telah
kupinjam darimu."
Aku
dengan mudah
percaya, lalu mengangguk. Selanjutnya kita saling mendekatkan
diri. Saat itu, untuk pertama kalinya bibir kami saling bersentuhan. Sekejap
rasa hangat menjelma dan lama-kelamaan menjadi panas. Mukaku sudah berubah jadi
merah padam. Lalu kau malah tertawa tanpa dosa.
Semuanya
berlalu begitu cepat bukan?
Lima tahun bahkan tak terasa, bagai kulalui beberapa hari saja. Selepas
pengumuman kita berpamitan. Kau di Jakarta dan aku di Jogja. Bukanlah jarak
yang terlalu jauh. Juga kudengar kau masih sering bolak-balik kemari. Tapi
nyatanya kita tak pernah bertemu barang sepenggal. Tugas-tugas perkuliahan yang
makin menumpuk membuatku sibuk. Aku tak bisa terus membalas pesan darimu,
sedang kudapati pesan pada kotak masukku berkurang tiap harinya. Hingga suatu
saat hilang tak dapat kubaca.
Namun, hari ini aku memutuskan untuk datang. Cuap-cuap
dengan teman SMA agar merasa lebih muda. Aku ragu kau akan berada di sini saat
ini. Jadi, aku melangkah asal-asalan. Mengamati tiap jengkal perubahan yang
terjadi. Sekarang tempat ini ramai pengunjung, dengan mayoritas anak muda
kekinian yang ingin berfoto dan mengunggahnya ke sosmed. Tak masalah, karena
toh memang masanya.
Hanya saja ketika belum genap langkahku
berpijak,
aku berhenti melihat kau berdiri
bersama seorang lagi. Bersurai panjang dan tinggi, ia seperti model di tv. Kalian potong garis distansi yang semula menghalangi, hingga makin
dekat dan lebih dekat lagi.
Aku
pikir aku mulai mengerti sekarang. Aku berbalik, tepat ketika sebuah suara
menyerukan namaku.
"Ayu!"
Aku bergeming. Membalikkan tubuhku beberapa derajat, lalu
memberikan simpul terbaikku pada kalian. Dan semua yang kau pinjam dariku di barat
Jogja, akan ku ikhlaskan saja.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar